Pariwisata Jadi Solusi Ditengah Perlambatan Ekonomi Dunia

0
390
Wisman Naik Becak di Yogya

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves menilai pariwisata bisa menjadi solusi ditengah perlambatan ekonomi dunia, yang memakan waktu panjang. Perlambatan ini berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perdagangan Indonesia. Pariwisata salah satu cara meningkatkan penerimaan ekspor dalam jangka menengah.

“Bahkan, Pariwisata memiliki potensi membuka investasi swasta, memperkuat pertumbuhan inklusif, pertumbuhan lapangan kerja, serta memberi bimbingan bagi program investasi infrastruktur yang bertarget pada pengembangan tujuan wisata,” lontar Chaves dalam diskusi Indonesia Economic Quarterly Report 2016 di The Energy Building, SCBD Jakarta, Selasa (25/10/2016).

Dilanjutkan, Bank Dunia memproyeksikan di tengah ekonomi global yang masih tertekan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2016 masih bisa bertahan di level 5,1%. Tahun 2017 akan tumbuh 5,3%. Meski proyeksi angka tersebut positif, namun Bank Dunia berharap Indonesia dapat memaksimalkan sektor pariwisatanya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi.

Bank Dunia menyambut positif langkah pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengembangkan 10 tujuan wisata prioritas. Untuk mensukseskan rencana tersebut, diperlukan upaya di berbagai bidang. Pertama, membangun infrastruktur yang diperlukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan daya dukung tujuan wisata yang baru.

“Pemerintah Indonesia harus mempersiapkan rencana induk pariwisata terpadu untuk memberi panduan bagi pembangunan. Dan rencana harus dimanfaatkan untuk menjamin agar pembangunan wisata memperhatikan aspek ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Kedua, penyederhanaan perizinan. Revisi lebih lanjut terhadap Daftar Negatif Investasi (DNI), seperti fasilitas ekowisata, agen perjalanan, dan diperlukan adanya upaya promosi yang menarik investasi asing dan domestik untuk sektor ini.

Ketiga, pengembangan tujuan wisata membutuhkan kemampuan pelaksanaan dan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, instansi swasta, dan pemerintah pusat. Keempat rencana pembangunan tujuan wisata harus disesuaikan secara berkala dengan melihat dinamika pasar global, dalam negeri, dan aspek lokal atau kondisi setempat.

“Jadi rencana pembangunan tujuan wisata harus dsesuaikan secara berkala untuk dapat mencerminkan dinamika pasar global dan dalam negeri serta kondisi setempat.
Untuk itu, data mengenai pariwisata perlu lebih dikonsolidasikan dan dianalisa secara lebih sistematis untuk dapat melacak hasilnya. Kemudian memberi informasi mengenai potensi koreksi di tengah jalan,” harapnya.

Sementara Ndiame Diop, Practice Manager Bank Dunia untuk Makroekonomi dan Manajemen Fiskal di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik menambahkan pariwisata di Indonesia juga berpotensi membuka investasi swasta, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan ekspor, dan memandu investasi infrastruktur yang ditargetkan di daerah tujuan pariwisata. “Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan industri pariwisata kelas dunia,” kata Diop.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap ekonomi Indonesia juga harus didukung dengan infrastruktur penunjang seperti akses jalan dan transportasi. “Namun untuk menghasilkan tujuan industri pariwisata, perlu lebih banyak pembangunan infrastruktur, yang memerlukan koordinasi yang lebih baik antara instansi pemerintah dan sektor swasta,” lanjut Diop.

Kementerian Pariwisata juga telah menetapkan target untuk menarik US$ 10 miliar investasi swasta guna perkembangan 10 tujuan wisata pada tahun 2019. Menurut World Travel and Tourism Council, setiap US$ 1 juta yang dikeluarkan untuk melakukan perjalanan dan wisata di Indonesia akan menghasilkan 200 lapangan kerja. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here