Pariwisata Asia Dongkrak Ekonomi Kawasan

0
532
turis asing nikmati wisata sepeda du desa wisata Pentingsari Jateng

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Industri pariwisata regional Asia masih menjadi kekuatan potensial untuk mendongkrak ekonomi kawasan, setelah sejumlah negara mulai dari Jepang, China, dan India mendominasi peringkat di Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017.

Sektor perjalanan dan pariwisata di Asia mulai menunjukkan pengaruhnya dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Secara global, industri ini bahkan berkontribusi hingga 10% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2016.

Peringkat tiga besar diisi Spanyol, Prancis, dan Jerman akibat tingginya skor di kekayaan alam, budaya, infrastruktur yang memadai, serta pelayanan yang mengagumkan. Meski posisi sepuluh besar masih didominasi negara maju, 12 dari 15 negara dengan tingkat perbaikan paling besar merupakan negara berkembang dan berada di Asia.

Hong Kong naik dua poin ke peringkat 11, disusul China naik dua peringkat menjadi 15 besar, Korea Selatan naik 10 poin ke posisi 19, Malaysia masuk peringkat 30 besar dengan posisi 26, hingga India yang melesat 12 poin ke posisi 40 besar.

“Kebangkitan Asia membuktikan kawasan ini memiliki potensi. Untuk memanfaatkan peluang yang ada, maka negara-negara yang berada di dalamnya masih harus memperrbaiki sejumlah hal mulai dari meningkatkan tingkat keamanan, promosi, pembangunan infrastruktur, dan menciptakan kebijakan visa yang kuat,” kata Tiffany Misrahi, Community Lead of the Aviation, Travel and Tourism Industries, World Economic Forum, mengutip keterangan resminya, Senin (10/4/2017).

Dalam laporannya, TTCI 2017 juga menemukan bahwa kebijakan proteksionis yang dianut sebuah negara tidak akan menahan arus perjalanan internasional. Ketahanan industri pariwisata terletak pada upaya sektor ini dalam membangun jembatan antara manusia dengan kebijakan visa yang kuat guna meningkatkan keamanan serta memfasilitasi arus perjalanan.

“Saat ini, tingginya permintaan dari negara berkembang dan kedinamisan teknologi menjadi titik tolak pertumbuhan industri pariwisata yang sangat cepat,” tekan Roberto Crotti, Economist, World Economic Forum.

Menurutnya, kapasitas negara dalam merespons dan mendukung perubahan structural akan menentukan kesuksesan industri pariwisata.

Bagaimana peringkat Indonesia? ternyata berhasil melompat delapan poin dari peringkat 50 ke 42 dalam TTCI 2017. Melesatnya kenaikan peringkat dalam TTCI 2017, sejalan dengan komitmen pemerintah menjadikan pariwisata sebagai salah satu kontributor penyumbang devisa di Indonesia.

Setidaknya, terdapat 14 pilar yang digunakan untuk memberikan skor sebuah negara antara lain lingkungan bisnis, kebersihan dan kesehatan, keterbukaan internasional, perjalanan prioritas dan pariwisata, beberlanjutan lingkungan, infrastruktur trasportasi udara, infrastruktur darat dan laut, serta infrastruktur jasa pariwisata.

“Kenaikan peringkat ini membuktikan positioning Indonesia di mata internasional. Dari sekian banyak poin yang dinilai, ada dua hal yang harus menjadi perhatian besar bagi kalangan pelaku industri dan pemerintah yakni kebersihan dan kesehatan, serta keberlanjutan lingkungan,” kata Ketua Umum Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Asnawi Bahar.

Jika dirinci, peringkat untuk iklim bisnis naik 3 poin menjadi 60, keterbukaan internasional naik 38 poin menjadi 17, perjalanan prioritas dan pariwisata naik 3 poin, infrastruktur trasportasi udara naik 3 poin menjadi 36.

Sebaliknya, faktor kebersihan dan kesehatan hanya naik 1 poin dari 109 ke 108, dan keberlanjutan lingkungan masih berada di peringkat 131, setelah naik 3 poin. “Memang harus diakui bahwa pelayanan kesehatan di Indonesia belum tersebar secara merata sehingga ini menjadi titik lemah Indonesia. Pekerjaan rumah lainnya adalah memastikan beberapa endemik penyakit misalnya rabies, malaria, dan demam berdarah teratasi dengan baik,” ucapnya.

Pasalnya, Asnawi menyebutkan faktor utama yang menarik wisatawan internasional (wisman) berkunjung ke suatu negara antara lain kenyamanan, dan iklim wisata, selain tentunya destinasi pariwisata yang menarik. Faktor iklim wisata terangkum dalam sejumlah poin misalnya kesehatan, keamanan, kebersihan, hingga ketersediaan infrastruktur yang memadai. (*/bio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.