PHRI Optimis Semester II 2016, Okupansi Hotel Lebih Baik

0
637

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) meyakini tingkat hunian hotel di Indonesia, mulai membaik pada semester kedua tahun 2016, terutama bila pelaksanaan tax amnesty benar-benar sesuai harapan. Tingkat keterisian atau okupansi hotel 2016 pasti lebih baik dibandingkan 2015. Pasalnya, okupansi tahun lalu terganggu regulasi pemerintah yang membatasi aktivitas lembaga pemerintahan di hotel.

“Semula PHRI memproyeksikan peningkatan okupansi tahun ini tetap tidak akan sebaik 2014 sebab terpapar dampak pelemahan ekonomi global dan domestik. Akan tetapi, kini dengan adanya kabar baik tax amnesty, ada harapan okupansi tahun ini akan lebih baik dibandingkan 2014,” papar Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani seperti dilansir laman bisnis.com, Selasa (19/06/2017).

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), lanjut dia, okupansi hotel seluruh Indonesia pada kuartal pertama lalu mencapai sekitar 55%. Ini sudah lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 47% hingga 50%.

Tahun 2014, okupansi hotel secara nasional berada di kisaran 65%. Tahun ini, dengan adanya pengampunan pajak, rata-rata okupansi bisa sedikit di atas 2014, atau mencapai 65% hingga 70%. “Hampir pasti okupansi hotel akan di atas 65%, mungkin bisa sampai 70%. Di atas 70% mungkin tidak, sebab di semester satu tahun ini kita masih lebih rendah,” ungkapnya.

Hariyadi mengatakan, pemangkasan anggaran dalam APBN-P 2016 tentu memiliki pengaruh juga terhadap penurunan okupansi. Akan tetapi, PHRI menilai dampaknya tidak akan terlalu signifikan, mengingat anggaran belanja di daerah relatif tidak terganggu.

Pengaruh pemangkasan APBN tidak lebih besar dibandingkan kebijakan pelarangan penyelenggaraan kegiataan lembaga pemerintahan di hotel seperti yang diberlakukan pada awal tahun lalu. “Daerah tetap punya otonomi untuk tentukan anggaran, sehingga pengaruhnya tidak sebesar 2015. Di daerah tetap banyak kegiatan. Pasar pemerintahan daerah itu besar sekali kontribusinya untuk hotel,” katanya.

Saat ini, tantangan utama industri hotel adalah semakin banyaknya pemain baru yang terjun ke bisnis hotel tanpa sungguh memahami situasi pasar. Padahal, saat ini industri hotel masih dibayang-bayangi kelebihan pasokan. Saat ini, jumlah hotel berbintang di seluruh Indonesia menurut data PHRI mencapai 270.500 unit dan masih akan bertambah 58.000 unit tahun ini. Bila ditambah hotel non-bintang, total hotel bisa mencapai 550.000 unit.

Selama bulan Ramadan lalu, PHRI bekerjasama dengan Citilink melalui penjualan paket tiket dan hotel dengan destinasi 20 kota dan 20.000 room night. Paket ini terutama ditujukan bagi wisatawan asing. Hal ini untuk memacu keterisian kamar sebab di bulan Ramadan biasanya kamar relatif sepi dari penyewa domestik. Meski begitu, PHRI belum menyampaikan data terkini terkait realisasi trobosan tersebut.

Di sisi lain, konsultan properti PT Colliers International Indonesia mencatat, meski kamar relatif sepi, bisnis hotel mendapat banyak permintaan terhadap ruang pertemuan dan restoran, terutama untuk kegiatan buka puasa bersama dari korporasi.

President Director & CEO PT Intiwhiz International Moedjianto S. Tjahjono mengatakan, prospek bisnis hotel sejatinya tetap menjanjikan secara jangka panjang, meski kini dibayangi isu kelebihan pasokan. Tahun ini ada harapan baru bagi industri hotel Tanah Air seiring perbaikan kondisi perekonomian. Selanjutnya, tergantung strategi dan inovasi tiap pengelola hotel untuk menarik pasar.

Intiwhiz sendiri menargetkan dapat mengoperasikan lima hotel lagi tahun ini setelah Grand Whiz Poins Square, Jakarta Selatan, pada akhir Juni lalu. Intiwhiz kini telah mengoperasikan 16 hotel dan ditargetkan meningkat menjadi 38 hotel pada 2018. “Saya tahu kondisi ekonomi sulit, tetapi tetap tergantung market mana yang dibidik, lokasi dan posisinya. Lima tahun kami berbisnis hotel trennya sejauh ini selalu naik,” katanya. (*/BIO)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.