Petualangan Murah, Mewah Dan Wah Di Avatar Hallelujah Mountain, Wulingyuan

0
1196

 Area Southern Sky Column yang kini bernama Avatar Hallelujah Mountain, Wulingyuan

ZHANGJIAJIE, Cina, test.test.bisniswisata.co.id: Seperti biasa sebelum tiba di hotel saat malam telah menjelang, Makmum, tour leader TX Travel mengingatkan kembali nama Avatar Hallelujah Mountain, Wulingyuan yang akan kami kunjungi besok pagi.

“Jangan lupa pakai sepatu yang nyaman dan alas datar karena perjalanan dihari keempat tour akan sangat menyita energi. Kita harus banyak jalan kaki tapi akan terbayar dengan pemandangan yang indah,” ungkapnya mengingatkan.

Wulingyuan  memang menyimpan pesona yang mengagumkan dan menginspirasi sutradara ternama James Cameron membuat film 3 D Avatar yang menyajikan Planet Pandora sebagai surga para Avatar setelah melihat gugusan bukit batu karst di Wulingyan Scenic  Area,  masih di kawasan Taman Nasional Zhangjiajie, di Provinsi Hunan.

Tak heran kalau setahun kemudian film itu menjadi salah satu film box office yang laris di dunia karena latar belakang yang fantastis di mana banyak terdapat pulau-pulau melayang yang sangat cantik. Pihak Taman Nasional Zhangjiajiepun mengakui kalau kawasan itu menjadi inspirasi Cameron dalam membangun dunia di film Avatar.

Bahkan area yang dulunya bernama Southern Sky Column kini telah resmi berganti nama menjadi Avatar Hallelujah Mountain untuk mengingatkan masyarakat dunia adegan kejar-kejaran pemain utama Jake Sully dan pacarnya, Zoe Saldana, naik naga terbang dengan kecepatan tinggi di antara perbukitan melayang yang sangat menawan itu.

Lamunan Avatar segera berganti dengan kekaguman melihat lobby hotel Country Garden Phoenix  Zhangjiajie yang megah dengan dome penuh lukisan . Kami mendapatkan akomodasi baru setelah dua kali menginap di Vienna Hotel dan semalam dihotel Feng Ting,  kota tua Fenghuang.

Murah, Mewah, Wah

Saya bersama Anton Thedy berlatar belakang Three Girls Pinnacles
Saya bersama Anton Thedy berlatar belakang Three Girls Pinnacles

Jam menunjukkan pukul 7.30 pagi ketika bus wisata kami meninggalkan halaman hotel Country Garden Phoenix, sebuah resort hotel  yang menyatu dengan perumahan atau villa-villa akhir pekan bagi warga setempat. Akiong, tour leader lokal memulai pagi ini dengan menanyakan  bagaimana rasanya menikmati hotel mewah itu ?

“Kalau sudah menikmati keindahan dan kenyamanan hotel bisa membuktikan paket      wisata murah, mewah dan wah ini kan ? entah berapa ribu yuan yang harus dibayar bos TX Travel ini supaya bisa menginap di hotel ini,” katanya setengah berpromosi.

Tiga kata yang diucapkan Akiong, “Murah, Mewah dan Wah” justru mengundang saya melihat ke lembaran kertas berisi sinopsis tempat-tempat yang akan kami kunjungi hari itu. Selain turis wajib mengunjungi outlet –outlet yang sudah ditetapkan pemerintah Cina untuk memajukan industri UMKM, tertera juga naik Bailong lift,  Yangjiajie serta Tianzi Mountain dengan pegunungan Avatarnya.

Baoshutang, adalah outlet wajib yang dikunjungi setelah tiba di kota Wulingyan, kota kecil yang cantik setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dari hotel. Outlet itu terkenal dengan obat-obatan herbalnya terutama  Bau Fu Ling yang terkenal dengan obat luka bakarnya.

Setelah kunjungan wajib bus langsung menuju Tianzi Mountain dan sesampainya di kaki gunung, kita bisa melanjutkan ke tempat shuttle bis dengan jalan kaki atau naik kereta listrik mini. Beragamnya usia anggota rombongan mulai dari usia Amak asal Bangka yang berusia 78 tahun hingga para gadis Inez, Ellis, Finny yang berusia 20 tahunan membuat pilihan jatuh untuk naik kereta listrik.

