Menikmati Suasana Miniatur Desa Di Omah Kecebong, Dusun Sendari, Sleman, Jogyakarta

0
9892
Suasana malam Omah Kecebong, Dusun Sendari (Cebongan), Jogyakarta. Tempat menggali inspirasi, merajut kasih sayang pada kekasih hati, alam semesta dan penciptaNya. ( foto: Ucy Yolanda)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Hari sudah menjelang jam 20.00 WIB ketika mobil tiba di pekarangan rumah penuh dengan pohon-pohon yang rimbun. Seorang staf Omah Kecebong Guest House membantu membukakan pintu mobil, menyapa ramah dengan senyuman yang mengembang.

Satu-satunya yang menandakan saya sudah sampai di Dusun Sendari atau disebut Cebongan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta adalah tanah sawah dan jalan aspal yang panjang dan agak sempit. Soalnya baru sekitar 15 menit mobil melewati Tugu Jogyakarta, landmark di pusat kota Provinsi Daerah Khusus Yogyakarta ini.

Setelah seharian berada di Solo dan sejak subuh sudah di bandara Soekarno Hatta bersama Mardiana Noerjali yang akrab di panggil Mamay untuk menghadiri pemakaman seorang istri teman, kami dengan riang melewati kebun holtikultura dengan pohon rata-rata setinggi tubuh sampai akhirnya jumpa dengan Hasan Setyo Prayogo, sang pemilik guest house.

Aneka tanaman holtikultura tumbuh di halaman dan ditawarkan dengan harga terjangkau. ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)
Aneka tanaman holtikultura tumbuh di halaman dan ditawarkan dengan harga terjangkau. ( foto: Hilda Sabri Sulistyo)

Mantan karyawan yang bertransformasi menjadi pengusaha akomodasi wisata ini mempersilahkan kami istirahat dulu dalam bilik bambu yang fasilitasnya ternyata setara dengan kamar hotel boutique. Setiap hari berinteraksi dengan industri wisata membuat Hasan yakin usaha ini jauh lebih berkah apalagi dengan orientasi pemberdayaan umat.

Layaknya rumah di tengah perkebunan, bunyi suara desiran angin dan langkah kaki terdengar dari dalam kamar. Mengintip dari jendela kamar rupanya ada sebuah gubuk gazebo bambu untuk tempat sholat di sambung dengan ruang terbuka dan susunan dua meja makan panjang dan sebuah ruang bermain congklak sambil lesehan..

“Keren banget tengah malam bisa sholat tahajud di luar kamar, bersinergi dengan alam terbuka. Cocok banget karena ketika beribadah sebenarnya kita sedang berkomumikasi dengan tuhan,” desis kagum saya tak ingin mengganggu teman sekamar yang langsung lelap tertidur.

Pagi hari ketika matahari belum sempurna muncul, saya dan Mamay sudah napak tilas alias jalan-jalan mulai dari arah pintu gerbang saat semalam kami tiba. Suara ayam jantan berkokok, bersahutan menyambut pagi. Di atas pintu gerbang di tata lampu-lampu dalam bungkus kap bambu yang menggantung sehingga ketika lampu menyala seolah bintang bersinar di langit.

Bagi penggemar holtikultura sulit beranjak dari tempat ini yang saya tandai sebagai zona satu. Soalnya banyak sekali tanaman rumahan sekaligus pohon langka dalam polybag hitam atau dalam pot terutama mangga harum manis dan golek. Kadang kami berdua terpekik kaget melihat buah jeruk hasil silangan yang seumur-umur belum pernah dilihat.

Begitu juga pohon durian pelangi, durian montong, kelengkeng, jambu yang sebagian besar sudah berbuah sementara tinggi pohonnya hanya satu meteran. Setiap pohon ada kartu namanya yang digantung diantara cabang sehingga bisa menjadi sarana edukasi bagi anak dan cucu yang tidak lagi bisa menikmati keragaman holtikultura asli Indonesia maupun dari mancanegara.

