Pemerintah daerah agar konsisten dalam tanggal penyelenggaraan festival seni dan budaya di daerahnya

0
1166
Permainan bambu gila, salah satu pertunjukkan rakyat tertua khas Maluku Utara yang bersifat ritual. Mencerminkan sifat kegotong royongan dan ciri keseharian rakyat setempat. Pertunjukan ini muncul pada Festival Legu Gam di Maluku Utara.( foto: Campa Tour)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Biro perjalanan wisata mengharapkan pemerintah daerah dan penyelenggara beragam festival seni dan budaya konsisten dalam melaksanakan kegiatan sehingga para pelaku bisnis maupun masyarakat pecinta wisata dapat menjadwalkan rencana perjalanan dengan baik, kata Ari Hendra Lukmana, travel expert PT Campa Tour & Travel.

“Indonesia kaya seni dan budaya dan tiap tahun Kementrian Pariwisata mengeluarkan buku berisi festival seni dan budaya di berbagai daerah sepanjang tahun atau disebut Calender of Event 2015. Sejak Januari 2015 sudah banyak beragam festival seni dan budaya yang digelar di berbagai daera, namun kelemahannya adalah tanggal penyelenggaraan setiap tahun bisa berubah-ubah,” jelasnya.

Provinsi yang terdekat dengan ibukota negara seperti Provinsi Banten, misalnya, sudah mencanangkan beragam festival di daerahnya seperti penyelenggaraan Festival Film Indonesia tahun 2015, Seba Baduy,Banten Beach Festival, Gebyar Wisata Banten, Banten Beach Festival, Ci Sungsang, Festival Cisadane, Festival Panjang Mulud, Festival Kuliner, Lomba Foto Pariwisata, Offroad Adventure. Namun tanggal kepastian pelaksanaannya belum di sosialisasikan dengan baik.

Menurut Ari, bagi para pelaku bisnis jasa wisata, tidak konsistennya tanggal penyelenggaraan yang berlangsung tiap tahun cukup menyulitkan dalam memasarkannya. Hal ini  karena pembuatan paket tour untuk menyaksikan festival-festival terkait dengan industri penerbangan, transportasi, perhotelan dan lainnya,” ungkapnya.

Dia mengakui meski adanya perubahan tanggal penyelenggaraan tersebut namun pihaknya tetap memasarkan  terutama festival yang berada di kawasan Indonesia Timur seperti Festival Ternate dan Tidore (Legu Gam), Festival Pasola di Sumba atau Festival Melasti, Bali.

“Diawali dari antusias masyarakat menghadiri  acara Sail Bunaken, Sail Raja Ampat dan Sail Manado, minat untuk menghadiri festival-festival di daerah dalam 5 tahun terakhir mulai tumbuh apalagi dengan kesuksesan penyelenggaraan Jember Fashion Carnival yang gaungnya sudah mendunia.

Ari  mengatakan jumlah wisatawan domestik untuk hadir di festival di berbagai daerah itu per event bisa mencapai ratusan orang minimal 200 orang dan festival yang paling ramai tentunya adalah yang wilayahnya cukup mudah dijangkai seperti Java Jazz Festival, Jakarta yang baru lalu, Jazz Bromo atau Dieng Culture Festival.

“Meski tanggal masih berubah-ubah, masyarakat tetap tertarik hadir di festival di daerah timur atau di suku asli seperti Festival Lembah Baliem maupun Festival Toraja. Oleh karena itu pemerintah daerah harus konsisten dalam hal tanggal pelaksanaan dan sosialisasinya,” ungkapnya.

Dia mengakui ada sejumlah pemerintah daerah yang sudah sering membuat fam trip dengan mengundang biro perjalanan lokal, maupun travel blogger, sepert Belitung timur, Anambas, Jailolo dan beberapa daerah lain. Namun pemerintah daerah lainnya belum menjadikan industri wisata seperti travel  biro bahkan pers sebagai mitranya untuk memasarkan festival maupun destinasi-destinasi di daerahnya masing-masing. Tidak heran kalau banyak destinasi demikian keindahan alam yang belum banyak diketahui.

Menyinggung eksistensi Campa Tour & Travel, perusahaan yang berdiri sejak Maret 2014 di Jakarta ini memang fokus pada perjalanan untuk menjelajahi kekayaan sejarah, budaya, dan alam indah di Nusantara. Pihaknya mengemas setiap perjalanan menjadi sebuah pengalaman berharga bagi peserta. Mereka berinteraksi kuat dengan masyarakat lokal sambil  belajar sejarah dan kearifan lokal masyarakat adat.

“ Kami lebih mengusung konsep travel for a cause yang memberikan sebuah jawaban kepada wisatawan mengenai mengapa mereka berwisata. Intinya adalah berwisata merupakan aktualisasi diri seseorang untuk lebih mengenal alam dan tempat yang baru mereka datangi,” tegasnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.