PHRI: Dampak Erupsi Gunung Agung Lebih Parah dari Bom Bali

0
205
Turis asal Inggris berenang dengan latar belakang Gunung Agung di sebuah vila di Bukit Patal, Desa Kikian, Sidemen, Karangasem, (Foto: Miftahuddin Halim/Radar Bali)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) Hariyadi Sukamdani menyebutkan pemesanan hotel (reservasi) di Bali turun drastis akibat erupsi Gunung Agung. Tragisnya, penurunan pemesanan hotel akibat Gunung Agung lebih parah, dibandingkan penurunan pemesanan hotel akibat bom Bali.

“Yang jelas di Bali (pemesanan hotel) cukup memprihatinkan. Dan jauh lebih berat dibandingkan bom Bali,” ungkap Hariyadi di Jakarta, Senin (11/12/2017).

Seperti dilansir laman Kompas.com, pengusaha yang juga merangkap sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia ini menuturkan, penurunan tersebut lebih disebabkan oleh penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.

Menurut dia, penutupan bandara tersebut sangat mempengaruhi minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali yang mana imbasnya juga kepada hotel. “Kalau ditutup itu problem banget. Karena tidak gampang untuk meyakinkan wisatawan asing, mereka kan mau nyari aman, tetapi Gunung Agung tidak bisa diprediksikan. Dan ini sangat menyulitkan bagi teman-teman di Bali,” jelas dia.

Meski demikian, Hariyadi belum mengatahui berapa nilai penurunan pemesanan akibat erupsi Gunung Agung. Sebab, pihaknya belum mendapat laporan secara rinci dari pengusaha hotel di Bali terkait jumlah penurunan pemesanan. “Masih belum tahu persis, karena masih buka tutup. Ya di bawah 50 persen bisa. Kalau buka tutup repot kalau orang masuk,” pungkas dia.

Disisi lain, Ketua PHRI menolak tegas penggunaan hotel digunakan untuk bisnis lainnya seperti pusat griya pijat. Para pengusaha perhotelan hendaknya menggunakan hotel sebagaimana fungsinya, yakni untuk tempat peristirahatan dan tempat penginapan. “Kami tentunya enggak setuju ya hotel dipake bisnis yang aneh-aneh. Kami selalu bilang ke anggota (PHRI) jangan bikin bisnis yang aneh-aneh di luar bisnis hotel,” lontarnya.

Pengusaha yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini mengatakan, pihak lain juga jangan langsung menuduh bahwa terdapat hotel digunakan untuk bisnis lain.

Menurut dia, perlu ada bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa ada hotel yang digunakan untuk bisnis lain. “Harusnya dibuktikan dulu, memang benar apa enggak. Sampai sekarang kan belum terbukti tuh kayak gimana buktinya, tetapi malah langsung dicabut izinnya enggak di-confirm,” kata dia.

Hal itu diungkapkan oleh Haryadi menanggapi langkah Pemprof DKI jakarta yang menutup Hotel Alexis pada 31 Oktober 2017. Hotel tersebut ditutup karena disinyalir digunakan untuk kegiatan pusat griya pijat. (KMP)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.