Museum Olahraga, Magnet Baru Sport Tourism di Stadion GBK

0
1494
Gelora Bung Karno Jakarta

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Museum Olahraga yang selama ini di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta kini menempati lokasi baru yang megah dan strategis di kawasan Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. Bahkan, bakal menjadi daya tarik wisata baru yang diharapkan meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Kemenpora melihat Museum Olahraga ini, sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah dunia olahraga di Indonesia. Apalagi berada di kawasan stadion bersejarah yang strategis, juga berada di jantung kegiatan olahraga nasional,” kata Kepala Museum Olahraga Nasional, Herman Chaniago.

Museum Olahraga yang merupakan salah satu unit pelaksana teknis di bawah Kementerian Pemuda dan Olahraga, selama ini menempati lokasi di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan akan menempati salah satu bagian di sisi bangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno.

“Lokasi baru untuk Museum Olahraga di komplek GBK saat ini sedang dalam proses renovasi dan diharapkan selesai menjelang Asian Games 2018 mendatang,” kata Herman.

Museum olahraga idealnya memang berada di kawasan yang strategis di jantung kota, mudah diakses dan pusat kegiatan olahraga seperti di kawasan Senayan. “Museum Olahraga memiliki nilai historis tinggi dan menyimpan benda bersejarah dalam perjalanan olahraga Indonesia, termasuk sejarah Asian Games dan sudah pantas ditempatkan di Komplek GBK,” katanya.

Selama ini, keberadaan Museum Olahraga di kawasan TMII memiliki beberapa kelemahan, diantaranya berada di lokasi berbayar, destinasi budaya dan rekreasi, serta tidak fokus karena di sekitarnya juga terdapat 20 museum lain dan 34 anjungan daerah. Juga, lokasi TMII di pinggiran kota di Jakarta Timur dan jauh dari pusat kota. “Sehingga tidak strategis,” tandasnya.

Dengan dipindahkannya Museum Olahraga ke lokasi yang lebih strategis, Herman berharap agar museum yang olahraga selama ini kurang dikenal masyarakat luas, bisa “naik kelas” dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata sejarah.

Relokasi dan modernisasi Museum Olahraga di Komplek GBK sudah mendapat dukungan banyak pihak, termasuk Wakil Presiden Komite Olimpiade Asia (OCA) Rita Subowo dan pakar olahraga Sri Sudono Sumarto. “Kami mendapat banyak sumbangan ide dan saran dari Buk Rita dan Pak Sri Sudono dan berharap Museum Olahraga bisa menjadi ikon dan destinasi wisata olahraga, serta ikut menyemarakkan Asian Games 2018,” kata Herman.

Untuk program jangka panjang, Museum Olahraga diharapkan tidak hanya menyimpan benda bersejarah, tapi juga menjadi sarana edukasi yang dilengkapi restoran, kafe dan fasilitas modern lainnya.

Sementara Stadion Bung Karno memiliki sejarah yang panjang. Setelah Indonesia baru berdiri kurang lebih selama 14 tahun baru memiliki stadion. Saat itu, Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No. 113/1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI).

Dengan menggandeng Raden Maladi (yang sebelumnya Ketua Umum PSSI) sebagai Menteri Penerangan dan Frederik Silaban sebagai arsitek, Bung Karno memancangkan tiang pertama pembangunan stadion besar yang dimaksudkan sebagai stadion utama bangsa Indonesia, pada 8 Februari 1960. Seremoni dihadiri Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev, karena memang pemerintah memperoleh kredit lunak sebesar $12,5 juta dari mereka untuk pembangunan stadion ini.

Bung Karno memutuskan untuk membangun sebuah stadion bukan hanya demi kelancaran Asian Games 1962, tetapi juga untuk menjadikannya, mengutip Julius Pour dalam bukunya yang berjudul Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno, sebagai “masterpiece” negeri ini.

Desain stadion juga tidak asal njeplak. “Gagasan Soekarno merancang mainstadium yang terindah, terbesar, dan terunik di dunia mendorong kreativitas tim arsitek dari Rusia di bawah pimpinan Soekarno menciptakan rancangan atap temu gelang,” demikian penjelasan dalam buku tersebut. Pada 24 Agustus 1962, Soekarno meresmikan stadion berkapasitas 110.000 penonton tersebut, berbarengan dengan siaran perdana Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV secara tak langsung juga menjadi pengumuman kepada dunia bahwa kita sudah menjadi sebuah negara berdaulat yang mampu berdiri bangga, dan bukan lagi jajahan meneer-meneer Belanda.

Selepas Asian Games, tepatnya pada 1964, stadion tersebut kembali digunakan sebagai pusat pesta olahraga dunia, yakni Games of New Emerging Forces (GANEFO). Indonesia memang belum lama mundur dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bung Karno menjadi salah satu pencetus New Emerging Forces (NEFOS), cikal bakal terciptanya Gerakan Non-Blok. (*/bbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.