Perajin Manik-manik Kalimantan Barat makin Langka

0
6971
Kerajinan maniik Kalbar (foto: yoechua.blogspot.com)

PONTIANAK, test.test.bisniswisata.co.id: Aksesori manik-manik khas suku Dayak bukan hanya sekedar pemanis belaka. Manik-manik yang umumnya terdiri dari warna hitam, kuning, hijau, merah, biru, dan putih ini mengandung makna dan filosofi tradisional yang bernilai tinggi. Selain sebagai penolak bala, manik-manik khas suku Dayak juga merupakan simbol status mereka yang mengenakannya.

Seiring peradaban, manik-manik khas suku Dayak menjadi warisan budaya yang laris di pasaran. Tak dapat dimungkiri bahwa manik-manik khas suku Dayak memang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Bentuknya yang cantik dengan warna cerah, sangat menarik perhatian wisatawan, terutama wanita, untuk dikenakan sebagai pelengkap penampilan.

Kini, manik-manik tak hanya lagi dijumpai dalam bentuk topi, kalung atau busana adat suku Dayak. Manik-manik ini juga hadir dalam koleksi kunci, dompet, hingga tempat pensil. Manik-manik ini umumnya juga disusun dalam berbagai bentuk motif khas Dayak. Pengerjaanya yang menggunakan tangan langsung menuntut ketelitian dan kesabaran perajin khas Dayak.

Sayangnya, jumlah peminat dan perajin manik khas Kalimantan Barat tak seimbang. Hal ini diungkapkan oleh Lilis yang merupaan istri dari Ketua Dewan Kesenian Kalimantan Barat, Yohanes Palaunsoeka, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai regenerasi perajin manik-manik khas Dayak di Kalimantan.

Kurangnya perajin manik, kata Lilis, merupakan penyebab lebih banyak manik motif Kalimantan Tengah ketimbang Kalimantan Barat. “Padahal untuk satu syal manik yang dikerjakan selama satu setengah hari dapat dijual dengan harga Rp 170.000,” ujar Ibu Lilis yang juga dikenal sebagai maestro perajin manik-manik di Kalimantan Barat.

Segala upaya sudah dilakukan Ibu Lilis, seperti memberikan pelatihan dan promosi agar orang-orang tertarik belajar menguntai manik-manik. Pelatihan yang diselenggarakan Lilis bahkan tidak memerlukan biaya alias gratis. Syaratnya, Lilis mewajibkan peserta untuk membawa bahan manik-manik sendiri.

Namun hasilnya nihil, tak ada yang datang untuk belajar. Di acara Gawai Dayak, perhelatan akbar kebudayaan Dayak, Lilis juga kerap menjadi juri kreativitas memanik. “Kini makin miris, hanya ada enam orang yang ikut perlombaan manik-manik,” ucapnya prihatin seperti diunduh laman Kompas.com, Senin (24/08/2015).

Mengenai minat dan daya jual manik khas Kalimantan Barat yang tinggi dibenarkan oleh Munawar, seorang pemilik toko cinderamata di Jalan Patimura, Kalimantan Barat. Munawar mengatakan bahwa yang mengincar dan ingin membeli aksesori manik-manik khas Dayak.

Seorang pembeli syal manik khas Dayak, Resti berkata, “Ini dikenakan dengan kaus putih polos saja sudah bagus,” ujar Resti sambil menunjukkan fotonya dengan syal manik. Harga kalung khas Dayak dengan untaian manik cantik dibanderol mulai dari Rp 250.000 di toko Munawar.

Manik-manik khas Dayak, kata Munawar, banyak digemari oleh wisatawan asing. Selain itu, mereka juga sangat menghargai hasil kerajinan lokal lainnya. Kondisi ini berarti, peminat dan pembeli aksesori khas Dayak sangat menjanjikan. Namun, sayang, tidak diikuti dengan jumlah perajin yang banyak pula. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.