Menteri Pariwisata Arief Yahya akan membuka pameran Clean dan Laundry Expo 2015 di JIExpo, Kemayoran 26-28 Maret 2015

0
976
Menteri Pariwisata Arief Yahya (tengah baju putih) diapit ketua APKLINDO M Shiddiq dan Wasono Raharjo, Ketua APLI serta Dirjen Pemasaran Kementrian Pariwisata Esthy Reko Astuty ( kedua dari kanan). Menpar berkomitmen untuk membuka pameran Clean & laundry Expo 2015 penunjang industri pariwisata nasional. Pameran yang diikuti 16 negara ini juga diisi dengan berbagai seminar. (foto: Hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik penyelenggaraan Clean dan Laundry Expo 2015 karena upaya untuk menjaring 20 juta wisman lima tahun ke depan harus didukung dengan kondisi infrastruktur dan obyek-obyek wisata yang bersih dan nyaman begitu juga kondisi perhotelannya.

Kegiatan pameran alat-alat kebersihan (Clean) dan laundry  penunjang industri pariwisata ini akan berlangsung di Jakarta International Expo, Kemayoran pada 26-28 Maret 2015 diikuti 16 negara dari kawasan Eropa seperti Inggris, Italia,  Singapura, Malaysia, Thailand maupun dari Asia seperti China, Jepang dan Taiwan. Selain itu juga diklaim sebagai satu-satunya trade show bertaraf internasional untuk industri ini di kawasan Asean.

Menteri Pariwisata Arief Yahya berkomitmen membuka pameran yang diselenggarakan untuk kedua kalinya oleh Asosiasi Pengusaha Klining Servis Indonesia ( APKLINDO) dan Asosiasi Profesional Laundry Indonesia ( APLI). Pameran ini sekaligus menjadi wadah bagi produsen, para pelaku dan masyarakat untuk mempelajari perkembangan tekhnologi yang sedemikian cepat, standarisasi maupun kompetensi SDM.

Pihaknya berharap industri kebersihan ( Clean) dan laundry dapat berkontribusi dalam membangun budaya bersih baik pada masyarakat umum maupun kalangan industri wisata karena saat ini kenyataannya dalam hal sanitasi Indonesia menempati rangking 40 terburuk dari 100 negara di dunia .

“Bayangkan betapa malunya saya ketika pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali  beberapa waktu lalu dan sedang membawa romobongan turis China yang akan berwisata ke Indonesia tapi begitu turun menjejakkan kaki ternyata banyak sampah yang konon merupakan sampah kiriman dari tempat lain karena di tepi laut,” kata Menteri.

Berbicara  saat menerima audiensi Ketua dan Sekjen APKLINDO, M.H Shiddiq dan Tommy G Hardjana, Ketua APLI, Wasono Raharjo serta Teddy Halim, Direktur PT Media Artha Sentosa sebagai pelaksana kegiatan, Arief Yahya mengatakan masalah kebersihan bukan hal yang kecil atau sepele.

Pihaknya berharap dapat segera mengeluarkan Keputusan Mentri (Kepmen)  mengenai standarisasi pengelolaan toilet bersih di destinasi wisata terutama di bandara-bandara internasional karena bandara adalah pintu gerbang utama masuknya wisatawan mancanegara ke Indonesia.

“Kalau semua bandara internasional di Indonesia kondisi toiletnya bersih dan dikelola secara profesional maka upaya menjaring kunjungan wisman tidak malu-maluin lagi. Dalam hal ini saya minta APKLINDO yang sudah memiliki standarisasi kebersihan dari Badan Nasional Serifikasi Profesi ( BNSP) bekerjasama dengan Angkasa Pura untuk melaksanakannya,” kata Menteri Pariwisata.

Supaya gerakan bersih ini menyeluruh, Menteri Pariwisata juga menantang APKLINDO untuk meneruskan Penghargaan Toilet Bersih Bandara Internasional yang sejak 2007 telah dilaksanakan oleh Kementrian Parekraf agar semua pengelola bandara mengikuti standard operational procedure (SOP) sehingga ada ataupun tidak ada kompetisi peringkat kebersihan di Indonesia terus naik.

