Pengembangan Wisata Labuan Bajo Belum Maksimal

0
1107
Terumbu karang (Foto: scubamike.net/)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) belum maksimal. Mengingat, sebagian besar wilayah Labuan Bajo dikuasai s‎wasta. Selain itu ditemukan beberapa masalah yang perlu ditangani serius dan selama ini dibiarkan oleh pemerintah pusat. Padahal, kawasan ini menjadi destinasi utama pariwisata yang akan dikembangkan pemerintah.

“Jangan sampai pengembangan pariwisata yang didanai dengan anggaran sangat besar, ternyata berakhir dengan kondisi yang semrawut ke depannya. Karena itu berbagai permasalahan yang muncul harus segera diantisipasi dengan serius,” papar Tenaga Ahli Bidang Regional Planning Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Bambang Susantono
pada acara Focus Group Discusion tentang Pariwisata Labuan Bajo, di Kantor Kemenko Maritim dan Sumber Daya, Jakarta Pusat, Kamis (23/6/2016).

Bambang menjelaskan masalah yang terdapat di Labuan Bajo, diantaranya sistem tiket wisata yang tidak terintegrasi. Biasanya, tiket terpilah menjadi beberapa lokasi dengan tempo hanya 1 hari. “Kita menemukan di Labuan Bajo sistem tiketing itu bermacam-macam. Karena tiket untuk diving, mereka cenderung tiketnya pola harian. Dive tidak pernah sehari, minimum 3 hari,” ungkap Bambang

Masalah lain yang perlu ditangani, lanjut Bambang, ditemukan banyaknya pemandu selam asing atau diving guide serta operator asing yang menguasai diving di kawasan yang masuk 10 destinasi wisata unggulan. Parahnya, pemandu tersebut tidak terdaftar alias ilegal atau non regulated.

“Kita mengharapkan Menteri Pariwisata melakukan pembenahan, juga Dirjen Imigrasi harus tangan melakukan penertiban dengan warga asing yang banyak menguasai lokasi diving di Labuhan Bajo, ya harus diperiksa visanya apakah wisatawan atau bekerja juga ijin lama tinggalnya harus diketahui secara pasti. Kalau lokasi diving dikuasi asing, bagaiamana anak bangsa ini mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dari diving,” ungkapnya

Diakuinya, Labuan Bajo kini menjadi kota yang berkembang terlihat dari jumlah hunian yang meningkat. Namun, hal itu mesti menjadi perhatian karena pemukiman tumbuh di wilayah perbukitan yang terjal. ‎”‎Saat ini, tidak ada sistem pengaturan perkotaan. Mengapa? Rencana detil tata ruang nggak ada, RDTR. Ini juga temuan kami yang harus segera diantiasipasi.,” ungkap dia.

Selain itu, lanjut Bambang, infrastruktur mesti menjadi perhatian dalam ‎pengembangan wisata Labuan Bajo. Salah satu yang terpenting ialah ketersediaan air minum yang saat ini masih minim. “Di sisi penyediaan infrastruktur penyediaan air minum kurang. Untuk mencapai 500 ribu wisman per tahun perlu sistem air minum yang baik,” tandas dia.

Disinggung soal Peraturan Presiden (Perpres) Badan Otorita Labuhan Bajo ditargetkan terbit pada September 2016, Bambang menjelaskan Perpresnya masih menunggu ‎koordinasi antara Kementerian dengan Pemerintah Daerah, yang saat ini sudah jalan. “Hanya, untuk sampai ke Prepres tunggu 1 step berikutnya. Kami berharap dalam 2-3 bulan ini sudah selesai,” harapnya.

Bambang mengaku, saat ini wisata lokal sudah banyak yang antri datang ke wisata Labuhan Bajo. Namun, wisatawan dari luar daerah masih minim, karena kendala transportasi yang memakan waktu cukup lama, karena harus melalui jalur darat atau melalui Bandara Ngurah Rai International Airport. “Seharusnya kita bisa melalui Manado, Su‎rabaya, ‎dan daerah lain, sehingga bisa membuat jaringan wisata. Jadi, kita perlu komodo itu tidak hanya terbatas,” tambahnya.

Menurutnya, beberapa wisata yang berada di Labuhan Bajo, banyak yang perlu untuk diperbaiki dalam meningkatkan jumlah wisatawan. Sehingga, tidak berharap hanya satu tempat wisata saja. “Kami justru sadar sistem wisata di Pulau Komo‎do agak berbeda dengan daerah lain, bahwa pembangunan wisata di sana harus di awali berbasis kepada perlindungan yang tinggi,” ujarnya.

Bambang mengungkapkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) di Labuan Bajo mencapai 91.000 per tahun dan diprediksi akan meningkat menjadi 500.000 wisman usai adanya pengembangan destinasi. “Kami sudah membuat akumulasi ternyata uang yang bergerak saat ini Rp600 miliar per tahun‎. Pantesan lebih 15 hotel baik sudah ada di sana, hotel dan resort,” tambahnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.