Untunglah cuaca bersahabat meski nampak mendung dan kami tiba di gerbang kawasan Wulingyuan Scenic Area dengan pemeriksaan tiket masuk canggih sekali, tidak cukup tiket diperiksa tapi sidik jari diambil dengan cara menempelkan ibu jari ke alat pemindai. Tiket terusan yang bisa dipakai untuk dua hari keluar masuk kawasan makanya harus dipindai sidik jari agar tiket nya tidak bisa dipakai orang lain.

Di atas kereta mini berwarna putih sejauh mata memandang adalah pilar batu ber saf-saf yang dinamakan Ten Miles Art Gallery. Disebut demikian  karena sepanjang perjalanan  di kiri jalan terlihat aneka pilar raksasa dari batu karst yang bukan saja tinggi bisa mencapai 200- 400 meter tapi juga seakan kita melihat aneka bentuk manusia atau hewan. Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan pengunjung yang berjalan kaki karena jalur rel kereta memang  berdampingan dengan jalur pejalan kaki yang hanya dibatasi pagar.

Saya sendiri langsung sibuk menunjuk sebuah bentuk mirip kepala seorang kakek dengan topi dari kejauhan. Uniknya atap kereta juga sebagian besar terbuat kaca sehingga cukup mendongakkan kepala juga sudah terlihat pegunungan batu yang indah itu.

Tak berapa lama kemudian kami tiba di pelataran yang luas dan tampak puncak gunung runcing-runcing yang cantik sekali. Bentuk yang paling menarik adalah Three Sisters Pinnacles atau tiga pilar batu raksasa yang berderet mirip sekali manusia atau tiga bersaudara. Yang satu seperti menggendong anak di punggung, sedangkan yang kedua dan ketiga seperti bentuk perempuan hamil.

Turun dari kereta listrik, ada sejumlah toko souvenir, makanan dan minuman terutama Ice Cream yang menggoda namun pemandangan indah di depan mata membuat anggota rombongan kami jadi latah sibuk berpose dan tak tanggung-tanggung ada yang bergaya bak seorang model dengan latar belakang Three Sisters Pinnacles.

Apalagi banyak tukang foto yang menawarkan untuk menuangkan foto yang diabadikan ke kalender 2016 atau media lainnya. “Aduh keren banget buat foto pre wedding nih tidak ada pasangan ayo selfie saja banyak-banyak dan buat video,” kata Karina, teman sekamar selama tour.

Anton Thedy, bos Travel TX yang mendampingi grup tour kami juga sibuk melayani permintaan foto bersama. Sambil foto-foto dia mengingatkan untuk menghirup sebanyak mungkin udara segar yang bisa kita nikmati karena mengandung ion negatif yang tinggi sangat baik untuk kesehatan tubuh dan terbukti mampu menghentikan atau membunuh bakteri, virus, kuman sehingga tubuh jadi semakin sehat dan kuat

“Ion negatif di udara dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan dan pori-pori kulit. Ayo banyak-banyak menghirup udara segar mumpung ada di sini,” ujarnya mengingatkan.

Sayang waktu yang terbatas tidak memungkinkan saya menghayati dan menikmati keindahan alam yang luar biasa tersebut. Idealnya perlu duduk beberapa lama untuk menikmati panorama sambil tadabur alam, bukan sekedar berfoto ria untuk menunjukkan kita pernah berwisata di tempat ini.

Manfaat Tadabur alam antara lain akan membersihkan diri dan jiwa kita dari energi-energi negatif yang mungkin telah bersemayam di hati kita. Bisa membuat kita semakin meningkatkan rasa syukur kita atas nikmat dan anugrah Allah SWT melalui keindahan alam.

Jika kita berada ditengah-tengah alam yang maha luas maka akan semakin merasa kecil diri ini, sehingga sedikit akan mengurangi kesombongan kita. Tadabur alam juga murah, mewah dan wah apalagi ditengah udara yang berlimpah dengan ion negatif..

