Nyepi dan Gerhana Matahari Total

0
532

MANGUPURA, test.test.bisniswisata.co.id,- FENOMENA langka terjadi pada Rabu, 9 Maret 2016, saat umat Hindu melaksanakan tapa brata penyepian, dunia mengalami gerhana matahari total (GMT). Gerhana matahari total tidak dapat dilihat di Bali. Bisa dilihat dari Palembang, Bangka Belitung, Pelangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Ternate dan Halmahera.
Dalam kondisi demikian, masyarakat Bali tetap memberikan toleransi kepada umat Islam untuk melaksanakan shalat gerhana di masjid dan mushola terdekat, sesuai kesepakatan bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali dan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKAUB), tutur Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Prof Dr I Gusti Ngurah Sudiana.
Menurut Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Denpasar, Bali Drs Haji Saefudin, M.Pd.I, mereka yang sholat wajib mengenakan busana khas ibadah dan berjalan kaki dari rumah ke masjid terdekat serta tidak menggunakan pengeras suara. Untuk itu pengurus masjid dan musola yang akan melaksanakan sholat gerhana, selambat-lambat sehari sebelumnya agar mengkomunikasikannya dengan petugas keamanan desa adat (pecalang) setempat, sehingga pecalang dapat mengetahui sebelum hari pelaksanaan sholat gerhana. Dengan demikian pecalang dapat memberikan kesempatan kepada umat Islam yang akan melaksanakan sholat gerhana matahari mulai 07.30 hingga pukul 09.00 waktu setempat.
Saat melaksanakan tapa brata penyepian Tahun Baru Saka 1938, umat Hindu berkewajiban amati karya (tidak bekerja dan aktivitas lainnya), amati geni (tidak menyalakan api), amati Lelungan (tidak bepergian) dan amati Lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu, tanpa hiburan/bersenang-senang). Melaksanakan empat pantangan tersebut sekaligus melakukan intropeksi diri selama 24 jam, sejak Rabu (9/3) puku 06.00 hingga pukul 06.00 keesokan harinya (Kamis, 10/3)

Seruan Bersama

Untuk menjaga kondisi keamanan yang kondusif, Majelis lintas agama dan keagamaan di Provinsi Bali (FKUB) juga mengeluarkan seruan bersama yang ditandatangani oleh pimpinan majelis agama dan keagamaan di daerah ini. Diketahui oleh Gubernur Bali, Kapolda Bali, Korem 163 Wirasatya dan Kepala Kanwil Kementerian Agama, tertanggal 15 Februari 2016.
Seruan bersama tersebut, disosialisasikan kepada 1.480 desa adat (pekraman) dan berbagai komunitas umat lain dengan harapan, semua pihak mampu menjaga kondisi keamanan Bali. Seruan bersama juga meminta lembaga penyiaran radio dan televisi tidak melakukan siaran selama pelaksanaan hari suci Nyepi. Larangan menyalakan petasan (mercon), pengeras suara, bunyi-bunyian dan sejenisnya yang sifatnya mengganggu dan membahayakan ketertiban umum.
Seruan bersama tersebut, seperti termaktub dalam laman LKBN Antara, juga melarang adanya paket hiburan Hari Raya Suci Nyepi bagi hotel-hotel dan penyedia jasa hiburan lainnya di wilayah Provinsi Bali.
Prajuru desa pekraman (adat), pecalang (petugas keamanan desa) bertanggungjawab mengamankan rangkaian Hari Suci Nyepi di wilayahnya masing-masing berkoordinasi dengan aparat keamanan terkait,” kata Kasubag Hukum dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Drs Haji Saefudin MPDI. (dwi,bisniswisata.co@gmail.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.