Bangunan pertama di kanan jalan setapak setelah kebun depan adalah toko holtikultura yang menjual beragam pupuk dan obat tanaman. Sekilas seperti rumah bambu di pedesaan dan setelah melewatinya ada gerbang kedua yang harus kita lewati.

Gerbang di zona dua ini juga dari bambu dengan hiasan kap lampu bambu yang berjuntai. Di atap gerbang rupanya tertutup tanaman merambat oyong yang buahnya panjang bergelantungan, menciptakan interior cantik dan artistik antara tanaman dan produk bambu.

Melongok sisi samping kanan dari gerbang kedua ini saya kontan membayangkan cucu yang baru berusia 5 bulan, Sarah Anjani sudah bisa jalan bersama cucu-cucu dari keponakan seperti Rauf, Rana dan Rayden yang akan terkesima memperhatikan keakraban kekuarga angsa di depan rumah bambu kecil yang menjadi kandangnya tepat di sisi gerbang di zona dua ini.

Keluarga angsa dengan empat ekor anak benar-benar masih santai menikmati pagi. Anak-anak angsa itu seperti masih mengantuk berleha-leha tiduran menempel pada induknya. Lucunya mereka semua serentak menatap kami dan langsung saya sapa dengan ucapan selamat pagi.

Tanaman sayuran seperti tomat apel berwarna merah merona, cabai, selada dan sayuran hidroponik lainnya hidup dalam tas-tas hijau yang digantung-gantung maupun dalam pipa-pipa paralon panjang menambah asri suasana. Untuk menenuhi kebutuhan dapur restoran rupanya juga tinggal petik di halaman sendiri.

Di sisi kiri darimana suara gemericik air berasal, ada kolam ikan mas yang diatasnya ada pancuran bambu dan tumbuhan sayuran hidroponik pula. Sudut yang asri dan tertutup sayur mayur ini ternyata bagian belakang kamar guesthouse berupa rumah kayu yang disebut Omah Lawas. Dari arah gerbang kedua ini dari jauh sudah terlihat rumah kayu lainnya bertuliskan Omah Kecebong Guest House and Holtikultura.

Sebelum narsis foto di depan tulisan itu, saya dan Mamay mampir sebentar di rumah lainnya yang berfungsi sebagai kantor atau kalau di hotel berbintang seperti bagian reception. Di depannya ada seperangkat kursi bambu khas pedesaan, meja dan sebuah standing banner berisi tawaran untuk beraktivitas selama menginap di dusun Sendari ini seperi naik gerobak sapi, les membatik, belajar sejarah tentang selokan Mataram jaman penjajahan Jepang, sepedaan ke Merapi, membajak sawah, melongok sentra perajin bambu atau tour ke Candi Borobudur di kawasan Magelang..

Berbagai fasilitas di Omah Kecebong, guest house sekaligus kebun holtikultura yang menjadi tujuan pulang kampung baru bersuasana miniatur desa. ( foto Hilda Sabri Sulistyo)
Berbagai fasilitas di Omah Kecebong, guest house sekaligus kebun holtikultura yang menjadi tujuan pulang kampung baru bersuasana miniatur desa. ( foto Hilda Sabri Sulistyo)

Jadi setelah proses check-in di tempat ini tamu bisa mendapatkan gambaran dan memutuskan aktivitas apa yang akan dilakukan untuk berinteraksi dengan masyarakat dusun dan menyatu dengan alam. Bagi Hasan, aktivitas tamu-tamunya inilah yang akan menunjang perekonomian dusunnya itu.

Melewati kawasan yang saya namai zona dua, kami sekarang melewati jalan setapak dan selokan di kanan kiri berisi ikan, genjer dan rimbunnya pohon holtikultura. Rupanya jalan berbentuk huruf L mengantar kami justru ke bagian depan Omah Gladak. Ada pohon nangka dalam pot dengan buahnya yang sudah cukup besar di depan halaman rumah utama ini.

