Nilai Brand Image Hotel yang Nyaman dan Aman, Harus Jadi Prioritas

0
917
Muhamad Munir, GM Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta

YOGYAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 menjelang tengah hari. General Manager (GM) Hotel Sheraton Mustika, Yogyakarta, Muhamad Munir, memasuki ruang lounge hotel untuk menemui tamunya. Setelah satu jam berbincang dengan tamunya, ia mengajak ke cafe untuk makan siang. Staf yang turut mendampingi, tampak bergegas mendahului atasannya untuk menyiapkan acara makan siang.

Sorot mata sang general manager diarahkan kepada para pramusaji yang sedang menyiapkan makanan dan minuman untuk makan siang tamu-tamu hotel. Lelaki nomor satu di hotel bintang lima ini rajin turun mengecek ke lapangan. Ini membuktikan ia sebagai pimpinan hotel sangat perhatian pada kualitas pelayanan.

“Pelayanan hotel yang berkualitas itu bersifat familier. Karena tamu sebagai the leisure class untuk menginap di hotel inginnya merasa nyaman. Apalagi mereka mungkin lelah setelah rapat kerja, maka mereka perlu dijamu dengan perasaan senang dan memuaskan,” ujarnya.

Munir juga kerap melakukan public relations (PR) dengan cara belusukan menemui masyarakat. Meski dia punya bawahan yang bertugas menjalankan public relations, tapi ia merasa senang bisa ikut turun ke lapangan. Sebab pekerjaan PR bertujuan untuk memberikan sentuhan emosional dari produk hotel yang dipimpinnya. Seperti nilai-nilai brand image Sheraton sebagai hotel yang nyaman dan aman harus menjadi prioritas, sehingga konsep ini perlu dipublikasikan melalui PR.

“Dalam situasi seperti sekarang ini, orang-orang yang mau menginap di hotel inginnya tinggal dengan perasaan nyaman dan aman. Hotel Sheraton dengan pengelolaan manajemen berjaringan internasional itu sudah dikenal punya standar keamanan yang ketat dan aman,” tutur dia.

Mungkin karena jejak rekam Munir yang berhasil mengangkat brand image Hotel Sheraton itu, membuat jabatannya sebagai GM terhitung paling lama. Pengalaman ini sangat jarang dialami seseorang yang memilih karir perhotelan. Namun lelaki kelahiran Palembang ini mengaku menduduki kursi GM Hotel Sheraton Mustika selama delapan tahun merupakan tantangan bagi dirinya.

“Saya bisa bertahan lama menjadi GM hotel karena saya suka tantangan. Sebab dalam bisnis perhotelan itu sangat ketat persaingannya. Sehingga seorang GM dituntut harus berani melewati tantangan untuk dapat memenangkan persaingan. Orang yang tidak suka tantangan biasanya takut bersaing,” ujarnya.

Apalagi sekarang pertumbuhan hotel di kota Yogyakarta melaju kencang seperti tidak bisa direm. Sehingga persaingan bisnis perhotelan beroperasi bak pertempuran dalam medan perang. “Siapa yang berani bertarung, maka dialah yang memenangkan dalam pertempuran itu,” papar Munir yang menggambarkan filosofi kehidupan seorang GM menjadi komandan peperangan.

Dari tahun ke tahun, kata dia, jumlah hotel akan terus bertambah bak meteor yang melesat di ruang angkasa. Apalagi ruang kota Yogyakarta sebagai daerah destinasi wisata, tak akan mampu membendung laju pembangunan hotel yang menjadi bagian dari industri pariwisata. “Sekarang ini di kota Yogyakarta ada puluhan hotel berbintang. Bahkan, kalau dihitung dengan hotel non bintang, bisa mencapai ratusan hotel,” selorohnya.

Berdasarkan data BPS Daerah Istimewa Yogyakarta, menurut Munir, jumlah wisatawan yang menginap di hotel pada semester I 2015 mencapai 306.668 orang. Jumlah wisatawan yang menginap di hotel bintang sebanyak 111.458 orang, dan wisatawan yang menginap di hotel non bintang ada 195.210 orang.

“Kalau melihat tingkat hunian kamar hotel (occupancy rate) berbintang di Yogyakarta pada semester I 2015 itu, rata-rata tercatat sebesar 48,21 persen. Jadi ada penurunan 17,01 persen jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tapi occupancy rate Hotel Sheraton Mustika Yogyakarta yang memiliki 246 kamar ini menjelang akhir tahun sudah naik lagi mencapai 60 persen,” jelas dia.

Besarnya jumlah kunjungan wisatawan ke Yogyakarta, kata GM Hotel Sheraton Mustika ini, sangat bergantung pada promosi yang dilakukan pemerintah DIY. Pihak pengelola hotel sebagai pelaku industri pariwisata, siap ikut mendukung kebijakan pemerintah DIY dalam upaya menarik kunjungan wisatawan ke Yogyakarta. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.