Museum Radya Pustaka Kian Merana

0
1153
Wisatawan kunjungi Museum Radya Pustaka (Foto: http://surakarta.go.id)

SURAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Beginilah nasib museum di Indonesia. Tidak ada yang ngurus, kotor, kumuh, penuh sarang laba-laba, dan dibiarkan merana. Lebih memprihatinkan lagi koleksi museum hilang tanpa pengusutan. Dan kabarnya diperjualbelikan di pasar gelap.

Lebih tragis lagi, pemerintah melalui Kementrian Pariwisata sudah tidak melihat museum sebagi tujuan wisata. Ya mungkin wajar aja, karena tidak mendatangkan wisatawan mancanegara, tidak menguntungkan dan tidak menghasilkan devisa buat negara.

Kabar buruk itu muncul dari Surakarta, Jawa Tengah. Museum tertua di Indonesia, Radya Pustaka, yang diharapkan bisa menjadi sarana belajar dan mengingatkan warga terhadap budaya mereka, ternyata tak sesuai harapan.

Padahal, banyak cara sudah diambil buat memperbaiki citra museum. Apalagi sebelumnya beberapa artefak sempat hilang dan diperjualbelikan di pasar gelap.

Bangunan museum uzur itu pun semakin reyot dimakan zaman. Pada umurnya yang lebih dari 120 tahun, perbaikan memang diperlukan. Sebab warga dan pengunjung menganggap tempat itu angker. Itu pun setelah Komite Museum Radya Pustaka merajuk kepada Pemerintah Kota Solo.

Perbaikan museum didirikan pada 1890 itu terlaksana pada 2012, dengan menelan dana Rp 2,3 miliar. Namun, persoalan tak berhenti di situ. Hak kepemilikan tanah museum juga bermasalah.

Upaya pemeliharaan artefak dan digitalisasi naskah kuno koleksi museum juga tidak mudah. Penyebabnya, mereka kekurangan sumber daya manusia dan peralatan.

Meski demikian, upaya itu kurang membuahkan hasil. Meski sudah merancang program buat menarik minat pengunjung, ternyata hal itu kurang berdampak. Malah museum itu terancam bangkrut. Gaji belasan pegawai, komite, dan penasihat terlambat dibayar.

Ketua Komite Museum Radya Pustaka, Purnomo Subagyo mengatakan, sudah mengajukan permintaan dana hibah. “Namun, duit itu tak kunjung cair,” paparnya seperti dikutip laman Merdeka.com, Jumat (15/04/2016).

Alhasil, sejumlah karyawan di museum itu tak masuk kerja sejak dua hari terakhir. Akibatnya, mereka terpaksa menutup layanan kunjungan museum peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta itu. (*/M)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.