Menpar: Thailand, Pesaing Utama Pariwisata Indonesia

0
907
turis asing nikmati wisata sepeda du desa wisata Pentingsari Jateng

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan pariwisata Indonesia ditetapkan menjadi core business Indonesia, karena memiliki banyak keunggulan kompetitif dan komperatif, di antaranya pariwisata merupakan penghasil devisa terbesar. Kontribusi pariwisata terhadap perekonomian (PDB) nasional semula sebesar 9,5% pada 2014 akan meningkat menjadi 15% pada 2019 mendatang, begitu pula lapangan kerja yang tercipta semula 11 juta menjad 13 juta.

“Keunggulan komperatifnya karena menjadi terbaik di kawasan regional bahkan melampaui ASEAN. Pesaing utama pariwisata Indonesia adalah Thailand, sedang negara ASEAN lainnya mudah dikalahkan. Keunggulan komperatif lainnya country branding Wonderful Indonesia yang semula tidak masuk ranking branding dunia, kini di ranking 47 sehingga mencerminkan positioning dan differentiating Indonesia di tingkat dunia,” papar Menpar pada acara focus group discusion (FGD) digelar Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) di Gedung Sapta Pesona Jakarta Kemenpar, Selasa (7/3).

Keunggulan komperatif lainnya, sambung Menpar, pariwisata Indonesia mudah menjadi destinasi utama dunia sekaligus tourism hub. “Untuk menjadi trade dan investment hub akan terlalu sulit bagi Indonesia untuk mengalahkan negara lain, seperti Singapura.

Sebaliknya, Indonesia akan mudah menjadi tourism hub yang pada prinsipnya menciptakan people-to-people relationship dan diyakini trade dan investment akan ikut tumbuh dengan pesat. Setelah ditetapkan sebagai core business negara, maka alokasi sumber daya terutama anggaran harus diprioritaskan, lontarnya.

Menpar menilai Indonesia akan dapat memenangkan persaingan di tingkat regional dan global apabila seluruh Kementerian/Lembaga yang ada bersatu padu untuk fokus mendukung core business yang telah ditetapkan; ‘Maju Serentak Tentu Kita Menang’. “Indonesia Incorporated, merupakan strategi untuk membangun pariwisata sesuai dengan target nasional yang memerlukan peran dan dukungan dari semua elemen yang tergabung dalam sinergisitas pentahelix (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media),” sambungnya.

Menteri Arief juga mengajak para pelaku industri wisata Indonesia untuk bekerjasama dengan pemerintah. Dalam hal ini, pelaku industri harus bisa meyakinkan pemerintah bahwa yang diinginkannya untuk kepentingan bersama. “Government punya kekuasaan. Jangan dilawan karena dia tembok. Maka pengaruhi saja. Misalnya, kalau regulasi ini dicabut maka ekonomi akan naik,” tegas Arief.

Menurutnya, sinergi yang baik antara industri dan pemerintah merupakan hal penting dalam memajukan pariwisata Indonesia. Dengan begitu target 15 juta wisatawan mancanegara (wisman) di tahun 2017 dan 20 juta wisman di 2019 tentu akan lebih mudah dicapai. “GIPI berperan sebagai ujung tombak dalam mendukung pencapaian target pemerintah sebagaimana perannya industri adalah leading dan pemerintah mendukung,” ujar Arief.

Dalam menjual pariwisata Indonesia, kata dia, industri dapat mengikuti pola kerja yang telah dibentuk Kemenpar. Diantaranya adalah DOT (Destinasi, Originasi dan Timeline). “Misalnya seperti pasar Timur Tengah setelah meningkatnya pemberitaan setelah kunjungan Raja Salman. Harus tahu destinasi favorit mereka apa dan kapan biasanya mereka merencanakan liburan. Karena itu penting bagi rekan-rekan mengetahui originasi dan timeline itu penting,” kata dia.

Menpar juga mengingatkan industri untuk tidak malu melakukan benchmark terhadap industri-industri pariwisata negara lain yang lebih maju. “Karena itu saya senang acara ini untuk diadakan terus-menerus. Mungkin FGD ini bisa monthly dengan topik-topik tertentu,” ujar Menpar.

Dalam FGD, Menpar menginginkan para pelaku usaha untuk fokus dalam membahas suatu hal. Ia juga memberikan kejelasan bagi para pelaku industri wisata bahwa setiap destinasi unggulan akan mempunyai bandara internasional. “Jangan sampai tidak fokus karena tidak akan ada hasilnya. Saya sering ketemu asosiasi seperti ini, maka dari itu kerjakan satu-satu dan kemudian jalan. Saya beri tahu, seluruh destinasi adalah internasional airport. Karena, kalau mau jadi global player gunakanlah standar dunia,” tutup dia.

Ketua GIPI Didien Djunaedy menjelaskan bahwa pelaku industri yang hadir sekitar 82 orang dalam FGD ini. GIPI merekomendasikan hal-hal penting bagi regulator. “Dalam rangka menyokong pemerintah mewujudkan 15 juta wisman dan lebih dari 200 juta wisnus kita yakin tercapai. Contohnya, saat ini dalam wisata bahari pemerintah menghilangkan regulasi teritori, artinya kapal yacht dapat masuk dengan mudah,” kata Didien.

Ditambahkan tahun 2017 menjadi momentum untuk meningkatkan kegiatan penjualan produk wisata secara maksimal karena dua tahun terakhir ini kegiatan branding dan advertising yang dilancarkan Kemenpar secara global dan massif telah berhasil membangun citra dan persepsi global terhadap destinasi Indonesia. “Tahun ini sebagai momentum untuk melakukan selling the products sebagai upaya mencapai target pariwisata nasional,” kata Didien.

Kegiatan FGD GIPI yang berlangsung satu hari ini berlangsung dalam dua sesi masing-masing membahas tema “Peluang dan Tantangan Kolaborasi Pelaku Industri dan Kemenpar “ dilanjutkan tema kedua “Industri dan Deregulasi Industri Pariwisata’ dengan menampilkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi pariwisata di antaranya Riyanto Sofyan dan Dony Oskaria. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.