Pariwisata Jawa Barat, Kaya Obyek Miskin Kunjungan

1
550
Situ Bagendit (Foto: http://bandung.panduanwisata.id)

BANDUNG, Bisniswisata.co.id: Kurangnya sarana serta infrastruktur transportasi yang terintegrasi di Jawa Barat dan promosi yang kurang gencar dinilai sebagai penyebab kurangnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jawa Barat. Tahun 2017, ditargetkan sebanyak 1,2 juta wisman mengunjungi Jawa Barat.

Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar mengatakan dari 46,1 juta wisatawan yang mengunjungi berbagai obyek wisata di Jawa Barat pada 2016, hanya 1,1 juta di antaranya yang merupakan wisman.

“Jalan darat tidak ada masalah karena kita punya banyak ruas jalan tol juga. Yang masih jadi kendala adalah jalur laut dan udara, makanya dengan dibangunnya Bandara Internasional Jabar di Kertajati dan Pelabuhan Patimban di Subang juga bandara kecil di Pangandaran dan Sukabumi, 2019 Jabar harus jadi destinasi wisata terbesar,” kata Deddy.

Bandara dan pelabuhan, menurut Deddy, harus terintegrasi konektivitasnya dengan jalan tol dan jalan raya dengan baik. Dengan digabungkan bersama sarana transportasi umum yang konsisten secara waktu tempuh dan kapasitasnya, wisatawan mancanegara akan semakin tertarik dan nyaman mengunjungi Jawa Barat.

” Jawa Barat ini punya banyak sekali obyek wisata, potensinya sangat besar. Tinggal konektivitasnya, ditunjang dengan promosi gencar dan penawaran paket-paket wisata yang variatif, kita harus siap dengan ledakan jumlah wisatawan,” katanya seperti dilansir TribunJabar.com, Ahad (30/04/2017).

Selain ratusan obyek wisata di Jawa Barat yang selama ini selalu dikunjungi wisatawan, lanjut Deddy, Pemprov Jawa Barat tengah berupaya menjadikan Geopark Ciletuh di Sukabumi menjadi UNESCO Global Geopark. Selain promosi yang gencar, Ciletuh pun didorong untuk menjadi venue surfing pada Asian Games 2018.

Ketua Asita Jawa Barat, Budijanto Ardiansjah, mengatakan target 1,2 juta wisman pada 2017 bisa dicapai di antaranya melalui promosi yang gencar. Dia menilai tahun lalu Pemprov Jabar dinilai kurang gencar mempromosikan pariwisatanya.

Kurang gencarnya promosi, menurut Budijanto, terlihat dari tidak adanya obyek pariwisata Jawa Barat yang masuk pada 10 destinasi pariwisata baru Indonesia 2016.

Selain itu obyek wisata Jawa Barat tidak muncul dalam iklan-iklan yang ditayangkan dalam program Visit Indonesia tahun lalu. “Pada 2016, pertumbuhan pariwisata Jawa Barat sempat mandek dan baru pada pertengahan tahun meningkat. Dengan dukungan promosi oleh Pemprov Jabar, lobi yang baik dengan pemerintah pusat dan pihak lainnya, kita bisa sangat maju ke depannya,” katanya.

Pemerintah, lanjut Budijanto, didorong untuk menciptakan pariwisata yang berkualitas yakni pariwisata yang tidak hanya menimbulkan kemacetan di jalan raya, melainkan membuat para wisatawan menginap di hotel, berbelanja, makan di restoran, dan menggunakan transportasi umum.

“Belum tentu wisatawan yang bikin jalan macet itu menginap di hotel, belanja, mengunjungi obyek wisata, atau makan di restoran. Bisa saja mereka cuma ngongkrong. Inilah yang harus kita dorong, pariwisata yang berkualitas. Kita promosi ke daerah lain, mereka ke Bandung pakai pesawat, kemudian dipastikan menginap di hotel dan makan di restoran, selain mengunjungi obyek wisata dan belanja,” paparnya.

Budijanto menambahkan, jalanan macet dan transportasi umum yang kurang terintegrasi dan konsisten di Jawa Barat, terutama yang menuju obyek wisata, menjadi keluhan utama wisman. (*/TJO)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.