Pasca Erupsi Gunung Agung, Bali Butuh Dana Promosi

0
350
Gunung Agung erupsi (Foto : reuters)

DENPASAR, Bisniswisata.co.id: Bali membutuhkan anggaran promosi pariwisata untuk pemulihan citra pariwisata, pasca erupsi Gunung Agung. Dana itu sangat dibutuhkan untuk melakukan promosi Bali ke luar negeri, sekaligus melakukan recovery wisatawan mancanegara agar mau ke Bali kembali

“Dulu ada Bom Bali, langsung ada anggaran Rp 750 miliar untuk promosi, untuk recovery. Sekarang gak ada. Kondisinya masih berlarut-larut,” kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Anak Agung Yuniarta Putra seperti dilansir laman Kompas.ocm, Selasa (12/12/2017).

Menurutnya, masyarakat Bali sangat bergantung kepada industri pariwisata. Bila sektor pariwisata tak cepat pulih, kehidupan ekonomi masyarakat Bali akan terganggu. “Untuk (pulihkan) pariwisata, ya promosi. Itu yang kita coba bagaimana menyakinkan wisman datang ke Bali. Gunung Agung itu dari Nusa Dua jauh (lokasinya). Itu yang coba yang kita gambarkan ke wisman,” katanya.

Ia mengaku berada dalam situasi yang berat. Situasi itu tak lain adalah erupsi Gunung Agung. “Kami butuh dari pemerintah pusat, dana promosi. Sekarang belum ada (dana) untuk kembalikan citra pariwisata Bali,” ujarnya.

Agung mengatakan dampak ekonomi yang dirasakan industri Bali yakni sekitar Rp 9 triliun. Hal itu senada dengan yang dinyatakan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Semenjak penutupan dan pembukaan kembali Bandara Ngurah Rai, jumlah wisman yang masuk ke Bali berkisar 3.000 – 9.000 per hari. Jumlah tersebut turun dari jumlah wisman yang biasa masuk ke Bali per hari yaitu 15.000 orang.

Ditempat terpisah, Country Director Agoda International Indonesia Gede Gunawan menilai meski masih banyak hotel menyatakan tingkat okupansi turun, namun wisman yang datang ke Pulau Dewata kembali bergerak masuk setelah Bandara I Gusti Ngurah Rai dibuka kembali mengalami kenaikan.

“Yang menggembirakan, pembatalan kedatangan ke Bali mulai menurun dan sebaliknya inbound naik sangat tajam pada tahap recovery. Jauh sudah lebih bagus [inbound], di mana seminggu setelah erupsi itu sempat minus. Artinya yang booking daripada cancel saat paska erupsi itu lebih sedikit, tetapi sekarang sudah recovery,” jelasnya dalam keterangan rertulis, Selasa (12/2/2017).

Dilanjutkan, statistik Agoda Indonesia untuk wisatawan dometik memang grafiknya masih menurun. Untungnya masih ditopang turis asing apalagi Bali sudah sangat dikenal di seluruh dunia sehingga memiliki nama besar, tetapi problem wisatawan yang akan datang adalah masalah ketakutan mereka.

“Problem Bali saat ini bukan persoalan harga dan promosi melainkan promosi secara digital. Setelah erupsi Gunung Agung, harus ada kepastian dan jaminan bagi wisatawan yang datang bisa kembali ke negaranya dengan aman,” lontarnya.

Diusulkan ada perbedaan penanganan kondisi Bali saat ini dibandingkan dengan metode ketika terjadi bom Bali 2002 dan 2004. Kondisi saat ini berbeda jauh. Ketika bom meledak di Pulau Dewata, maskapai masih tetap melayani penerbangan dengan normal, sedangkan sekarang terganggu karena status Gunung Agung.

“Jaminan yang sudah dilakukan kemarin itu sudah bagis tetapi belum maksimal, tetapi sporadis hotel dan travel sedikit demi sedikit berjalan. Kami mengusulkan harus ada satu orang in charge entah siapa dan mereka yang melakukan gerakan yang disepakati,” usulnya.

Selain itu, perlu mengkonter informasi ke luar negeri mengenai isu Gunung Agung. Sekarang ini,jika membuka google dengan kata kunci Gunung Agung,yang keluar pasti terkait isu meletus. Untuk mengkonter isu ini, perlu ahli promosi digital yang diandalkan. (BBS)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.