Bailong Lift (kiri) dan pemandangan dari kaca luar lift
  Bailong Lift (kiri) dan pemandangan dari kaca luar lift

Bailong Lift

Kami melanjutkan perjalanan dengan shuttle bus menuju Bailong Lift, melalui jalan yang menanjak dan berbelok-belok namun bus ngebut melewati hutan cukup lebat, tepi sungai-sungai berbatu dengan airnya yang jernih hingga akhirnya tiba di sebuah bangunan yang menempel tebing tinggi bertuliskan Bailong Lift.

Turun dari bus memang bukit batu Tianzi dengan lift yang megah itu yang langsung tertangkap mata dan membuat mulut saya melongo mendengar informasi kami akan makan siang di atas sana. Bagaimana bisa ada restoran di atas sana ? waktu membangun infrastruktur lift dan berbagai fasilitas disana ?,  bagaimana cara membawa bahan bangunannya ?.

Berbagai pertanyaan berkecamuk saat melihat dari kejauhan tiga elevator lift wisata berjalan paralel dan setiap lift konon dapat membawa 50 penumpang setiap waktu dan kecepatan 3 meter/ detik. Jika tiga elevator berjalan secara simultan, jumlah penumpang sekali jalan akan mencapai 4.000 orang per jam.

“Murah, Mewah dan Wah banget kita bisa mengalami makan diatas bukit batu seperti di Film Avatar ini,” kata Jeanne Cynthia Lay mengagetkan saya yang masih melongo berdiri disebelahnya. Biasa naik elevator lift di perkantoran yang berkisar 20-30 lantai jika di tanah air,  maka naik lift yang satu ini terlihat ekstrim menempel di atas tebing.

.Rupanya lift  baru membawa kami tiba di pemberhentian pertama yaitu Yangjiajie view dimana bukit-bukit batu yang menjulang seperti menara-menara itu benar-benar di depan mata dan banyak .pedagang souvenir dan jasa juru dan cetak foto tersedia di sini.

Bukit karst yang bisa dinikmati dari balik kaca lift.
Bukit karst yang bisa dinikmati dari balik kaca lift.

Alam yang sangat cantik menawan, bentangan beberapa puncak perbukitan karst yang menjulang dan berderet seperti tiada putusnya diselimuti oleh kehijauan tumbuhan. Setelah itu kami  berjalan di lorong-lorong yang  lembab dan lantai yang licin karena air menetes dari langit-langitnya untuk naik lift dengan ketinggian 326 meter.

Menyadari akan masuk ke dalam lift ekstrim yang saya lihat tadi, membuat suasana jadi mencekam apalagi dalam sekian detik hanya melihat dinding gelap sehingga akhirnya ketika elevator lift muncul ke permukaan dengan pemandangan alam semua penumpang lift spontan berteriak girang dan mulai merasakan menyatu dengan alam..

Lift ekstrim yang diklaim tertinggi di dunia dan masuk Guiness Book of Record tahun 2013 ini berdinding kaca sehingga  membuat kita merasa langsung berada diantara lembah dan bukit. Tak perlu panjat tebing dengan cara manual merayap dengan tali-temali dan membuang energi. Lift ini merupakan jalan pintas sehingga para wisatawan bisa menikmati semua keindahan dalam sekali jalan.

Keluar lift kami masih naik beberapa anak tangga dan muncul di sebuah pelataran yang luas dimana banyak pedagang buah potong seperti melon, semangka dan jajanan kaki lima termasuk jagung rebus, sosis goreng, martabak ala Cina dan banyak makanan lainnya.

Rupanya restoran yang kami tuju jaraknya masik beberapa kilometer lagi dan harus ditempuh dengan berjalan kaki.Ada dua trek jalur dibatasi pagar supaya arus lalu lintas manusia yang demikian padat di atas Yiangjiajie View ini tidak saling bertabrakan.

Hari Minggu tempat ini dipadati turis lokal dan mancanegara terutama kulit coklat  dari Korea, Taiwan, Hongkong dan dari Indonesia tentunya.. Hanya ada dua turis berkulit putih yang bisa dilihat sepanjang perjalanan ini. Perut yang lapar dan rasa lelah yang menyergap membuat jalan saya mulai terseok-seok.

“Ayo bunda jalan terus sini aku bawakan tas ranselnya,” ungkap Anny Wiliani, Direktur TX Travel Cabang Muara Karang, Jakarta yang menjadi  teman seperjalanan. Untunglah ketika energi sudah terkuras kami keluar dari jalur trek dan menemukan banyak pedagang buah dan makanan lagi. Saya memilih mengganjal  perut dengan potongan buah semangka yang dijual dalam gelas plastik dan diberi tusukan sate.

