Pembatik Pesisir Jakarta Utara Mati Suri

0
823
Pembatik bati Pesisir

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: ‎ Para pembatik pesisir di Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa) Marunda, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, sudah setahun terakhir dalam kondisi mati suri, tak berkembang sama sekali. Padahal, keberadaanya digagas Pemkot Jakarta Utara, untuk memfasilitasi ekonomi kreatif di tempat relokasi warga korban penertiban bangunan di pinggir kali Marunda, ternyata sekarang berjalan tanpa arah.

“Setahun terakhir ini, kita tidak bisa memproduksi batik pesisir. Saat pertama didirikan, perhatian dari pemerintah masih tinggi, namun kini kita dibiarkan begitu saja terlantar seperti ini,” keluh Maya (41), salah satu koordinator Kelompok Usaha Batik (KUB) Marunda, Jumat (16/10/2015).

Warga Rusunawa Marunda, Cluster B, Blok 6, Lantai 4 Nomor 10, RT14/RW07 melanjutkan kini minat ibu-ibu rumah tangga, yang mengerjakan batik sudah tidak setinggi dulu yang dalam sekali pelatihan bisa diikuti hingga 100 warga, namun saat ini hanya 25 orang saja yang aktif mengikuti pelatihan.

“Banyak ibu-ibu yang mundur setelah keberadaan Workshop tidak berjalan. Mereka berpikir logis dengan modal sendiri belum tentu produk yang mereka buat bisa diterima oleh pasar luar,” sambung Maya.

Dari 25 warga yang masih mengikuti pelatihan di galeri Batik Pesisir, yang ada di tempat parkir sepeda motor Rusunawa Marunda, Cluster C, Blok C3 masih belum memiliki alat dan tempat untuk produksi seperti canting beserta pewarna, bahan kain, dan alat cap untuk membuat batik cap.

“Selain itu produk yang kita buat selama ini juga banyak yang tidak terserap dan malahan menganggur di galeri, kalaupun ada yang terjual, hal itu bisa terhadi hanya pada‎ saat ada event yang digelar pemerintah seperti Drekanasda, dan event sejenis lainnya,” tambahnya.

Hal serupa diungkapkan oleh ‎Siti Rogayah (45), warga Rusunawa Marunda, Cluster B, Blok 1 yang mengakui keberadaan usaha membatik sudah tidak berjalan sejak 8 bulan terakhir.
“Kita inikan sifatnya hanya merintis dan berupaya melanjutkan program pemerintah, tapi dengan kondisi tanpa dukungan baik berupa pemasaran‎ ataupun modal dasar, ya jelas kita mati suri,” kata Siti.

Perempuan korban gusuran dari bantaran Waduk Pluit itu mengaku sebelumnya mengandalkan nafkah pendapatan dari suaminya yang bekerja sebagai buruh bangunan proyek yang dipas-paskan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Karena ‎itu harapan kita menyala saat ada pemberdayaan dan pelatihan ketrampilan membatik, lumayan kan hasil penjualan batik bisa untuk menambah uang membeli kebutuhan sehari-hari dan membayar sewa bulanan rusun beserta air dan listriknya,” ungkap Siti.

Bahkan ia juga mengajarkan pelatihan pembatikan itu kepada anak keponakannya, Riska (17) yang sudah setahun terakhir putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan SMA. “Setelah produksi batik terhenti, saya buka usaha warung kopi dan indomie di parkiran rusun, lumayan juga untuk menambal utang selama ini yang tertutupi penjualan batik,” kata Siti.

‎Menanggapi hal tersebut, ‎Kepala Suku Dinas Perindustrian dan Energi (P&E) Jakarta Utara, Tuti Kurnia, menyatakan pihaknya sudah menyurati Dinas Perumahan dan Gedung Pemprov DKI perihal permintaan ruangan workshop bagi para perajin batik pesisir di Rusunawa Marunda.

“Kita sudah mendapat respon positif dari Kepala Dinas Perumahan, dan dalam waktu dekat keberadaan ruangan workshop beserta alat pendukungnya bisa terwujud dalam waktu dekat,” kata Tuti seperti dikutip laman Suarapembaruan.com.

Ia mengakui saat ini lokasi galeri yang digabung menjadi ruang produksi sangat tidak layak dan mendukung proses pelatihan maupun produksi, sehingga keberadaan ruang wokrshop sangat mendesak.

Sedangkan perihal distribusi produksi batik pesisir, Tuti menjelaskan pihaknya kerap memfasilitasi pemasaran produk para pengrajin di gerai Dekranas seperti di berbagai pusat perbelanjaan yang bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta.

Bahkan pada tahap pertama seluruh hasil produksi ibu-ibu Rusunawa Marunda langsung diborong oleh pecinta seni batik saat pameran. “Batik pesisir yang kita kembangkan di Rusunawa Marunda ini adalah batik tulis yang proses pengerjaannya memakan waktu lama namun hasil batik nya lebih halus dan variatif serta memiliki nilai seni yang tinggi,” ucapnya.

‎Seluruh produk hasil ciptaan para pengrajin juga sudah didaftarkan dalam hasil ciptaan dan kreasi (HAKI) di Kementrian Hukum dan HAM RI agar terlindungi “Sudah dua angkatan yang lulus dalam pelatihan selama beberapa bulan ini, dan kita harapkan pembinaan ketrampilan batik yang dipimpin oleh ibu Veronica selaku pembina Drekanas bisa mengangkat harkat dan kesejahteraan ibu-ibu rumah tangga di Rusunawa Marunda,” tutup Tuti. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.