Objek Wisata Hutan Kera Ditawarkan Wisatawan

0
1047

SAMPANG MADURA, bisniswisata.co.id: Objek wisata Hutan Kera Nepa di Pantai Utara Sampang, Jawa Timur mulai ditawarkan ke wisatawan untuk berkunjung di hutan kera yang menarik dan unik ini. Promosi ini mulai dilakukan, setelah Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS) membantu pengembangan kawasan wisata yang selama ini kurang promosi.

Kesediaan BPWS membantu mengembangkan objek wisata ini, sesuai hasil rapat koordinasi yang digelar Pemprov Jatim belum lama ini. “Dalam rapat koordinasi itu, BPWS berjanji membantu mengembangkan objek wisata Hutan Kera Nipa itu, termasuk membantu mempromosikan,” ungkap Mahtum, Kabid Pariwisata pada Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olahraga (Disbudparpora) Sampang, Sabtu (17/12/2016).

Bantuan BPWS, lanjut dia, bukan hanya pada pengembangan sekitar objek wisata saja, juga perbaikan akses jalan menuju lokasi objek wisata yang selama ini masih sempit.

“Konsep yang hendak dikembangkan BPWS adalah promosi pariwisata Madura terintegrasi di antara empat kabupaten yang ada di Pulau Madura ini, termasuk di Kabupaten Sampang tentunya,” tutur Mahtum.

Objek wisata Hutan Kera Nepa itu terletak di Desa Nepa, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang. Lokasi objek wisata unik ini ke arah utara Kota Sampang, yakni sekitar 50 kilometer dari kota Bahari itu.

Letak objek wisata ini sekitar satu kilometer dari jalan raya di pesisir pantai utara Sampang yang menghubungkan Kabupaten Sampang dengan Kabupaten Bangkalan.

Menurut Mahtum, kondisi jalan menuju objek wisata itu masih sempit sehingga diperlukan pelebaran. “BPWS juga bersedia membatu pelebaran jalan masuk menuju Hutan Kera Nepa itu,” katanya.

Para pengunjung yang datang ke objek wisata itu akan disuguhkan pemandangan alam sekitar pantai dan lautan lepas, melihat matahari terbit (sunrise), menyusuri sungai dan hutan cagar alam seluas 1 hektare dengan perahu nelayan untuk melihat pemandangan hutan mangrove dan melihat satwa kera pada habitatnya.

Keunikan lain yang bisa dilihat dan dibuktikan para wisatawan adalah perilaku kera di kawasan hutan yang jinak dan mereka merupakan kera pemakan jagung tua mentah.

Di hutan itu terdapat dua kelompok kera yang menempati dua bagian dari kawasan hutan yaitu sebelah utara dan selatan yang dibatasi dengan sebuah kayu yang dianggap sebagai tugu perbatasan.

Masing-masing kelompok kera tidak akan mau menyeberangi/melewati daerah perbatasan tersebut kecuali ada kera yang sakit atau membutuhkan pertolongan untuk melahirkan.

Keunikan lain yang bisa dilihat dan dibuktikan para wisatawan adalah perilaku kera dikawasan hutan yang jinak dan mereka merupakan kera pemakan jagung tua mentah, dihutan ini terdapat dua kelompok kera yang menempati dua bagian dari kawasan hutan.

Sebelah utara dan selatan dibatasi sebuah kayu yang dianggap sebagai tugu perbatasan, masing masing kelompok kera tidak akan mau menyebrangi/melewati daerah perbatasan, kecuali ada kera yang sakit atau membutuhkan pertolongan untuk melahirkan.

Terkait mitos yang ada dari masyarakat sekitar, hutan ini merupakan tempat berpijaknya manusia pertama kali yang babat alas pulau Madura bernama Bindoro Gong (pada abad XII-IX).

Bindoro Gong, pendatang yang mendirikan kerajaan pertama kali di Madura dan mewariskan kerajaannya kepada putranya bernama Raden Segoro (yang dimakamkan di tengah hutan dengan penanda/ nisan berupa kayu pohon) karena Raden Segoro tidak mempunyai ahli waris. Sebelum meninggal dia menunjuk seorang pemimpin menggantikannya.

Karena merasa tidak puas dengan pemimpin yang baru, kedua kelompok rakyat pun sering bertikai, Raden Praseno bersedih melihat hal ini dan akhirnya beliau membagi wilayah tersebut menjadi dua bagian,

Dasar sifat manusia yang selalu kurang puas dengan apa yang didapatkannya mereka masih sering bertikai antara kelompok satu dengan yang lainya dan pada akhirnya membuat dewata marah dan mengutuk mereka menjadi monyet dan memberi penanda diantara batas wilayah dengan patok kayu. (*/NDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.