MOU ASTINDO-BI, transaksi tiket internasional kini dalam Rupiah

0
2130
Berbagai penerbangan asing yang melakukan transaksi tiket di wilayah Indonesia kini harus menggunakan mata uang Rupiah

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Upaya ASTINDO agar pembayaran tiket pesawat asing menggunakan transaksi dengan rupiah membuahkan hasil. Bank Indonesia undang Astindo dan Persatuan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI)  menandatangai kerjasama untuk penggunaan mata uang Rupiah dalam bisnis tiket penerbangan internasional dan hotel.

“Memorandum of Understanding (MOU) antara ASTINDO, PHRI dengan Bank Indonesia akan dilaksanakan Jumat 14 November 2014 di Bank Indonesia. Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo berkomitmen agar transaksi tiket penerbangan asing yang selama ini banyak menggunakan mata uang dollar AS kini harus dalam mata uang Rupiah,” ungkap Elly Hutabarat, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan (ASTINDO), hari ini.

Menurut Elly, sejak berdirinya ASTINDO pada 1999, transaksi pembayaran tiket penerbangan internasional dengan mata uang dollar Amerika sudah menjadi perhatian organisasi karena semua transaksi dalam wilayah negara Indonesia seharusnya menggunakan mata uang Rupiah.

Sebagai asosiasi travel agent yang membidangi bisnis Ticketing dari berbagai Airlines ini, ASTINDO yang berada di bawah naungan Direktorat JenderalPerhubungan Udara dan disahkan melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Perhubungan Republik Indonesia dengan No. KP 263 /2000 sejak itu dalam berbagai kesempatan menyuarakan pentinya transaksi dalam mata uang Rupiah .

“Tujuan pendirian ASTINDO adalah untuk memajukan, dan melindungi kepentingan Travel Agent khususnya dalam bidang penjualan tiket penerbangan dan sekaligus untuk mencari solusi dalam menyelesaikan permasalahan tata niaga bisnis ticketing, terutama transaksi dalam US$ itu,”.

Oleh karena itu, kata Elly, ketika Juli lalu Bank Indonesia mengundang empat organisasi untuk membahas transaksi keuangan di wilayah negara Republik Indonesia ini dengan mengundang ASTINDO, Persatuan Hotel & Restoran Indonesia ( PHRI), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) untuk membahas transaksi keuangan dalam mata uang Rupiah pihaknya sangat antusias sekali.

Awal pertemuan  berasal  dari instruksi Menteri Koordinator Perekonomian Chaerul Tanjung (Kabinet Indonesia Bersatu II) , dimana setelah menelaah transaksi di Pelabuhan laut yang diterapkan oleh Pelindo, akhirnya keluar kebijakan untuk menggunakan mata uang Rupiah disetiap transaksi di Indonesia harus diterapkan, selain kebijakan tersebut juga mengacu kepada UU no 21 th 2007.

Bagi Bank Indonesia sangat penting menetapkan kebijakan penggunaan mata uang Rupiah disetiap transaksi di Indonesia.

“Mata uang suatu Negara , mempunyai kedudukan yang sama dengan Lagu Kebangsaan, Bendera Negara, dan Tanah Air yang merupakan martabat bangsa. Oleh karena itu memang sudah waktunya Rupiah menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, yang selama ini masih dibayang-bayangi oleh US Dollar sebagai penentu harga Ticket International di Indonesia,” ungkap Elly Hutabarat yang juga pemilik PanTravel..

Tentunya untuk menerapkan nilai Rupiah pada tariff penerbangan internasional ini, tidak semudah membalikan tangan. Mengingat kebijakan ini akan melibatkan seluruh international airlines yang ticketnya diterbitkan di Indonesia dan International Air Transport Association (IATA) sebagai lembaga international.

ASTINDO tidak bisa berperan sendiri begitu saja dalam penetapan ini, karena tergantung kepada airlines sebagai principle-nya. untuk itu ASTINDO akan menggandeng Garuda Indonesia sebagai National Carrier yang menjadi tuan rumah di Indonesia dan pelopor pengguna kebijakan tersebut.

Secara terpisah, pembahasan mengenai kebijakan penggunaan mata uang Rupiah ini pernah diangkat oleh ASTINDO kedalam forum Agency Program Join Council (APJC), yang merupakan bagian dari IATA. Pada prinsipnya IATA dapat menerima pengajuan tersebut, namun masih ada kendala mengenai jumlah kolom yang cukup banyak diperlukan untuk menuliskan nominal Rupiah pada ticket International.

Elly mengungkapkan, sebelum MOU dengan ASTINDO dan PHRI, pihak Bank Indonesia sudah lebih dulu menjalin kerjasama dengan pihak kepolisian (POLRI) sehingga setelah kebijakan transaksi dalam mata uang Rupiah ini dilakukan maka semua anggota ASTINDO dan anggota PHRI melakukan transaksi dalam mata uang Rupiah.

“Kalau ada anggota yang melanggar dan masih melakukan transaksi keuangan dalam dollar AS maka akan ada sangsi hukumnya karena POLRI akan mengawasi transaksi keuangan. Selanjutnya Bank Indonesia akan menayangkan iklan layanan masyarakat mengenai kebijakan penggunaan Rupiah pada seluruh transaksi di Indonesia, “ kata Elly didampingi Sjachrul Firdaus, Executive Director ASTINDO dan Sartjee, Manager ASTINDO Training Center. ([email protected])

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.