Museum Al Qura’an Al Akbar , obyek Wisata Religi Di Palembang

0
795
Museum Al Quran Al Akbar makin banyak dikunjungi wisatawan dari Timur Tengah

PALEMBANG, bisniswisata.co.id: Berbicara Obyek wisata di Palembang, Sumatera Selatan, sudah pasti tidak jauh dari Jembatan Ampera, rumah ibadah (kelenteng) di Pulau Kemaro atau wisata kuliner dengan menu wajib pempek ikan yang bertebaran di seantero Kota.

Padahal sebenarnya masih ada obyek wisata lain di Kota Palembang, yaitu Museum Al Qur’an Al Akbar. Di kota yang pernah menjadi pusat peradaban Kerajaan Sriwijaya ini kini memiliki obyek wisata religi tepatnya di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, RT 03, RW 01, Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Al Quran tersebut dipahat di permukaan kayu tembesu berukuran panjang 177 centimeter dengan lebar 140 centimeter dan ketebalan 2,5 centimeter itu kini menjadi alternatif tujuan wisata warga lokal maupun mancanegara terutama wisatawan dari Timur Tengah yang sengaja berkunjung untuk membuktikan sendiri karya seni yang tiada duanya itu.

Adalah H. Syafwatillah Mohzaib, penggagas dan pembuat Al Qur’an kayu ukiran  khas Palembang terbesar di dunia. Sebelum terjun sebagai politisi, H. Syafwatillah dipercaya membuat kaligrafi untuk pintu dan ornamen Masjid Agung Sultan Mahmud Badarudin II  Palembang dan selesai pada tahun 2002.

Pria satu ini memang dikenal punya minat yang besar terhadap seni kaligrafi bahkan wakil rakyat di DPR RI ini menjadi salah satu tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap Masjid Agung Palembang.

Opat, nama sapaan akrab Syafwatillah Mohzaib ini bercerita awal idenya ini dari mimpi. Saat baru terlelap tidur setelah selesai mengukir kaligrafi ornamen bagian pintu Masjid Agung Palembang, dia bermimpi yang mengisyaratkan dirinya untuk membuat alquran terbesar di dunia.

Dengan berbagai pertimbangan, disertai niat dan tekat yang bulat, ia pun mewujudkan mimpinya itu dengan mengawalinya dari surat Alfatiha.Lalu satu keping potongan Alquraan tersebut dipamerkannya di Masjid Agung dengan harapan ada donatur yang bersedia untuk mendukung niatnya.

Dari sini tersirat ide pecinta seni kaligrafi itu untuk membuat Musfah Al Qur’an dengan ukiran dan ornamen khas Palembang pada keping lembaran kayu tembesu. Kemudian contoh kaligrafi ini diikutkan dalam bazar tahun baru Islam di Masjid Agung Palembang, atas inisiatif Marzuki Alie—mantan Ketua DPR—serta pengurus Masjid Agung, dengan harapan ada yang tertarik membantu biaya pembuatan kaligrafi selanjutnya karena ternyata biaya pembuatannya sangat mahal, terutama dari kayu tembesu.

Proses pengerjaan kaligrafi yang dimulai pada Maret 2002 dan direncanakan selesai pada 2004 akhirnya baru selesai pada tahun 2009 akibat harga kayu tembesu ternyata terus naik yang mencapai harga tertinggi Rp 10 juta/kubik.

Proses kreativitasnya juga terbilang rumit, melalui perpaduan keahlian personil dan tim. Sebelum diukir di atas papan, ayat-ayat Al Qur’an terlebih dahulu ditulis di atas kertas karton. Lalu tulisan itu dijiplak di kertas minyak, tentunya setelah tajwidnya benar.

Hasilnya, Al Qur’an terdiri atas dua cover sampul dan ratusan lembar kaligrafi. Pemandangannya luar biasa indah. Seluruh mata memandang, yang kita lihat adalah jejeran kaligrafi. Saat ini museum Al Qur’an Akbar selalu dikunjungi wisatawan, terutama di hari libur.

Dengan tiket masuk Rp 5.000/orang, kita dapat sepuasnya menikmati panorama di sana. Sayangnya pihak pengelola kurang memperhatikan fasilitas toilet untuk pengunjung. Kalaupun ada, kebersihannya tidak terjaga. Terlepas dari kendala ini, kita patut mempromosikannya ke luar negri sebagai salah satu keunikan dan keindahan yang ada di Indonesia. (Umi Wahyu Moehadi)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here