Palangkaraya Tawarkan Objek Ekowisata Unik & Menarik

0
1017
Wisatawan asing berwisata di Kaltim (foto: klotoktourtanjungputing.com)

PALANGKARAYA, test.test.bisniswisata.co.id: Palangkaraya kini memiliki destinasi wisata baru. Kawasan hutan peruntukan khusus atau hutan pendidikan seluas 5.000 hektar di Rakumpit, Palangka Raya berbatasan Gunung Mas Kalimantan Tengah disulap menjadi kawasan objek ekowisata lingkungan, yang unik dan menarik. Kini obyek ekowisata ditawarkan wisatawan.

Dekan Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Muhammadiyah (UM) Palangkaraya Siti Maimunah, yang juga tua tim pengelola teknis hutan pendidikan di Palangka Raya, Senin (23/08/2015) mengatakan objek ekowisata harapannya menjadikan kawasan hutan tropi unik sebagai pusat pariwisata ilmiah, seperti kunjungan di kawasan dominasi ulin di ujung hutan pendidikan.

Dilanjutkan, Ekowisata lebih diarahkan pada wisata ilmiah untuk kepentingan riset, namun pola pengembangan tersebut mengarah pada upaya-upaya nyata dalam mewujudkan kawasan hijau yang berpihak pada masyarakat, dimana taraf hidup masyarakat meningkat tanpa dengan merusak hutan.

Pengembangan Hutan Pendidikan di Rakumpit ke arah ekowisata itu merupakan bagian dari sembilan peruntukan kawasan dengan berbagai pola yang diterapkan, diharapkan akan memperbaiki kondisi lingkungan hutan pendidikan yang sebagian telah rusak dan terdegradasi karena pertambangan masyarakat dan perladangan berpindah tanpa mengesampingkan kepentingan masyarakat untuk mencari penghidupan, jelas Siti.

Ia mengatakan, masyarakat selalu dalam pembinaan pengolahan lahan dengan sistem pesanggem, seperti di Perum Perhutani. Perubahan mata pencaharian masyarakat diawali dengan mengubah pola hidup masyarakat yang semula tergantung pada alam menjadi masyarakat pembudidaya.

“Itu memerlukan waktu yang panjang dan dilakukan dengan cara menghubungkan beberapa perusahaan pengolah minyak nabati, pabrik jamu dan obat tradisional maupun industri untuk bersama-sama membuat perubahan di hutan pendidikan sehingga tercipta hutan yang lestari,” ujar dia.

“Hasil diskusi (FGD) internal antarpetani, lembaga desa, tokoh adat dan masyarakat selanjutnya ditindaklanjuti dengan diskusi terfokus antara UM Palangkaraya dengan lembaga desa dan tokoh adat dan masyarakat diperoleh kesepakatan bahwa masyarakat dapat mengelola hutan pendidikan secara kolaboratif,” imbuh dia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.