Kembali saya musti melongo lagi karena di atas bisa melihat bus dan mobil dan barulah paham jalur pendakian naik lift hanyalah cara pintas. Pemerintah setempat menyediakan jalur pendakian yang beragam meliputi kereta gantung, naik kendaraan atau jalur trekking yang bisa membuat para wisatawan menginap selama berhari-hari.

Puluhan ribu pengunjung yang datang tiap hari tidak memungkinkan untuk membiarkan turis menginap. Selain daya dukung alam juga jumlah sampah yang dihasilkan di area tersebut justru bisa merusak lingkungan.. Dengan adanya Lift Bailong ini, para wisatawan tidak perlu berlama-lama di area wisata itu, cukup sehari bisa langsung pulang.

Dari Anton Thedy saya mendapat informasi bahwa perjalanan kami sehari sebelumnya ke Tianmen Shan dengan kereta gantung tidak bisa melayani sekitar 20.000 pengunjung yang sudah datang ke stasiun cable car sehingga mereka terpaksa pulang dan mencoba keberuntungan di hari berikutnya.

“Alhamdulilah rombongan kita semua tergolong anak saleh sehingga alam semesta berpihak pada kita meskipun ada gerimis-gerimis dan cuaca yang tidak menentu kita masih terus bisa melanjutkan program tour,” ujarnya.

Setelah istirahat sejenak perjalanan bersama rombongan dilanjutkan lagi, kali ini tepi jalan yang dikelilingi hutan. Ingin rasanya menyetop kendaraan yang liwat untuk menumpang atau pakai ojek untuk sampai tujuan. Namun akhirnya terus semangat bersaing dengan anak-anak muda seumuran anak-anakku sendiri untuk tiba di restoran.

Sebuah lahan datar yang luas tampak terlihat untuk area parkir, toilet dan restoran tentunya.Ada beberapa pilihan untuk restoran termasuk ayam goreng cepat saji KFC dengan tulisan aksara Cina. Untung foto sang colonel sudah mendunia jadi turis muslim akan paham ayam makanan halal. Tapi cara masaknya dengan minyak apa ? .

Kami menuju lantai dua dan menikmati Chinese food lagi. Inshaa allah makanan halal karena sudah dipesan dan diwanti-wanti sebelumnya bahwa peserta tidak makan babi. Saya percaya penuh saja pada TX travel karena pastinya sudah ada kerjasama membawa wisatawan secara tetap ke restoran itu dan ada panduan untuk tidak menggabungkan alat masak.

Jeanne Cynthia Lay, peserta tour rehat sejenak sambil menikmati keindahan alam
Jeanne Cynthia Lay, peserta tour rehat sejenak sambil menikmati keindahan alam

Avatar Hallelujah Mountain

Tantangan setelah makan adalah kembali mengikuti  rute jalan ketika datang atau berbelok melihat gugusan gunung karst Avatar Hallelujah Mountain. Anny Wiliani kembali menyemangati untuk ikut berbelok melewati jalan setapak di dalam hutan melewati anak tangga turun naik bahkan macet karena banyaknya turis yang datang .

Bukit lancip seolah melayang di Film Avatar akhirnya benar-benar saya saksikan sendiri. Sepertinya mengerti akan kebutuhan turis, pemda setempat juga menyiapkan tempat pemandangan di beberapa lokasi strategis sehingga keindahan pegunungan Avatar  tersebut dapat dinikmati dari beberapa sudut. Akibatnya hampir di tiap tikungan banyak yang berhenti untuk berfoto ria.

Tiba di Avatar Hallelujah Mountain
Tiba di Avatar Hallelujah Mountain

Kengerian sempat muncul di atas jembatan besi karena banyaknya orang yang berada diatasnya dan tidak ada yang sekedar melintas karena menjadi spot pemandangan luar biasa. Jika kita melongok ke bawah nampak pepohonan di dasar bukit ratusan meter  terlihat jelas..

Berjalan menyusuri tempat pemandangan dari satu titik tempat ke lainnya sangat menyehatkan. Tangga curam yang naik dan turun sejauh beberapa kilometer sungguh memberikan tantangan tersendiri sehingga kerap saya siasati untuk numpang duduk di lapak pedagang.

