Pasca Erupsi Gunung Agung, Turis Diminta Hindari Zona Bahaya

0
99
Gunung Agung Bali (Foto: http://indotrip.com/)

KARANGASEM BALI, bisniswisata.co.id: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengingatkan kepada warga, pendaki, dan wisatawan atau turis untuk tidak melakukan aktivitas apapun di zona perkiraan bahaya, yang mencakup seluruh area dalam radius empat kilometer dari kawah puncak Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, yang meletus dan mengeluarkan dentuman keras pada Minggu (12/5) malam pukul 22.29 WITA.

“Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak,” demikian peringatan dari laman resmi PVMBG, Senin (13/5/2019).

Gunung api dengan tingkat aktivitas Level III (Siaga) itu mengalami erupsi sejak 21 November 2017 dan pada 12 Mei 2019 mengalami satu gempa letusan, lima gempa hembusan, dua gempa tektonik jauh menurut PVMBG. Sementara petugas Pos Pantau Gunung Agung melaporkan adanya lontaran material pijar sejauh lebih kurang 3.000 meter mengarah ke barat dan barat laut.

PVMBG mengungkapkan, erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi sekitar 2 menit 16 detik dan terdengar suara dentuman di Pos Rendang. Meski demikian, saat erupsi, kolom abu Gunung Agung tidak teramati.

“Zona perkiraan bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gu Agung yang paling aktual/terbaru,” ungkap PVMBG.

Gunung Merapi

Di tempat terpisah, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami tujuh kali gempa guguran dalam enam jam pengamatan pada Senin (13/5) mulai pukul 00.00 WIB sampai 06.00 WIB.

Kepala BPPTKG Hanik Humaida dalam pernyataan resminya yang diterima Antara menyebutkan tujuh gempa guguran selama periode tersebut amplitudonya 4-21 mm dengan durasi 40-76 detik. Gunung api teraktif di Indonesia itu juga mengalami gempa tektonik jauh dengan amplitudo delapan mm selama 105 detik, meski tidak terlihat adanya guguran lava pijar yang meluncur dari Gunung Merapi.

BPPTKG menyebutkan, kawah gunung mengeluarkan asap putih tipis hingga sedang setinggi 20 meter di atas puncak kawah. Angin di gunung itu bertiup lemah ke arah barat dengan suhu udara berkisar 16.6-22 derajat Celsius, kelembaban udaranya 50-97 persen dan tekanan udara 568.5-709 mmHg.

Hingga saat ini BPPTKG mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II (Waspada) dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi, dan menyarankan warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan karena jarak luncur awan panas guguran makin jauh. (NDY)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.