Di zona  ini selain Omah Gladak ada dua Omah Bambu yang menjadi kamar tidur kami semalam. Dua Omah Bambu ini sebagian berada di atas kolam dan saling berhadapan. Setiap sudut kolam di isi dengan bangku dan meja untuk bersantai memandang puluhan ikan mas dalam kolam yang artistik karena pinggiran dalam kolam ditutup dengan bambu dan diatasnya ada tanaman semak yang menutup rata dengan bunga kecil-kecil berwarna ungu.

Duduk sejenak menikmati sudut rumah bambu, mendengarkan suara ikan berkelebat, kepak burung merpati dalam sangkar. Menatap sepeda onthel yang antik bersandar di dinding rumah siap menjadi alat transportasi keliling desa. Mulut saya jadi komat-kamit bersyukur, berzikir dan berguman… “ Nikmat mana lagi yang saya dustakan ya Allah..”.

Tepat di depan Omah Bambu ada ruangan terbuka saling bersambungan yang saya bayangkan sebagai sebuah ‘balai desa’ tempat aktivitas warga alias tamu guest house berkumpul untuk makan bersama, diskusi atau bahkan tempat rapat yang nyaman. Apalagi pemandangan keluar adalah sawah dan tanaman tembakau.

Ada tempat sholat, tempat santai untuk main congklak dan mainan bambu lainnya. Mejanya dihiasi dua patung prajutit Keraton Yogjakarta serta miniatur sepeda. Tempat ini juga dipenuhi tanaman hias maupun tanaman jambu cincalo putih, coklat kemerahan, jambu rasa nanas sampai anggur Argentina yang pohonnya unik dan batangnya mirip pohon jambu biji.

Sebelum tiba di ujung miniatur desa ini atau saya sebut zona tiga, ada Omah Antik menghadap kolam ikan tepat di belakang Omah Bambu. Sesuai namanya, rumah ini di jaga oleh sepasang patung pengantin dan memang spot yang paling indah buat yang ingin menikmati bulan madunya. Buat pasangan hidup yang sudah tidak mampu lagi menghidupkan getar cinta ada baiknya merajut kembali di Omah Antik ini. Hmmnn…

Perjalanan saya dan Mamay berakhir di ruang makan dengan sudut-sudut yang kembali memukau. Ruang makan yang layak menjadi ball room ala dusun ini atapnya di isi dengan payung-payung hias yang bergelantungan. Ada beberapa perangkat meja kursi ala desa yang serba bambu. Sebuah TV besar untuk acara nonton bersama. Dua buah ayunan dan tentu saja pohon-pohon buah aneka jeruk dalam jangkauan mata.

Sang pemilik, Hasan, menjadikan ruangan ini multi fungsi untuk menggelar acara dan melestarikan seni dan budaya setempat mulai dari macapatan, nembang, bikin puisi sampai jadi tempat silaturahmi dan pemilihan Putra/Putra Batik Indonesia 2015.

Mbak Nani yang mengelola restoran menyarankan kami mencicipi nasi bakar yang menjadi andalan Omah Kecebong. Ada banyak pilihan karena bisa pilih isi jamur, daging ayam atau ikan. Namun menu itu kami pesan untuk makan siang nanti. Makan pagi sehatnya di dahului buah dan roti serta secangkir teh panas manis saja dulu.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi sehingga kami bergegas ke kamar. Mandi air hangat dan menikmati fasilitas kamar hotel bintang lima bisa membuat kami terlena padahal sejumlah aktivitas di dusun Sendari dan dua dusun tetangganya sudah menunggu sebelum nanti sore kembali ke Jakarta.

Sambil menunggu giliran mandi, tangan saya sibuk menencet tombol send, mengirim foto-foto hasil keliling ‘miniatur desa ini’. Temen-temen Jakarta langsung merespon dengan tulisan…mauu…ungkapan ingin segera bergabung di Omah Kecebong. ([email protected]).

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.