Pilot Citilink Pingsan Saat Terbang

0
1469
Citilink (Foto : http://indo-aviation.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pilot Citilink Kapten Eddy Suroso yang menerbangkan pesawat dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Bandara Kualanamu Medan, mengalami pingsan. Mengingat kondisi kesehatan pilot Eddy tak memungkin, Kopilot Kapten M.Luthfi meminta ijin untuk pengalihan pendaratan.

“Berdasarkan data penerbangan diketahui pesawat Citilink QG 142 terbang sesuai jadwal pada pukul 08.25 WIB atau 01.25 UTC, Senin (30/3). Pesawat diterbangkan pilot Kapten Eddy Suroso didampingi Kopilot Kapten M.Luthfi beserta empat awak kabin,” papar Duty Manager Citilink Herman Mamma seperti dilansir laman Republika.co.id, Rabu (1/4/2015).

Dijelaskan, pukul 09.20 WIB Kopilot Lutfi melaporkan ke Bandara Soekarno Hatta dan Halim Perdanakusuma bahwa pesawat meminta pengalihan pendaratan. Sebab, pilot Eddy pingsan dalam penerbangan itu.

Setelah berkoordinasi dengan Operational Control Center diputuskan pesawat kembali ke bandara asal. Tim Citilink di Halim segera melakukan koordinasi dengan otoritas bandara dan mempersiapkan evakuasi penyelamatan pilot.

Pesawat yang dikemudikan Kopilot Lutfi berhasil mendarat dengan mulus. Ambulans langsung membawa Eddy ke RS. TNI AU Esnawan Antariksa di Jakarta Timur. Dalam perjalanan ke rumah sakit disebutkan pilot dalam kondisi sadar namun terlihat lemas.

“Pilot Eddy langsung ditangani dokter di ruang UGD. Ia sudah bisa berkomunikasi namun masih sangat lemas. Kemudian keluarga yang datang memutuskan merujuk ke RS. Premier dan dikabarkan Eddy pingsan karena gejala jantung,” jelasnya.

Akhirnya penumpang yang tertunda penerbangannya bisa kembali melanjutkan perjalanan dengan penggantian seluruh awak kabin. Dengan pesawat yang sama pilot digantikan oleh Kapten Agus Setyomuhardjo dan Kopilot Diegos Ferras. Pesawat berangkat kembali ke Bandara Kualanamu pukul 14.10 dari Halim Perdanakusuma.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menjelaskan kasus pilot pesawat Citilink pingsan saat terbang, harus menjadi pelajaran bagi pilot untuk memahami tubuhnya sendiri. Pilot tidak boleh memaksakan kondisi dirinya. Terlebih pilot bertanggung jawab atas keselamatan para penumpang. “Semua bisa saja di luar kendali. Jadi pilot harus memahami tubuhnya sendiri,” katanya.

Jika pilot memang merasa kurang sehat, sambung Alvin, disarankan untuk tidak berangkat terbang. Sebab terkadang mereka mengabaikan kondisi kesehatan saat itu. Entah itu kelelahan atau sekadar pusing ringan. “Pasalnya, kondisi itu yang bisa merasakan adalah sang pilot sendiri. Ukur daya tahan tubuh masing-masing. Disarankan tetap berpacu pada maksimum penerbangan yaitu sembilan jam sehari, 30 jam seminggu, 100 jam sebulan, dan 1000 jam setahun,” jelasnya.

Sebab, kuantitas penerbangan juga mempengaruhi kondisi pilot saat bertugas. Jadi, ini semua berada dalam kendali pilot yang bisa menilai tubuhnya sendiri, sambungnya. ****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here