Mudik Lebaran sambil berwisata ke Jawa tengah , kaya obyek dan ragam kuliner

0
1695
Candi Borobudur, Jawa Tengah, salah satu obyek wisata yang mendunia dan menjadi salah satu keajaiban dunia

pesona-indonesia_update-22novJAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Mudik Lebaran ke Jawa tengah, banyak obyek wisata dan ragam kuliner yang dapat dinikmati. Maklum selain Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi, banyak kota besar, sedang dan kota kecil di provinsi ini yang memiliki daya tarik wisata dan layak dikunjungi sambil bersilaturahmi dengan keluarga di kota asal atau kampung halaman.

Luas wilayah Jawa Tengah membentang sejauh  34.548 km², atau sekitar 28,94% dari luas pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah juga meliputi Pulau Nusakambangan, tempat eksekusi sejumlah gembong narkoba dan berdekatan dengan perbatasan Jawa Barat serta Kepualauan Karimun Jawa di Laut Jawa.

Setelah Semarang maka Solo menjadi kota kedua terbesar di Jawa Tengah yang banyak dikunjungi wisatawan menyusul kemudian Magelang dengan obyek wisata Candi Borobudur dan kawasan wisata Dieng di Wonosobo.Selain itu kota –kota lainnya adalah kota batik Pekalongan, Tegal, Purwokerto, Kudus, Cilacap, Salatiga,Klaten, Jepara hingga Sragen. Masih banyak kota kecil lainnya seperti Ungaran, Boyolali, Purworejo, Wonogiri, Pati, Sukoharjo, Purwodadi.

Di Jawa Tengah juga  terdapat 125 desa wisata yang tersebar di beberapa kabupaten kota. Namun baru ada dua desa wisata yang layak jual di pasar internasional yaitu Desa Wisata  Dieng  dan Desa Wisata Borobudur. Hebatnya lagi, provinsi ini juga memiliki spot selam yang digandrungi kalangan profesional muda Indonesia dan wisatawan asing tentunya.

Laman resmi Kementrian Pariwisata; www.indonesia.travel menyajikan informasi lengkap tentang Pulau Kemojan, tempat wisata selam di Karimunjawa. Jadi selain suasana pedasaan di darat, wisatawan juga bisa mengeksplorasi kehidupan nelayan di Kepulauan Karimunjawa yang memiliki 27 pulau.

Keluarga Ambi dan Arum, misalnya, yang pulang kampung ke Kota Rembang  memilih singgah berwisata dulu ke Kota Semarang sebagai kota metropolitan atau kota terbesar ke lima di Indonesia yang patut untuk dijelajahi.  Keputusan itu memang tepat karena berwisata merupakan momen  untuk memberikan edukasi kepada buah hatinya tercinta, Putri Satira Aryasa.

Bagi Ambi sendiri Ibu kota provinsi Jawa Tengah yang  terletak di Pantai Utara Jawa ini punya daya tarik sendiri karena merupakan kota pelabuhan dengan masyarakat yang heterogen. Saat ini Semarang pun menjadi tempat singgah kapal pesiar asing yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas. Wisatawan yang memanfaatkan kapal pesiar internasional berhenti di Semarang untuk mengunjungi berbagai tujuan wisata di Jawa Tengah terutama Candi Borobudur.

Sejarah Kota Semarang Jawa Tengah berawal kurang lebih pada Abad ke-8 M, yaitu daerah pesisir yang bernama Pragota (sekarang menjadi Bergota) dan merupakan bagian dari kerajaan Mataram Kuno. Daerah tersebut pada masa itu merupakan pelabuhan dan di depannya terdapat gugusan pulau-pulau kecil.

Kota ini memiliki situs sejarah berupa bangunan dan monumen kolonial yang masih berdiri sampai saat ini. Ambi kerap terkesima pula melihat bagaimana kota ini mempercantik diri dengan tetap mempertahankan budayanya yang heterogen dan harmonisasi budaya Jawa bersama budaya China, Arab, dan Belanda.

Selain itu bagi Satira yang sehari-hari tak pernah lepas dari handphone di tangannya, deretan  bangunan tua bersejarah menjadi sasaran menarik  untuk narsis dan langsung di upload di jejaring sosialnya. Karena itu melongok kawasan Kauman, Pecinan, dan Kota Lama menjadi prioritas. Apalagi bangunan tua bersejarah itu dulunya merupakan kawasan perdagangan Eropa.

Kota Lama Semarang ini juga mendapat julukan sebagai Little Netherland yang dirancang untuk menjadi pusat pemerintahan Belanda pada masa penjajahan dulu.Tidak heran jika kita mengunjungi tempat wisata Kota Lama Semarang ini kita menemukan gedung-gedung perkantoran, restoran, hotel dan pusat keagamaan

Salah satu bangunan yang wajib dikunjungi adalah Gereja Blenduk yang sudah berusia lebih dari dua setengah abad. Gereja ini memiliki nama asli Nederlandsch Indische Kerk dan masih digunakan sebagai tempat ibadah hingga kini menjadi Landmark Kota Semarang.

