PHRI: Pariwisata Harus Jadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi Daerah

0
516
Wisatawan asing berwisata di Danau Linouw Tomohon Suut (Foto: Blog Ronny Buol - WordPress.com)

MAKASSAR, bisniswisata.co.id: Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan (Sulsel), Anggiat Sinaga, menyatakan sektor pariwisata harus menjadi atensi pemerintah dalam mendorong perekonomian daerah. Musababnya, sektor tersebut berpotensi menyumbang pemasukan daerah yang cukup besar.

“Pariwisata mestinya menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah. Potensi tersebut harusnya disambut oleh (pemerintah) daerah sebagai peluang bisnis,” kata Anggiat di Makassar, Rabu (18/1/2017). Untuk menggairahkan sektor pariwisata, kata dia, diperlukan peran-serta seluruh pihak, khususnya pemerintah dalam memberikan stimulus melalui kebijakan strategis.

Menurut Anggiat, pengembangan pariwisata daerah tidak melulu pada objek wisata. Keragaman kuliner yang khas, lanjut dia, juga merupakan modal strategis. Contohnya Kota Palopo yang identik dengan komoditas sagu dan durian. Keragaman tersebut, menurutnya, harus dioptimalkan dengan mengolahnya menjadi kuliner yang memiliki nilai tambah.

Dalam Rakerda PHRI Sulsel di Palopo, Februari mendatang, Anggiat mengimbuhkan pihaknya akan menunjukkan ke pemerintah daerah terkait cara pengolahan kuliner khas yang memiliki nilai tambah. Sagu akan diolah menjadi pasta dan durian akan diracik menjadi es krim dan pancake. “Kami kreasikan makanan khas itu sehingga bernilai tambah dan menjual dari segi bisnisnya,” tutur dia.

Rakerda PHRI Sulsel di Palopo, Anggiat menegaskan tidak sekadar sebagai seremoni evaluasi kinerja. Pihaknya memilih untuk langsung berinovasi dengan berupaya menggerakkan sektor pariwisata daerah. Anggiat menyebut pihaknya akan menemui pimpinan daerah untuk ikut menstimulus pariwisata daerah yang diyakininya bisa menggerakkan UKM.

Menurut Anggiat, salah satu kelemahan dari pengembangan sektor pariwisata yakni Sumber Daya Manusia (SDM). Karena itu, PHRI siap berkontribusi dengan memberikan pelatihan ke daerah-daerah guna mendorong pariwisata. “Khususnya dalam era MEA ini, SDM menjadi sangat penting,” ucap pria yang juga menjabat selaku General Manager Hotel Clarion Makassar ini.

Memasuki 2017, Anggiat sangat berharap pemerintah mengambil kebijakan strategis untuk menggairahkan sektor pariwisata, termasuk bisnis perhotelan. Diketahui, tingkat okupansi hotel pada 2016 cuma berkisar 58 persen dari total 13.500 kamar di Sulsel. Diprediksinya, tingkat okupansi hotel pada 2017 akan stagnan lantaran perekonomian sedang lesu.

Anggiat menyebut peluang untuk menggairahkan sektor pariwisata tetap terbuka bila pemerintah memperbanyak kegiatan berskala besar, menggencarkan promosi wisata dan memberikan stimulus kepada event organizer atau pelaksana kegiatan. (*/WEO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.