“Ujungnya dari usaha ini adalah kebersihan dan bersih itu cermin dari kenyamanan berwisata. Masalah kebersihan di bandara bukan hanya desain toilet tapi SOP serta lingkungan di kawasan area bandara juga harus bersih supaya tidak terjadi lagi apa yang saya alami. Waktu itu saya benar-benar marah setelah menempuh perjalanan panjang, turun pesawat lihat sampah,” tegasnya.

Dia juga menantang APLI untuk menumbuhkan minat masyarakat pada bisnis laundry di daerah karena pertumbuhan kamar hotel  dari jaringan hotel nasional kini merambah kota-kota kecil. Bila tidak ditunjang dengan industri laundry yang memadai maka akan mengurangi pelayanan yang optimal di hotel-hotel tempat wisatawan menginap.

“Ketika saya menjadi Dirut PT Telkom, kami membina 125.000 Warung telekomunikasi  ( wartel) di daerah. Bisnis ini selama lebih dari 10 tahun menghidupkan masyarakat sebagai UMKM. Nah APKLINDO dan APLI saya tantang untuk membuat model bisnis ini sehingga bukan hanya berkontribusi secara nasional terhadap pengembangan pariwisata di tanah air tetapi juga menciptakan entrepreneur baru di daerah,” tegasnya.

Dimanapun, ujarnya, pemerintah adalah sektor penggerak perekonomian masyarakat. Kalau ke daerah gedung-gedung tinggi juga pemerintah yang lebih dulu membangun baru kemudian tumbuh bangunan lainnya termasuk hotel dari kalangan swasta.

Oleh karena itu pihaknya berharap, pemerintah pusat maupun daerah yang telah mendorong-dorong investor masuk menanamkan investasi termasuk di industri perhotelan, kawasan wisata, obyek wisata jangan dimatikan usahanya oleh kebijakan yang kontra produktif seperti yang dialami perhotelan saat ini.

“Gara-gara ada larangan instansi pemerintah menyelenggarakan kegiatan Meeting Incentif Conference dan Exhibition (MICE), sudah banyak  karyawan yang dirumahkan karena itu saya tegas saja surat saya ke Menpan agar cabut larangan itu,” jelasnya.

“Analoginya kalau kita butuh jembatan lalu ada oknum yang nakal dalam pembuatannya jangan jembatannya yang tidak jadi dibuat tapi oknumnya yang disingkirkan dan diproses. Kalau jembatannya sebagai sarana public harus tetap dibangun,” tegas Arief Yahya.

Sementara itu Teddy Halim sebagai event organizer yang melaksanakan kegiatan melaporkan bahwa Expo Clean  dari APKLINDO dan Expo Laudry 2015 dari APLI merupakan dua industri yang saling mendukung dan menampilkan produk serta layanan kebersihan dan hospitality.

“Trade show ini menampilkan mesin cleaning komersial dan industri serta perlengkapannya termasuk bahan penunjang kimia, peralatan kebersihan dan perlengkapan seperti cleaning sweeper, industrial Vacuums, high pressure, industrial scrubber,” kata Teddy.

Pihaknya juga mengundang seluruh kepala daerah di Indonesia karena berbagai perlengkapan untuk membersihkan kota juga dipamerkan sehingga ajang pameran internasional ini benar-benar menjadi wahana edukasi bagi berbagai pihak mulai dari pengelola pemerintahan.

“Pameran juga diisi dengan seminar-seminar pada hari kedua dan ketiga sehingga benar-benar bermanfaat baik dari segi pengetahuan maupun dari sisi mengejar ketertinggalan dalam hal tekhnologi yang demikian cepat. Dalam hal ini kami menggandeng produsen Karcher dari Jerman sebagai partner pameran dimana perusahaan ini ketika tahun lalu beroperasi di Indonesia langsung membuat CSR dengan membersihkan Tugu Monas,” tambahnya. (hildasabri@yahoo.com)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.