Menpar Arief Yahya; Kalangan Akademisi Agar Ikut Telaah Trend Konsumen Pariwisata RI

0
777

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata Arief Yahya mengingatkan para akademisi dan penyelenggara pendidikan pariwisata ikut menelaah trend konsumen pariwisata ke depan sehingga pariwisata Indonesia dapat memenangkan persaingan yang ketat dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand.

“Kita musti paham portofolio pasar konsumen kita siapa ? portopolio pelanggan personal, bisnis dan internasionalnya siapa dan portopolio produknya bagaimana karena portopolio pariwisata Indonesia saat ini yang datang karena produk alam 35%, budaya 60% dan buatan manusia ( man made) 5%,” jelasnya saat memberikan paparan pada Rapat Koordinasi Nasional Perguruan Tinggi Penyelenggara Pendidikan Pariwisata di Hotel Merlynn Park, Jakarta, Selasa (24/11/2015).

Dia mengingatkan portopolio bisnis saat ini belum tentu benar karena itu hal yang perlu diperhatikan adalah kemana trend yang diminati konsumen ke depan sehingga jika dapat memahami kebutuhan pelanggan pariwisata Indonesia baik wisatawan nusantara ( wisnus) maupun mancanegara( wisman) maka barulah bisnis bukan sekedar tumbuh tetapi menjadi kompetitif dan memiliki daya saing yang tinggi.

“Ketika jadi Dirut Telkom, faktanya masyarakat memang senang memiliki telpon rumah dan adanya warung telekomunikasi ( wartel), tetapi trendnya justru telpon selular. Kemampuan membaca dan menganalisa trend akhirnya lahirlah anak perusahaan seperti Telkomsel yang mampu memenuhi kebutuhan telpon selular. Kalangan industri pariwisata juga harus mampu membaca trend dan menyediakan produk sesuai kebutuhan konsumennya,” tandas Menpar Arief Yahya.

Portopolio produk pariwisata Indonesia itu turunannya ada 9 produk seperti wisata bahari, ekowisata, adventure, wisata warisan budaya dan sejarah, wisata belanja dan kuliner, wisata kota dan desa, wisata MICE, wisata olahraga ( sport tourism) hingga obyek wisata terintegrasi.

“Lima pasar utama kita adalah wisatawan asal China ( 2 juta orang), Singapura ( 2,3 juta), Malaysia (2,1 juta), Australia ( 1,35 juta) dan wisatawan Jepang sebanyak 500.000 orang. Tiga great utama memberikan kontribusi lebih dari 90% yaitu Great Bali berkontribusi 41% dari masuknya wisman, Great Jakarta 27% dan Great Batam kontribusinya 22%. Nah fakta-fakta yang ada inilah yang harus ditelaah,”

Menteri Pariwisata Arief Yahya lalu menantang kalangan akademisi dan para stakeholder lainnya agar dalam dua tahun mendatang pariwisata Indonesia harus mampu mengalahkan Malaysia dan empat tahun mendatang bisa mengalahkan pariwisata Thailand. Apalagi dalam Nawa Cita Presiden Joko Widodo- Jusuf Kalla 2014-2019 sudah ditetapkan sektor prioritas pembangunan kabinet kerja adalah infrastruktur, maritime, energy, pangan dan pariwisata.

“Komparasi terkini angka kunjungan wisman dengan competitor utama di Asean untuk periode Januari-September 2015 Indonesia tumbuh 3,53% dan Thailand untuk periode Januari-Oktober 2015 tumbuh 27%, sementara competitor lainnya seperti Malaysia periode Januari-Maret 2015 turun ( – 8,6%) , Singapura dan Vietnam periode Januari- Agustus 2015 masing-masing turun (-(-0,6% dan -5,9%),” jelasnya.

Tantangan berat pariwisata RI bukan hanya persaingan ketat dalam hal produk tapi juga dalam mencetak kualitas sumber daya manusia (SDM) pariwisata. Hal ini terkait dengan mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan menerapkan ASEAN Common Competency Standards for Tourism Professionals (ACCSTP) dan mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

“Dalam hal peringkat daya saing untuk SDM dan pasar kerja tingkat dunia tahun 2013 kita di ranking 61 tapi 2015 sudah di posisi 53 berkat hasil kerja keras dan sinergitas para stakeholder,” ungkapnya pada Rakornas yang mengangkat tema “Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi Pariwisata Berstandar Internasional” diikuti 107 perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan pariwisata di seluruh Indonesia, serta kementerian dan lembaga..

Arief Yahya menjelaskan bahwa Indonesia selalu kalah dengan Malaysia yang ada di urutan 25 di dunia, Thailand ranking 35, dan Singapura ada di posisi 11 dari 141 negara. Hal itu artinya kita belum dengan baik membangun industri pariwisata.

Rakornas tersebut sebagai upaya untuk meningkatkan sinergisitas di antara lembaga pendidikan pariwisata di seluruh Indonesia dalam rangka mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang pariwisata yang unggul seiring mulai diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015 ini.

Kegiatan ini juga menjadi momentum kebangkitan dalam menyamakan persepsi seluruh perguruan tinggi penyelenggara pendidikan pariwisata untuk meningkatkan kualitas SDM bidang Kepariwisataan. Pemerintah (Kemenpar) berkomitmen untuk meningkatkan kualitas SDM yang diwujudkan dalam bentuk pelatihan dasar kepariwisataan dan sertifikasi yang tahun ini ditargetkan sebanyak 17.500 tenaga kerja pariwisata dan akan naik menjadi 35.000 sertifikasi pada 2016 mendatang.

Sedikitnya ada lima sub-tema bahasan dalam Rakornas yang berlangsung 23-25 November 2015 di antaranya adalah; Tantangan Pendidikan Tinggi untuk Mencapai Kualifikasi Internasional, Akreditasi Perguruan Tinggi sebagai Jaminan Mutu PendidikanTinggiPariwisata, Pengembangan Jejaring Kerja Sama antar Perguruan Tinggi Pariwisata Dalam dan Luar Negeri ACCSTP (ASEAN Common Competency Standards for Tourism Professionals), dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) sebagai acuan pendidikan pada perguruan tinggi. ( [email protected])

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.