Nasi Penggel, kuliner khas Kebumen Untuk Sarapan Pagi

0
2754
Nasi Penggel, kuliner khas Kebumen

KEBUMEN, test.test.bisniswisata.co.id: Memiliki waktu setengah hari di Kebumen, kuliner menjadi tujuan utama saya ketika membuka mata di pagi hari. Setelah tiba semalam dan langsung tidur karena kelelahan menghadapi kemacetan lalu lintas akibat arus mudik Natal 2015 dan liburan sekolah, maka berburu kuliner makanan lokal menjadi prioritas.

Jika Pekalongan terkenal dengan nasi megono dan Surakarta terkenal dengan nasi liwet sebagai menu sarapan, maka Kebumen juga mempunyai menu sarapan unggulan. yaitu nasi Penggel, menu sarapan yang khas bagi masyarakat Kebumen. Tidak hanya sebagai menu sarapan, kuliner ini juga kerap dijumpai pada acara-acara hajatan warga Kebumen. Makanan khas ini konon berasal dari desa Karangpoh kecamatan Pejagoan Kebumen

Di kawal kakak yang tinggal di Kebumen, Helmi Sabri, mobil langsung meluncur ke tepi jalan raya Dukuh Gunungsari desa Karangpoh atau sekitar satu kilometer ke arah barat dari alun-alun kota Kebumen. Konon di sebut penggel karena menjadi makanan rehat saat para peladang makan bersama sambil beristirahat. Mereka biasanya sudah mengolah lahan seusai sholat subuh sehingga ketika matahari mulai muncul sekitar jam 7-8 pagi baru mulai sarapan.

Menu sarapan, nasi penggel akan banyak dijumpai pada pagi hari antara jam setengah enam pagi sampai jam sembilan pagi. Anda bisa menikmati menu sarapan khas ini di daerah alun-alun Kebumen, di jalan Pemuda Kebumen, dan di jalan raya Pejagoan tadi.

Tiba ditempat, sudah banyak warga yang duduk di teras rumah di tepi jalan yang cukup ramai tempat pak Achmad, 51, menumpang berjualan nasi Penggel di teras rumah Aseliyati. Mereka menikmati nasi Penggel bersama keluarga dan pembeli terus datang bergantian.

Nasi Penggel ini adalah bulatan nasi sebesar bola pingpong yang disantap dengan sayur bersantan mirip lodeh berikut irisan nangka muda, daun singkong, potongan tahu dan tempe. Kikil sapi dimasak dengan bumbu kuning dan dipotong besar sebesar kikil di restoran Padang. Tapi jangan khawatir, sebab kikil direbus hingga lunak sehingga tidak akan repot saat mengkonsumsinya.

Sayangnya, nasi penggel tidak sepopuler sate Ambal dan Lanting, makan khas Kebumen lainnya. Untuk menikmati sarapan dengan menu ini juga tidak bisa didapatkan setiap saat dan setiap waktu apalagi pedagangnya terbatas

Menurut pak Achmad, dulu bahkan daun melinjo dan kulit melinjo ikut dimasak menjadi sayur Penggel namun seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi sayuran lebih sehat maka daun dan kulit melinjo ditinggalkan.

‘Dulu yang jadi lauk adalah irisan cungur atau cingur ( moncong sapi), paru dan mirip gulai kikil tapi sekarang cungur tidak disajikan lagi karena banyak yang takut mengganggu kesehatan. Sekarang lauk tambahannya adalah kikil atau paru,” kata Achmad.

Oleh pemilik rumah, bu Aseliyati, di meja sudah terhidang teh panas manis dan tempe goreng tepung ukuran jumbo, lebih besar dari ukuran yang banyak dijual di warung-warung Tegal di pinggir jalan kadang dia membuatnya menjadi tempe mendoan dengan irisan lebih tipis dan irisan daun kucai di tepungnya.

Di sekitar bakul jualan Achmad ada penjual-penjual nasi Penggel lain seperti pak Tamin, Melan atau Ramelan dan penjual lainnya yang saling berjejer dan berhadapan di batasi jalan raya. Nampaknya pengunjung sudah memiliki pedagang favoritnya masing-masing sehingga pembeli juga menyebar.

Untuk memperkenalkan nasi Penggel pada masyarakat Jakarta, Achmad pernah diundang ke stand Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah, melayani tamu-tamu dan mendapat respon yang baik karena masakannya ludes.

Ahmad ( kiri) melayani pembeli mulai jam 5.30 hingga jam 9.00 pagi di tepi jalan raya Pejagoan, Kebumen
Achmad ( kiri) melayani pembeli mulai jam 5.30 hingga jam 9.00 pagi di tepi jalan raya Pejagoan, Kebumen

Self service adalah gaya layanan yang diberikan angkringan Achmad ini sehingga pembeli yang datang silih berganti langsung mendapatkan pincuk dari daun pisang. Kenikmatan sarapan memang dari nasi dan sayur beralas daun pisang bukan piring.

Pagi itu, mereka yang datang mulai dari pejabat, desainer hingga masyarakat biasa duduk di bangku kayu atau masuk ke ruang tamu pemilik rumah untuk bersantap. Mereka membulatkan sendiri nasi dalam panci dengan lembaran plastik yang tersedia menjadi bulatan sebesar bola pingpong. Lalu menyiram nasi itu dengan sayur Penggel dan lauk pelengkap berupa kikil, paru dan tempe berselaput tepung yang gurih dan hangat..

Cerita Aseliyati yang ditumpangi Acchmad untuk berjualan kalau hari biasa penghasilannya dari menjual teh manis dan tempe masing-masing seharga Rp 2000 saja bisa mencapai Rp 200 ribu hanya dalam hitungan maksimal 5 jam. Tapi kalau hari libur pendapatan kotornya bisa Rp 500 ribu. Untuk sayur dan nasi Penggel Ahmad menjualnya seharga Rp 7000/pincuk belum termasuk lauk pendamping.

Meski penghasilan Achmad jauh lebih besar, Aseliyati tidak pernah meminta bayaran untuk sewa tempat. Dia juga bisa sarapan sepuasnya tanpa bayar jadi bisnis dilakukan secara kekeluargaan saja. Buka mulai jam 5.30 pagi maka kalau hari libur jam 7.00 juga sudah habis. Sedangkan hari biasa paling lama hingga jam 9.00 pagi.

Menikmati nasi Penggel ini kita akan dapat merasakan kesederhanaan yang khas dari rakyat kecil. Versi lainnya yang melatarbelakangi terciptanya nasi ini ternyata masih berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Konon untuk memudahkan distribusi makanan bagi para pejuang yang sedang berperang nasi dikepal-kepal dibentuk bulat dan dari sinilah tercipta nasi ini dan sayurnya.

Setelah menikmati sensasi nasi Penggel dan mengobrol santai dengan warga sekitar dan sarapan di tempat yang sama, saya jadi berandai-andai. Kalau saja makanan khas ini dipromosikan dengan baik bisa saja menjaring kunjungan wisatawan dari daerah lainnya. Sekarang ini dengan berkembangnya berbagai komunitas di tanah air, banyak penggemar kuliner yang rela menjelajah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencicipi kuliner khas.

Semoga saja warga Kebumen bangga dan ikut melestarikan terutama anak-anak muda yang lebih mengenal bakso, mie ayam atau jenis makanan cepat saji yang kini mulai menyerbu Kebumen sehingga nasi Penggel kurang popular di daerah asalnya sendiri. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.