Natal di Pantai Kuta, Turis Sepi Sampah Melimpah

0
794
Pantai Kuta saat Natal 2016 (foto: merdeka.com)

PANTAI KUTA BALI, bisniswisata.co.id: Hari Natal 2016, dari pagi hingga siang bolong kunjungan wisatawan lokal, nasional hingga internasional yang datang ke pantai Kuta, Bali masih sangat sepi. Tak ada lonjakan. Tak ada yang berjemur. Tak ada turis minta dipijat atau dikepang rambutnya. Hanya terlihat beberapa wisatawan bermain surfing. Itupun bisa dihitung jari.

Sementara tumpukan sampah berserakan masih tetap dibiarkan di tepi pantai – yang namanya mendunia. Bahkan nampak mobil alat berat pengeruk sampah mencoba meratakan sejumlah sampah di pinggir pantai.

Menariknya, umumnya turis yang datang ke pantai untuk berjemur kali ini lebih tertarik mengabadikan dengan memfoto tumpukan sampah dan petugas kebersihan yang sedang bekerja.

“Sekarang sepi tamu mas. Banyak yang datang, gak lama di pantai terus balik. Masalahnya masih penuh sampah,” Aku Putu Ruma,salah seorang pedagang di Pantai Kuta, seperti dilansir laman Merdeka.com, Ahad (25/12/2016).

Tak bisa dipungkiri. Sampah di tempat wisata Pantai Kuta, masalah klasik yang tak pernah terselesaikan dengan sempurna. Setiap tahun sepanjang Pantai Kuta selalu dipenuhi sampah. Tudingan paling gampang penyebabnya: akibat kiriman air laut saat musim hujan dan musim angin barat.

Bagi wisatawan nusantara apalagi mancanegara tidak tahu kalau sampah itu kiriman atau bukan, yang meraka tahu, lihat dan rasakan bahwa Pantai Kuta penuh sampah, jorok, menjijikkan juga memalukan bahwa destinasi kelas internasional kondisinya seperti itu. Penuh sampah.

Wisatawan hanya bisa mengeluh. Tentunya keluhan ini bisa membahayakan bagi pariwisata Bali, jika difoto, ditulis di media sosial. Postingan itu dibaca di penjuru dunia. Akibatnya, bisa jadi target kunjungan wisata yang dicanangkan tak tercapai hanya gara-gara sampah.

Seminggu sebelumnya, Ahad (18/12/2016) puluhan personel TNI Kodam IX Udayana, Korem 163/Wirasatya dan anggota Polri serta masyarakat Bali menyapu sampah yang berserakan di Pantai. “Kita hari ini akan melaksanakan perang sampah. Perang terhadap sampah. Karena apa? Bali ini menjelang akhir tahun, sebagai destinasi wisata ternyata seperti ini keadaannya. Jorok, malu kita sebagai tuan rumah,” ungkap Kolonel Infantri I Nyoman Cantiasa, Danrem 163/Wira Satya, saat itu.

Merebaknya sampah juga dikeluhkan wisatawan asing. Chris Antonio (41), turis asal Belgia berniat mandi air laut terpaksa dibatalkan. Lantaran kondisi pantai dan air laut tak bersahabat penuh dengan sampah. Chris hanya bisa angkat bahu dengan melihat kondisi.

“Wouw, Why do this (kenapa bisa begini),” tanyanya dengan mengangkat kedua tangannya. Padahal, dalam promosi via gambar maupun video visual Pantai Bali nampak indah. Airnya biru, pemandangannya indah dan ada wisatawan berjemur menikmati surga Bali. “Ternyata…” tanyanya.

Andrew Gruw, wisatawan Australia mengeluh dan prihatin melihat kondisi Pantai Kuta yang dipenuhi oleh sampah. “Tentu saja saya sangat sedih karena banyak sampah kiriman sebagai akibat ulah manusia yang tidak memperhatikan kebersihan dan kelestarian lingkungan,” ungkapnya sambil geleng-geleng kepala.

Demikian pula wisatawan lainnya Mandy Shaves, juga asalAustralia mengaku, yakin sampah-sampah plastik tidak seluruhnya datang dari Bali. “Sampah-sampah kiriman itu tidak tertutup kemungkinan juga dari luar Bali,” katanya.

Tumpukan sampah di Pantai Kuta setiap musim hujan yang disertai dengan tiupan angin yang kencang kerap kali menerima kiriman sampah sehingga Pantai Kuta tampak kotor.

Sampah kiriman tersebut berupa batang kayu berukuran besar, ranting pepohonan dan sampah plastik. Petugas kebersihan berusaha menanganinya secara maksimal, namun sampah kiriman itu masih tampak di mana-mana. (*/MDK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.