Parapak: Aksesibilitas masih jadi hambatan untuk bangkitkan pariwisata Toraja

0
1526
Industri hotel seperti Toraja Heritage Hotel membutuhkan dukungan aksesibilitas untuk meningkatkan tingkat hunian hotel dari kunjungan wisman. (foto Repro)

TORAJA UTARA, test.test.bisniswisata.co.id: Tokoh masyarakat Toraja, Jonathan L Parapak menyayangkan kurangnya komitmen pemerintah daerah untuk mempromosikan penerbangan regular ke Toraja di tengah upaya subsidi tiket penerbangan yang telah dilakukan dan mulai bangkitnya pariwisata Toraja.

“Sebenarnya sudah ada penerbangan seminggu sekali tiap Kamis dari Makassar ke Toraja dengan Aviastar seharga Rp 250 ribu dari tarif sebenarnya Rp 500 ribu per/orang dengan waktu tempuh dari Makasar selama 55 menit, sementara perjalanan darat memakan waktu sedikitnya 10 jam. Sayang masih kurang promosi yang dilakukan sehingga penumpang pesawat berkapasitas 18 seat belum optimal,” katanya.

Menurut Parapak, Aviastar yang sudah berjibaku mempermudah akses seharusnya juga mendapatkan dukungan promosi dari pemerintah daerah, industri pariwisata dan masyarakat setempat sehingga jumlah penumpangnya bisa terus meningkat.

“Kondisi penerbangan sekarang sekali pun sudah disubsidi pemerintah jumlah penumpang terus menurun sehingga harus ada terobosan promosi termasuk di media sosial sehingga wisatawan yang datang baik wisman maupun wisnus bisa meningkat,” kata Parapak, Kamis lalu, di sela-sela kegiatan Gerakan Nasional Sadar Wisata.

Menurut prediksinya, kunjungan wisman sekarang hingga akhir tahun mencapai 40.000 orang terbesar datang melalui akses jalan darat, sementara kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) berkisar 200 ribu orang. “Tahun lalu saya sebagai penyelenggara event memperingati 100 tahun masuknya agama Kristen ke Toraja mendatangkan 100.000 orang dari berbagai daerah sehingga hotel dan rumah penduduk penuh. Sekarang kegiatan meeting, inventive, conference dan exhibition (MICE) dari berbagai partai politik dan organisasi masyarakat juga banyak dilaksanakan di Toraja sehingga kunjungan wisnus juga naik,” jelasnya.

Potensi pengguna jasa angkutan udara ke Tana Toraja sebenarnya cukup tinggi karena itu pihaknya berharap upaya perusahaan penerbangan yang telah membuka akses udara agar di dukung dengan promosi pula sehingga ke depan pemerintah dapat memanfaatkan dananya untuk kepentingan lain dan perusahaan tidak bangkrut. Kemudahan akses udara akan membuat tingkat hunian hotel di Toraja juga akan meningkat.

“Saya sendiri sedikitnya enam kali dalam setahun datang ke Toraja kalau tersedia infrastruktur yang baik dan banyak pilihan transportasi maka sebagai wisatawan kita punya banyak pilihan untuk menetapkan lama tinggal maupun moda angkutan yang kita pilih sesuai kebutuhan,” kata Jonathan L Parapak.

Dia menilai sudah lebih dari 20 tahun masalah aksesibilitas udara ini belum dapat diselesaikan dengan baik. Bandara yang letaknya di Kecamatan Rantetayo, 15 kilometer aral barat dari kota Makale itu beroperasi dan pada 1992 sampai 1998, Pongtiku adalah salah satu bandara komersial di Sulsel.

Sayangnya, krisis ekonomi yang melanda Tanah Air pada pertengahan era 1989 berimbas hingga bandara ini setop beroperasi. Padahal perjuangan untuk menjadikan Bandara Pongtiku sebagai bandara komersial sebagai alternatif untuk mendukung kegiatan kepariwisataan terus dibahas teermasuk rencana dibuka rute penerbangan baru misalnya, Toraja-Kendari, Toraja-Makassar Toraja – Balikpapan. Toraja – Bali.

Sejak zaman Belanda, Indonesia memiliki tiga destinasi wisata utama, yakni Bali, Toba, dan Toraja. Akibat krisis moneter pada 1998, jumlah wisatawan di ketiga destinasi tersebut sempat menurun, lalu kembali mengalami peningkatan. Namun hanya Toraja yang ketinggalan dibanding Bali dan Toba.

Salah satu sebabnya, faktor geografis yang cukup jauh, dan makin singkatnya waktu kunjungan para wisatawan mancanegara (wisman), khususnya asal Eropa ke Toraja. Namun  kini banyak grup wisatawan dari Perancis, Belanda, Israel dan bahkan wisatawan Jepang mulai ramai datang ke Toraja lagi maka masalah infrastruktur udara dan promosinya harus digencarkan kembali, tegas Parapak.

“Grup wisatawan yang datang terdiri dari 30-40 orang sehingga kalau pemerintah daerah dan masyarakat Toraja bertekad untuk “merebut” kembali pasar wisatawan mancanegara maka harus ada upaya serius dan fokus mengatasi masalah infrastruktur ini. Kekayaan wisata sejarah dan budaya, seperti upacara pemakaman maupun keindahan alamnya luar biasa,” ungkapnya. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.