Okupansi Hotel di Indonesia Merosot

0
869

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Tingkat hunian (okupansi) hotel di Indonesia mengalami penurunan. Data Occupancy Map by Markets pada Maret 2015 menyebutkan, dua kota yang terkena dampak itu Jakarta dan Bandung, yang mengalami penurunan paling besar sebesar 15 persen. Bali menempati posisi ketiga dengan penurunan 11 persen. Surabaya dan Sumatera masing-masing 8 persen, Yogyakarta 7 persen, Semarang 2 persen.

“Dibandingkan Indonesia, Bangkok pada 2014 mengalami kemerosotan okupansi yang lebih dalam. Meski demikian, hotel-hotel di Bangkok tidak menurunkan harga kamar terlalu banyak dalam menghadapi krisis tersebut. Ini merupakan strategi dilakukan oleh pengembang hotel di Bangkok untuk menghindari permintaan pasar yang jauh lebih merosot,” ungkap Director of Asia Pasific STR Global’s Area Jesper Palmqvist di Jakarta, belum lama ini.

Strategi yang diterapkan Hotel-hotel di Bangkok, sambung dia, sangat tepat dalam menjaga performa okupansi secara keseluruhan. “Hal ini tentu memberi tekanan besar terhadap general manager hotel di seluruh Indonesia untuk mengatur agar tetap seimbang dan dengan kepercayaan diri tinggi,” komentar Jesper.

Dilanjutkan, salah satu strategi memulihkan penurunan permintaan tingkat hunian akhir-akhir ini dengan mempertahankan nilai sewa dalam level yang wajar. Mengingat dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, tingkat hunian di Indonesia bergerak cukup baik dan secara umum bertumbuh, meski masih tidak terlalu cepat.

Kuartal pertama 2015, tingkat permintaan melemah 5 persen dan tingkat hunian turun 12 persen. Tingkat ketersediaan meningkat 8 persen. Torehan ini lebih bagus dibandingkan kuartal pertama 2014 yang meningkat 3,4 persen.

“Kuartal kedua tahun ini memegang peran penting dan diawali dengan baik melalui peringatan Konferensi Asia Afrika pada April lalu, yang mampu meningkatkan hunian kamar hingga 90% di area segitiga emas Jakarta,” ujar Jesper.

Secara umum, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir di Indonesia pertambahan harga kamar harian meningkat dua kali lipat. Dia menilai, ada potensi pertumbuhan meski dibayangi dengan penurunan permintaan kedepannya, sambungnya.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.