Perjalanan Panjang Kampung Batik Laweyan

0
1023
Batik Tulis (Foto: Antarafoto)

SOLO, bisniswisata.co.id: Kota Solo salah satu destinasi wajib disambangi. Selain bertabur wisata budaya, kuliner, sejarah, Solo juga terkenal dengan kerajinan batiknya. Pusat batik paling top di Solo adalah Pasar Klewer. Tak tanggung-tanggung, pasar tradisional ini diklaim sebagai sentra batik terbesar se-Asia Tenggara.

Padahal, batik Solo bukan lahir di Pasar Klewer, melainkan di Kampung Batik Laweyan. Kampung ini mempunyai sejarah panjang bagi Kota Solo dan bangsa Indonesia dalam melahirkan batik yang menarik.

Kampung Batik Laweyan ada di Jalan Doktor Radjiman No 521, Laweyan, Solo. Kampung tua yang eksotis, kini menjadi ikon wisata heritage dan konon sudah beroperasi sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546 M.

Geliatnya di era modern dimulai tahun 1912. Kala itu, Solo berdiri sebuah asosiasi dagang pertama di nusantara yang diinisiasi salah satu pahlawan kemerdekaan, Samanhudi. Ia bersama para saudagar batik pribumi membangun Syarekat Dagang Islam (SDI).

Soedarmono dalam buku Mbok Mase, Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20 menjelaskan, kejayaan Laweyan sebagai kampung batik bisa dilihat dari banyaknya motif batik khas yang kemudian dikenal sebagai motif batik Solo.

Beberapa yang dikenal masyarakat adalah motif batik Parang Kusumo, Parang Kembang, Parang Rusak, Parang Barong, Truntum, Srikaton, Satrio Manah, Wahyu Jati, dan Tejo Kusumo.

Sayangnya, Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL), Alpha Fabela Priyatmono mengisahkan, seiring perkembangan zaman dan pesatnya kemajuan teknologi, sekitar tahun 1970 masa keemasan industri batik Laweyan terkikis akibat masuknya teknologi batik printing (cetak) dari China. Berbeda dengan batik cap dan batik tulis, teknologi printing berorientasi pada produksi massal.

Lewat teknologi ini, ratusan kodi kain batik bisa diproduksi setiap hari. Di sisi lain, batik cap hanya bisa dibuat sebanyak 20 kodi sampai 30 kodi sehari. Produksi batik tulis lebih lambat lagi, membutuhkan waktu dua bulan sampai empat bulan untuk menyelesaikan selembar kain batik tulis.

Akibat merebaknya batik printing dari China tersebut, menurut Alpha, selama hampir 30 tahun, yakni dari tahun 1970 sampai tahun 2000, kampung Laweyan tak ubahnya menjadi kampung mati suri, karena tak ada kegiatan membatik lagi.

“Kami mengalami kesulitan dana, tak ada regenerasi, karena hampir tidak ada anak-anak yang melanjutkan usaha batik milik orang tuanya,” ujar Alpha.

Akibat kondisi tersebut, kampung Laweyan hanya menyisakan masa kejayaan para saudagar batik pribumi tempo dulu, lorong-lorong sempit dengan tembok tinggi yang kusam, rumah-rumah tua tradisional gaya Jawa, Eropa (Indisch), China dan Islam.

Kembali Bergeliat

Teringat kejayaan masa lalu, kalangan muda Laweyan berinisiatif untuk membangkitkan kembali masa keemasan daerah mereka dengan konsep pariwisata. Dengan konsep ini, Laweyan tak hanya menawarkan batik namun juga wisata heritage.

Salah satu pengusaha batik di Laweyan yang masih bertahan, Muhammad Gunawan menuturkan bagaimana dirinya dan beberapa pengusaha lainnya bersusah payah mencari talangan dana. Sampai-sampai harus mengagunkan sertifikat rumah ke bank agar mendapatkan dana untuk memulai produksi batik.

“Kita berbagi tugas, beberapa pengusaha menyiapkan produksi, sementara untuk heritage kawasan kami tawarkan ke Pemerintah Kota Solo. Empat tahun kemudian Pemerintah Kota Solo di bawah Wali Kota Jokowi merespons konsep wisata heritage yang kami tawarkan,” kata Gunawan.

Pemerintah Kota Solo pun memberikan dukungannya dengan mengucurkan dana Rp200 miliar untuk melakukan konservasi terhadap 30 rumah kuno yang memiliki nilai sejarah dan penataan lingkungan.

Kementerian Negara Perumahan Rakyat pun turun tangan dengan menghibahkan dana sekitar Rp600 juta untuk membantu proses konservasi.

Pemkot Solo pada tahun 2004 juga mencanangkan Laweyan sebagai kampung batik, dengan memberikan payung hukum terhadap karya cipta batik. Saat ini sebanyak 215 motif batik dari Laweyan sudah dipatenkan.

Dengan kondisi tersebut, Kampung Laweyan pun kembali menggeliat. Biro-biro perjalanan berdatangan untuk menjalin kerja sama dengan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.

Wisatawan, baik lokal maupun asing, datang ke kampung Laweyan bukan sekadar belanja batik, namun juga melihat proses pembuatan batik sekaligus belajar membatik secara langsung. (*/OTO)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.