Gedung Marabunta adalah gedung kuno lainnya dengan ornamen semut raksasa di atapnya. Di tempat ini pernah dilangsungkan sebuah pertunjukkan seorang spionase wanita cantik bernama Matahari. Ada juga pabrik rokok Praoe Lajar yang bangunannya sangat terawat dengan nuansa merah putih. Ada juga Stasiun Tawang dengan gaya arsitektur indis yang masih dioperasikan hingga sekarang.

Tempat lain yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Masjid Agung Jawa Tengah yang berlokasi di kota Semarang, tepatnya di Jalan Gajah Raya merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia yang banyak dikunjungi bukan hanya untuk beribadah saja, melainkan untuk kegiatan wisata juga.

Diresmikan pada tahun 2006, Masjid Agung Jawa Tengah yang memiliki luas lebih dari 7,500 meter persegi ini mampu menampung sekitar 16,000 jamaah. Selain bangunan utama masjid, di Masjid Agung Jawa Tengah juga terdapat berbagai fasilitas lain seperti ruang akad nikah, auditorium, perpustakaan, penginapan, museum budaya Islam, kafe, toko cenderamata, kereta kelinci, tempat bermain anak-anak, dan lain-lain.

Masjid Agung Jawa Tengah ( kiri) dan Klenteng Sam Po Kong, dua obyek wisata religi di  kota Semarang.
Masjid Agung Jawa Tengah ( kiri) dan Klenteng Sam Po Kong, dua obyek wisata religi di kota Semarang.

Satira juga tidak ingin melewatkan kunjungan ke Klenteng Sam Poo Kong,  petilasan  dari Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah Islam asal Tiongkok, ketika berada di Jawa, khususnya Semarang pada abad ke-14 Masehi. Bagi Satira berada di lingkungan klenteng ini membawanya seolah berada di bumi Tiongkok setelah sebelumnya seolah tengah melaksanakan umrah di Madina, Saudia Arabia ketika berada di Masjid Agung Jawa Tengah yang megah.

Konon dulu Laksamana Cheng Ho berlayar melewati Laut Jawa dan karena ada seorang awak kapalnya yang sakit yaitu Wang Jinghong atau dikenal sebagai Kiai Jurumudi Dampo Awang,  akhirnya  Cheng Ho memerintahkan membuang sauh. Kapalnya merapat ke pantai utara Semarang dan mendirikan sebuah masjid di tepi pantai yang sekarang telah berubah fungsi menjadi Klenteng.

Daya tarik lainnya untuk menyambangi obyek-obyek wisata di Semarang dan sekitarnya tentu saja karena keragaman kulinernya yang beragam warisan dari budaya China, Arab, dan Belanda yang dominan dan lahirlah makanan seperti Bandeng presto, Soto Bangkong “Soto Semarang”, Mie Kopyok, Sega becak, Kuah Tahu Pong dan Pecel Koyor.

Di deretan jajanan pasar khas kota Semarang ada Lunpia Semarang,Wingko Babat. Spekoek, Jongkong Singkong, Gandos, Kue Moci, Bakpia, Tahu Semarang,  Blanggem, Mentho, Timus, Gilo-gilo dan Tahu Gimbal yang dipastikan memberikan pengalaman wisata kuliner yang berkesan. Ambi dan keluarga tak lupa membawa oleh-oleh kuliner khas Semarang ini, sambil membayangkan masih sempat menyuguhkannya bersama ibu dan bapaknya melewati malam takbiran.

Menyusuri Jalur Selatan

Mudik Lebaran melalui jalur Selatan  menjadi pilihan Ruli dan Abhi, kakak-beradik  yang kuliah di kota Pahlawan, Surabaya.  Kota Solo yang menjadi kota asal Presiden Joko Widodo menjadi kota tujuan wisata yang diminati kedua pemuda asal Lampung ini yang mudik dengan kendaraan Avanza hitamnya.

Berkunjung ke Kota solo memang kurang lengkap apabila  belum mengunjungi Keraton Surakarta Hadiningrat. Didalamnya banyak tersimpan berbagai peninggalan Raja-raja sebelumnya. Selain itu di Keraton Surakarta juga sering diselenggarakan upacara adat pada hari-hari tertentu, seperti Sekaten pada malam Maulid nabi dan arak kebo Kyai Slamet saat malam 1 Suro.

