Menpar: 10 Destinasi Wisata Unggulan Punya Masalah Berbeda

0
1364
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengakui pengembangan 10 destinasi wisata unggulan masih punya masalah yang berbeda. Meski demikian, Kementrian Pariwisata berupaya mempercepat pengembangannya agar terbentuk 10 “Bali Baru” di Indonesia.

“Saya ambil contoh dua daerah destinasi yakni Tanjung Lesung dan Morotai. Kedua daerah ini punya masalah berbeda,” papar Menpar Arief Yahya pada Rakor Percepatan Pembangunan 10 Destinasi Wisata Prioritas di Jakarta, Rabu (13/04/2016) petang.

Juga dilakukan penandatangan komitmen dalam bentuk kesepakatan bersama Gubernur dan Menteri Pariwisata untuk mempercepat pembangunan 10 destinasi pariwisata prioritas.

Menteri melanjutkan, Tanjung Lesung mengalami kendala pada akses jalan tol, sehingga wisatawan menuju Tanjung Lesung harus menempuh perjalanan jauh. Sementara Morotai butuh lapangan terbang agar wisatawan mendapat akses yang cepat.

Bukan hanya bandara, namun maskapai yang datang di Morotai perlu ditambah. “Saya pernah bilang kepada Bupati Morotai, jika mendatangkan AirAsia ya harus diberi benefide. Karena AirAsia ini punya 1 juta custemer, punya hotel, punya link kuat. Ini harus dimanfaatkan,” sarannya.

Selain itu yang paling penting, kata menteri, daerah jangan terus melakukan subsidi kepada maskapai agar menerbangi wilayahnya. Namun harus mencari solusi serta planning lainya seperti memberikan benefide bisa berupa lahan untuk dikelola sebagai hotel.

“Nah, permasalahan yang ada akan dibahas sekaligus dicarikan solusinya, agar terjadi percepatan pembangunan terhadap 10 destinasi pariwisata prioritas. Juga untuk mengetahui update kebutuhannya serta critical success factor pada destinasi itu,” jelasnya.

Menpar Arief Yahya mengundang gubernur dan bupati yang wilayahnya ditetapkan sebagai 10 destinasi pariwisata prioritas Indonesia untuk melakukan rapat koordinasi percepatan pembangunan terhadap 10 destinasi pariwisata prioritas.

“Jadi sesuai arahan Presiden, pemerintah daerah harus secara serius dan konkret mendukung dan melaksanakan upaya percepatan pembangunan destinasi pariwisata prioritas.

Penetapan 10 destinasi prioritas ini merupakan amanat Presiden, melalui surat Sekretariat Kabinet Nomor B 652/Seskab/Maritim/2015 tanggal 6 November 2015 perihal Arahan Presiden Republik Indonesia mengenai Pariwisata dan Arahan Presiden pada Sidang Kabinet Awal Tahun pada tanggal 4 Januari 2016.

10 destinasi itu, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Borobudur, Bromo – Tengger – Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai.

“Satu critical success factor dari upaya percepatan ini adalah pembentukan manajeman yang terintegrasi atau single destination, single management. Perwujudan dari manajemen terpadu ini adalah pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus dan Badan Otorita,” ujar Arief.

Sebelumnya, Pemerintah telah menetapkan empat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), yaitu Tanjung Lesung, Mandalika, Morotai, dan Tanjung Kelayang dengan masing-masing dari KEK ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

Sedangkan untuk Badan Otorita akan dibentuk melalui payung hukum berupa peraturan presiden, yang dikelola oleh profesional sehingga diharapkan ada sebuah mekanisme bisnis untuk memastikan kemajuan pariwisata di masing-masing destinasi.

Menteri mengatakan sektor pariwisata pada 2019 harus dapat memberikan kontribusi pada PDB Nasional sebesar 8 persen, dengan devisa yang dihasilkan Rp240 triliun.

Tahun 2019, Pariwisata ditargetkan mampu menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 20 juta, dan pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.

Untuk tahun 2016, target kunjungan wisata sebanyak 12 juta wisman dengan devisa yang dihasilkan diproyeksikan sebesar Rp172 triliun; dan jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 260 juta perjalan dengan uang yang dibelanjakan sebesar Rp223,6 triliun.

Dan kontribusi pariwisata terhadap PDB nasional 2016 diharapkan akan meningkat menjadi 5 persen dan jumlah lapangan kerja yang diciptakan menjadi 11,7 juta tenaga kerja. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.