Nyadran Kali, Daya Tarik Wisata Lereng Sindoro

0
752
Nyadran di pelataran Candi Priangus (foto: suaramerdeka.com)

TEMANGGUNG, bisniswisata.co.id: Warga lereng Gunung Sindoro, Desa Tlahab, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memiliki satu tradisi yang rutin digelar tiap tahun dan bisa menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Temanggung. Tradisi itu adalah nyadran kali. Nyadran kali biasanya dilakukan petani tembakau di Desa Tlahab setiap hari Jumat Kliwon di bulan Sapar. Lokasinya di mata air Sidandang Desa Tlahab, Kecamatan Kledung.

Dalam tradisi nyadra kalit, sebelum matahari terbit, ratusan warga Desa Tlahab mulai berbondong-bondong menuju mata air Sidandang. Mereka membawa tenong berisi ingkung serta nasi tumpeng ke lokasi tersebut. Ritual itu untuk menandai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Uniknya, ritual ini selalu digelar pada pagi buta. “Ritual selamatan desa ini sudah berlangsung secara turun temurun,” kata Kaur Kesra Desa Tlahab, Alif Misiyat, Jumat (11/11/2016).

Selain ungkapan rasa syukur atas nikmat air yang melimpah dan kesehatan serta keamanan, menurut dia, nyadran juga untuk mendoakan pendiri desa setempat yakni Kyai Jogorekso. Nyadran ini juga untuk mengingatkan kepada warga agar bisa menyatu dengan alam, ikut menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan.

“Sebagai petani, kami setiap hari berbaur dengan alam, mereka juga harus merawat dengan baik sehingga alam dan lingkungan serta mata air melimpah rahmat dari Allah ini bisa terus terjaga hingga anak cucu,” katanya.

Tlahab merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Temanggung. Desa di lereng Gunung Sindoro ini memiliki kawasan wisata alam, yakni Posong. Kepala Desa Tlahab, Irwan, pun berharap tradisi nyadran kali bisa menjadi salah satu daya tarik wisata yang bisa memikat wisatawan untuk mengunjungi tempat ini. .

“Selama ini Posong menjadi salah satu tujuan wisata alam yang kami andalkan, tradisi tahunan ini bisa menjadi daya tarik wisata sehingga bisa meningkatkan kunjungan wisatawan ke desa kami,” harap dia.

Candi Pringapus

Tradisi nyadran di Desa Pringapus, Kecamatan Ngadirejo terasa unik dan agak berbeda dengan desa-desa lain di Temanggung. Pasalnya, warga melakukan nyadran dipelataran Candi Pringapus yang bercorak Hindu, dan telah ada sejak tahun 850 Masehi. Padahal kebanyakan ritual dilakukan di makam, karena pada dasarnya nyadran dilakukan untuk mendoakan leluhur atau sanak famili yang meninggal dunia. Tapi di sini, meski maknanya sama, tapi ritual itu dilakukan berbeda, yakni di pelataran candi.

Sangat menarik, sebab pelaku ritual mayoritas beragama Islam, penyampaian pesan menggunakan bahasa Jawa, sedangkan area yang digunakan dahulu merupakan tempat pemujaan bagi umat Hindu di zaman kerajaan Mataram Kuno. Terlihatlah, akulturasi budaya dari tradisi nyadran ini, dengan falsafah bersatu dan berdamai dalam perbedaan.

Prosesi dimulai pukul 10.00, mereka berkumpul, mendengar wejangan tentang lelaku hidup dan kehidupan dari sesepuh desa dalam bahasa Jawa krama inggil. Tak lama
kemudian terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, semua tampak hikmat mengikutinya. Sejenak suasana menjadi hening, namun beberapa menit kemudian kembali riuh, setelah dipersilakan untuk menyantap hidangan yang dibawa seperti ingkung, jajanan pasar, dan buah-buahan.

“Tradisi ini sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kemurahan dan kenimatan, bentuk kerukunan warga. Nyadran juga untuk mengirim doa kepada leluhur, serta ungkapan rasa gembira kami menyambut datangnya bulan Ramadan,”ujar Jumono (39), Kaur Kesra Desa Pringapus.

Kepala Dusun Pringapus, Bandung Ananto (38), mengatakan, yang hadir pada nyadran kali ini, tidak hanya warga Pringapus saja, melainkan warga luar daerah yang mempunyai leluhur atau garis keturunan dari Pringapus. Keunikan lain dari nyadran di Pringapus adalah, warga yang membawa ingkung ayam betina disaranan untuk menyertakan pula satu telur ayam kampung. Sedangkan untuk ingkung ayam jago tidak diwajibkan membawa telur. Hal itu sebagai tradisi Jawa secara turun-temurun.

Ya, nyadran di tempat itu tidak hanya milik umat Islam saja, tetapi siapapun dengan agama apapun dipersilakan jika ingin mengikutinya. Pluralisme di ketinggian lereng Gunung Sindoro tersebut terpelihara baik sejak lama dan salah satunya terjalin melalui nyadran.

Falsafah Jawa, Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah benar-benar diterapkan di desa berhawa sejuk ini. Mereka memilih kerukunan dan hidup bahagia meski ada perbedaan, sebab perselisihan pasti akan berujung pada perpecahan dan penderitaan. Buktinya, nyadran desa ini berada di candi bercorak Hindu, sedangkan nyadran merupakan perpaduan antara Islam dan adat kejawen. (*/BBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.