Memadukan wisata budaya, wisata belanja dan rekreasi juga bisa dilakukan sekaligus di kota ini. Setelah terbakarnya pasar Klewer, pilihan belanja bisa dilakukan ke Pusat Grosir Solo  ( PGS) yang lebih nyaman. Di pasar modern ini juga dijual berbagai macam pakaian dari mulai batik, baju, sepatu, tas.

Selain harganya yang bisa bersaing, lokasi PGS ini satu kawasan dengan Keraton Surakarta atau tepatnya di sebelah timur Alun-alun Utara Keraton Surakarta. Malam hari di depan PGS juga ada tempat wisata kuliner bernama Galabo. Nama ini singkatan dari Gladak Langen Bogan yaitu semacam pusat kuliner yang berada di Solo dan buka setiap malam hari menyediakan jajanan kesukaan dijajakan seperti bistik Solo, angkringan, sate, bandeng  bakar, soto, timlo, gudek dan makanan khas lainnya.

Saat Lebaran dan hari libur lainnya, tempat rekreasi keluarga yang banyak dikunjungi wisatawan adalah Pandawa Water World di Kabupaten Sukoharjo. Wahana air yang berdiri pada 22 Desember 2007 yang didesain sesuai kisah pewayangan India. Di dalamnya ada 15  wahana petualangan seru seperti Action River, Fantastic Slide, Warm Spa, Sight Tower, Bima Slide, Raft Slide, Gatotkaca Bungy Tower dan masih banyak lagi. Namun, wahana air yang paling menantang adalah Black Hole Slide.

Suasana Kampung Batik Kauman, Solo.
Suasana Kampung Batik Kauman, Solo.

Berwisata ke kota Solo jangan lupa mampir ke Kampung Batik Kauman untuk wisata edukasi agar anak-anak dan anggota keluarga lainnya memahami warisan budaya leluhur berupa kain batik yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Kampung seluas 20,10 ha di Kelurahan Kauman Kecamatan Pasar Kliwon ini  mempunyai kaitan erat dengan sejarah perpindahan keraton Kartosuro ke Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Di Kampung Kauman inilah yang menjadi cikal bakal industri batik Solo.

Kampung Batik Kauman

Berkunjung ke Kampung Kauman adalah tempat yang sangat pas kalau ingin merasakan nuansa batik yang sangat kental. Hampir 50% warga setempat membuka usaha rumah batik, toko kerajinan, museum batik dan usaha lainnya seperti kaos batik baik cetak maupun dengan desain batik tulis.

Jalan-jalan di kampung ini tergolong sempit hanya bisa untuk satu mobil yang bergan-tian, naik motor, sepeda gowes atau bahkan berjalan kaki menyusuri toko-toko. Banyak juga becak berseliweran di gang-gang membawa wisatawan nusantara yang ingin menikmati nuansa kampung batik Kauman.

Obyek unggulan di Jawa Tengah lainnya yang sudah mendunia adalah Candi Boorobudur yang oleh UNESCO, lembaga internasional dari PBB diakui  sebagai salah satu monumen Budha terbesar di dunia. Candi ini memiliki 2672 panel relief yang apabila disusun berjajar maka panjangnya mencapai 6 km. Ansambel reliefnya merupakan yang paling lengkap di dunia dan tak tertandingi nilai seninya serta setiap adegannya adalah mahakarya yang utuh.

Candi berbentuk stupa ini didirikan oleh para penganut Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.Namun di sekitar Borobudur ini justru ada sejumlah desa wisata yang bisa menjadi rujukan untuk menikmati pengalaman ‘pulang kampung’ dengan suasana pedesaan sesungguhnya.

Sekitar  2 km ke arah timur Candi Borobudur ada desa wisata Wanurejo. Di antara lereng pegunungan Menoreh dan diapit dua buah sungai (Sungai Progo dan Sungai Sileng), Pastinya desa wisata ini akan menyempurnakan mudik di sekitar candi kebanggaan Indonesia tersebut.

Desa Wisata Wanurejo banyak dikunjungi wisatawan yang ingin melihat langsung rumah-rumah tradisional yang tidak banyak berubah sejak dahulu. Bangunan tradisional rumah joglo kuno berusia lebih dari 1 abad begitu menarik untuk diamati.

Di sini juga menjadi sentra pembuatan beragam industri seni kriya berbahan baku kayu, logam maupun batu. Di sini Anda dapat membeli cenderamata berupa miniatur candi, pinsil dari biji nyamplungan, resine atau fiber, ukir bambu, patung gipsum, topeng kayu, keramik, meubel bambu, dan lukisan.

Pastinya desa wisata ini juga mampu menyajikan atraksi seni tradisional, seperti tempat latihan seni karawitan dari Sanggar Joyowiyatan di Dusun Tingal. Kesenian tradisional Wanurejo yang umumnya dikenal, yaitu: tontongklek, tari jathilan, pituturan, tari dayakan, tari topeng hitam, serta lagu Dhandang Gulo yaitu lagu yang menceritakan asal-usul Desa Wanurejo.

