Menko Perekonomian: Masyarakat Lebih Suka Rekreasi Daripada Belanja

0
454
Wisatawan nusantara menikmati suasana alam kebun Raya Bogor dengan latar Istana Bogor di Kebun Raya Bogor (KRB), Jawa Barat, (FOTO :ANTARA/Jafkhairi/asf/15.

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Darmin Nasution menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2017 sebesar 5,01% atau sama seperti pada kuartal I-2017. Melambatnya pertumbuhan ekonomi merupakan periode yang dinamis, bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi secara global. Pergerakan dinamis sebagai dampak pemulihan krisis global 5 tahun lalu.

“Kita semua tentunya tahu tahun ini adalah periode yang sangat dinamis. Tidak hanya di Indonesia namun juga secara global. Selain itu, perekonomian global juga belum pulih benar,” kata Darmin, dalam sambutannya di Seminar Nasional Apakah Perekonomian Indonesia Melambat?, di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (14/8/2017).

Selain itu, sambung Menko Perekonomian, sekarang ini terjadi peralihan pola konsumsi di masyarakat. Peralihan konsumsi dapat dilihat dari belanja barang semakin menurun dan mengalami perubahan dari belanja untuk kebutuhan rekreasi.

“Masyarakat kita memasuki tahapan perubahan konsumsi. Kita di masa kecil atau remaja, beli baju baru dianggap penting bahkan ada kebanggaan namun kini tidak sama sekali. Sesuatu yang dianggap penting berkaitan dengan rekreasi, gaya hidup. Inilah perubahan konsumsi yang sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu,” jelasnya.

Mantan Gubernur Bank Indonesia melanjutkan rekreasi dan gaya hidup kini mulai dianggap sesuatu yang penting oleh masyarakat. Dampaknya perkembangan pariwisata di Indonesia mengalami kenaikan yang tajam. Kunjungan wisata di penjuru nusantara semakin semarak, sehingga pemerintah pusat dan daerah berusaha memperbaiki obyek wisata sesuai dengan keinginan masyarakat.

Selain itu, sambung dia, terjadi pergeseran konsumsi ke sektor digital atau melalui e-commerce perlu dikaji lebih lanjut. Pasalnya pergeseran pola konsumsi dari konvensional menuju sistem digital sudah diperhitungkan. Dulu konsumen membeli kebutuhan seperti baju pasti datang ke mal atau pusat perbelajaan namun kini cukup via internet.

Bahkan penawaran tempat rekreasi, pembelian tiket pesawat, menyewa kamar hotel dan makan direstoran pun dilakukan melalui digital sehingga masyarakat semakin dimudahkan. “Tentunya ekonomi digital semakin berkembanf. Itu sudah pasti, tapi seperti apa wujudnya 5-10 tahun akan datang,” ujar Darmin.

Dilanjutkan, sebenarnya fenomena ini, tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di banyak negara lain. “Kita semua sebetulnya tahu bahwa ini periode yang sangat dinamis, bukan hanya di Indonesia juga global sehingga ekonomi global sampai saat ini belum pulih benar, belum menemukan bentuknya yang baru untuk bergerak sistematis ke depan,” tutur Darmin.

Sementara Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Sri Soelistyowati, mengatakan perubahan pola konsumsi masyarakat ditunjukkan dengan pertumbuhan yang lebih tinggi di level konsumsi untuk kegiatan waktu luang atau leisure activities.

“Memang pertumbuhan konsumsi secara tahunan (yoy) untuk komoditas leisure dan non-leisure cenderung berbanding terbalik. Konsumsi leisure melonjak ketika ada sedikit pelambatan di non-leisure,” lontarnya.

BPS sendiri menggolongkan komoditas yang termasuk dalam kegiatan waktu luang antara lain hotel, restoran, tempat rekreasi, dan kegiatan kebudayaan. “Bersenang-senang, jajan, menginap di hotel, berwisata, itu kami sepakat yang namanya leisure. Dari data BPS memang pertumbuhan lebih tinggi di sisi leisure. Jadi mungkin masyarakat tidak sering-sering ganti mobil, tapi lebih ke jalan-jalan,” sambungnya. (NDIK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here