Penduduk lokal memanfaatkan kunjungan wisatawan ini untuk berjualan minuman, makanan, ice cream dan mbuah-buahan. Saya juga sempat berhenti di depan penjual timun seperti timun Jepang dikupas dengan cepat dan pembeli biasa makan sambil jalan. Soalnya kalau berhenti dan terjadi penumpukan jadi runyam karena kita berjalan di bibir tebing.

Saya tidak sempat berfikir lebih jauh daripada mengundang rasa khawatir  dan memilih untuk menikmati saja perjalanan ini mengikuti panduan Akiong dan tahu-tahu kami sudah tiba di jalur trek untuk naik lift lagi kembali turun. Selain tidak memegang peta rute jalan yang kami lalui, semua papan petunjuk yang ada umumnya bertuliskan aksara Cina.

Tadabur alam, uji nyali dan uji ketahanan fisik baru saja lalui dengan selamat sehingga saya buru-buru mengungkapkan terima kasih pada Allah SWT. Apalagi hari sudah menunjukkan pukul empat sore waktunya untuk sholat Ashar cukup dengan tayamum dan duduk kearah kiblat dengan bantuan aplikasi HP.

Toilet yang ada meski bangunannya mewah tapi tidak ada kran air dalam setiap kabin WC, jadi guyuran otomatis muncul setelah seseorang selesai buang hajat. Kalau tidak terpaksa memang sebaiknya tidak menggunakan toilet umum di obyek wisata bahkan di dalam gedung-gedung restoran karena selain tidak tahan antrian dan baunya juga menghabiskan waktu.

Alhamdulilah perjalanan turun dengan lift tergolong lancar karena ada jalur VIP yang bisa dilalui mengalahkan antrian panjang yang ada. Saat tiba di bawah dan menunggu shuttle bus, teman-teman serombongan juga sudah paham cara mengatasi para “penyusup” atau turis lokal yang sering nyelonong tidak mau antri padahal semua sudah dibatasi jalur pagar. Alhasil kami bisa masuk dalam satu bus dan kembali melewati jalur berkelok-kelok.

Pertunjukan kesenian Hunan
Pertunjukan kesenian Hunan

Perjalanan hari keempat tour malam hari di kota kecil Wulingyan belum berakhir karena sebagian peserta memillih kembali ke hotel dan saya sendiri bersama 13 an anggota rombongan lainnya masih mengikuti atraksi kesenian Hunan. Optional tour ini ternyata memiliki open air teater dan panggung pertunjukkan di dalam gedung dan keduanya mampu menampung puluhan ribu penonton.

Melihat banyaknya penonton saja sudah membuat saya terkesima apalagi menonton pertunjukkan tarian dari suku-suku yang berada di provinsi Hunan seperti Miao, Tujia Dong, Yao Orang dan lain-lain. Meski tidak memahami alur cerita tapi saya bisa menikmati kostum para pemain yang meriah dan tata panggung yang dengan cepat bisa menggambarkan suasana pedesaan, gunung, sungai dengan teknik lampu dan laser yang menaik.

Menjelang tengah malam barulah perjalanan yang melelahkan ini berakhir dan dalam kamar hotel ternyata mata tidak bisa langsung terpejam. Dunia kita penuh dengan keindahan yang tak terlukiskan dari alam. Sebagian besar dari kita mungkin tidak akan pernah melihat segala sesuatu yang ditawarkan dunia jika tidak berani memotivasi diri, keluar dari zona nyaman dan benar-benar menikmati kebesaran Tuhan.

Ucapan Akiong,  Murah, Mewah dan Wah tadi pagi ternyata bermakna mendalam buat saya. Mendapatkan peluang menghirup ion negatif sebanyak-banyaknya dan tadabur alam sepanjang perjalanan apa bukan wisata yang Murah ?, bisa naik gunung pakai lift di atas bukit Avatar dan duduk direstoran tertinggi di dunia apa bukan sesuatu yang Mewah ? mendapat pengalaman beragam dan mempelajari manajemen traffic ribuan orang dalam satu area apa bukan sesuatu yang Wah ? (Hilda Ansariah Sabri).

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.