Gua Jati jajar, Kebumen
Gua Jati jajar, Kebumen

Menyusuri Peta Jalur Lebaran 2015, Ruli dan Abhi juga singgah ke kota Kebumen, tempat seorang paman tinggal di dekat stasiun kereta api sambil bersilaturahmi dengan keluarga, waktu transit melewati Kebumen juga dimanfaatkan untuk melongok obyek-obyek wisata seperti  Gua Jatijajar, sebuah situs geologi yang terbentuk dari proses alamiah.

Gua yang keseluruhannya terbentuk dari kapur, ini memiliki panjang 250 meter, dari pintu masuk sampai keluar dengan lebar rata-rata 15 meter, dan tinggi rata-rata 12 meter. Lokasi gua ini berada 50 meter di atas permukaan laut. Gua Jatijajar merupakan salah satu objek pariwisata andalan di Kabupaten  Kebumen, selain Waduk Sempor.

Gua ini ditemukan pada tahun 1802 oleh seorang petani bernama Jayamenawi yang memiliki lahan pertanian di atas gua tersebut. Pada suatu ketika Jayamenawi sedang mengambil rumput, kemudian jatuh kesebuah lubang yang ternyata lobang itu adalah sebuah ventilasi yang ada di langit-langit gua tersebut.Ibarat masuk ke dalam ‘perut’ bumi di dalam Gua Jatijajar terdapat 7 (tujuh) sungai atau sendang, tetapi yang data dicapai dengan mudah hanya empat sungai yaitu Sungai Puser Bumi, Sungai Jombor, Sungai Mawar dan Sungai Kantil.

Gua Jatijajar mencakup kawasan 5,5 hektare di sekitar kawasan terdapat beberapa kios cinderamata maupun penjual makanan. Di dalam gua telah dilengkapi dengan penerangan dan jalur yang memudahkan pengunjung menjelajahi gua. Selain Gua Jatijajar, di Kebumen ada juga Gua Petruk.

Masih dalam wilayah Kebumen juga ada Benteng Van Der Wijk yang berlokasi  di jalan Sapta Marga, Gombong, Kebumen. Letaknya sekitar 300 m dari jalan raya Kebumen – Yogyakarta, benteng ini adalah salah satu obyek wisata menarik di Jalur Pantai Selatan.

Benteng Van Der Wijk merupakan benteng peninggalan Belanda yang dijadikan sebagai salah satu tempat wisata di Kebumen. Benteng ini seluruhnya terbuat dari batu bata merah dan dibangun pada abad ke XVIII. Nama Van Der Wijck sendiri berasal dari nama komandan pada saat itu yang karirnya cukup cemerlang dalam membungkam perlawanan rakyat Aceh.

Pada awal didirikan, benteng ini diberi nama Fort Cochius (Benteng Cochius) dari nama salah seorang Jenderal Belanda Frans David Cochius (1787-1876) yang pernah ditugaskan di daerah Bagelen (salah wilayah karesidenan Kedu). Dengan luas mencapai 3606 m2 dan tinggi 9,67 m, warna merah yang mendominasi menjadikan benteng ini tampak mencolok dibanding bangunan-bangunan kuno di sekelilingnya.

Benteng ini memiliki 16 barak dengan ukuran 7,5 x 11 m2. Kompleks bangunan di sekitar Benteng Van der Wicjk adalah barak militer yang awalnya digunakan untuk meredam kekuatan pasukan Pangeran Diponegoro. Karena kehebatan beliau yang juga didukung pemimpin-pemimpin lokal di selatan Jawa, Belanda menerapkan taktik benteng stelsel yaitu pembangunan benteng di lokasi yang sudah dikuasainya.

Tujuannya jelas, untuk memperkuat pertahanan sekaligus mempersempit ruang gerak musuh, terutama di karesidenan Kedu Selatan. Benteng ini didirikan atas prakarsa Jenderal Van den Bosch. Pada jaman penjajahan Jepang, kompleks benteng ini menjadi tempat pelatihan prajurit PETA.

Puas berkeliling di Kebumen dan sekitarnya, Ruli dan Abhi tancap gas menuju Merak, Cilegon untuk mengebrang dengan kapal Ferry ke Lampung. Mudik tahun ini membuka wawasan dua mahasiswa ini untuk mencari peluang bisnis dengan mengunjungi sentra-sentra usaha kecil menengah di berbagai kota di Jawa Tengah, bersilaturahmi dengan keluarga dan berwisata memberikan penyegaran di tengah tuntutan menimba ilmu di bangku kuliah. (hildasabri@yahoo.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.