Penerimaan Devisa Pariwisata Indonesia Kalah dari Malaysia & Thailand

0
1582
wisman naik becak

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: POTENSI pariwisata Indonesia memang luar biasa, sangat prospektif untuk dijual ke wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Sayangnya, Industri Pariwisata Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara tetangga di ASEAN. Bahkan, penerimaan devisa Indonesia dari sektor pariwisata masih kalah dibandingkan Malaysia dan Thailand.

“Terbukti, sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) dari sektor pariwisata saat ini cuma 9 persen. Jumlah ini sangat rendah. Malaysia sudah mencapai 15 persen, apalagi Thailand mencapai 20 persen. Jadi, Penerimaan devisa pariwisata Indonesia hanya separuh dari Malaysia dan seperempatnya Thailand,” ungkap Menteri Pariwisata Arief Yahya, pada Kompas CEO Forum di Jakarta Convention Center, Kamis, (25/11/2015).

Dilanjutkan, emotional kompetitor Indonesia itu Malaysia. Sementara profesional kompetitor Indonesia adalah Thailand. “Pendapatan devisa kita kalah dengan Malaysia dan Thailand. Indonesia hanya USD11 miliar, bandingkan Malaysia USD20 miliar, dan Thailand USD40 miliar,” paparnya.

Ini menunjukkan pembangunan industri pariwisata di Indonesia belum dilakukan dengan bailk. Meskipun peringkat pariwisata Indonesia pada tahun 2015 sudah meningkat dari peringkat 70 ke 50, namun masih banyak yang perlu dibenahi dari industri pariwisata Indonesia. “Kelemahan kita itu infrastruktur paling lemah. Tetapi, keunggulan kita adalah kompetitif dari sisi harga. Dua tahun pertama kompetitor kita adalah Malaysia, dua tahun berikutnya adalah Thailand,” papar mantan Dirut Telkom.

Arief menjelaskan kebijakan bebas visa juga masih kalah dibandingkan negara tetangga. Malaysia memberlakukan bebas visa ke 164 negara dan Thailand 56 negara. “Kalau tidak pakai bebas visa, (target kedatangan wisatawan) 20 juta tidak akan tercapai. Bebas visa itu minimal bisa menghasilkan pertumbuhan 29 persen dari yang baru yaitu 69 persen. Jadi, 10 persen pertumbuhan di sketor pariwisata itu dari bebas visa,” terang Arief.

Pada 2019, Kementerian Pariwisata menargetkan sektor pariwisata dapat menyumbang 15 persen dari total PDB atau setara dengan capaian sektor pariwisata Malaysia saat ini. Nah, untuk mencapai target ini, kebijakan bebas visa dianggap menjadi syarat mutlak yang harus segera dikeluarkan oleh pemerintah. Pasalnya, pendapatan non-visa sangat besar dibandingkan dengan pendapat visa.

“Kita dapat USD35 miliar dari visa, tapi pendapatan dari wisman (wisatawan mancanegara) bisa mencapai USD1.200 (per orang). Tanpa adanya bebas visa target 20 juta wisatawan akan sulit dicapai,” pungkasnya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.