DAERAH LAPORAN PERJALANAN

Menikmati Sensasi Alam di Luweng Jomblang

YOGYAKARTA, bisniswisata.co.id: Masa pandemi global yang berkepanjangan membuat wisata alam menjadi tren dunia. Berwisata di alam terbuka dan semi petualangan banyak menjadi pilihan. 

Kenanganpun muncul saat melakukan wisata alam dengan mengunjungi Luweng Jomblang pada tahun 2016 lalu yang letaknya di daerah Jetis, Pacarejo, Kec. Semanu, Kabupaten Gunung Kidul,Yogyakarta

Berjarak 90 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta, kabupaten Gunung Kidul ini banyak memiliki potensi wisata alam. Selain pantai, ternyata menyimpan keindahan goa-goa yang jumlahnya ratusan dan banyak tersebar di kawasan Gunungkidul ini.

gua
Cahaya surga julukan untuk keindahan sinar matahari di dalam gua

Luweng Jomblang atau Goa Jomblang terbentuk akibat proses geologi, amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini membentuk sinkhole atau sumuran yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah luweng.

Dahulu keberadaan goa-goa di sini belum banyak dimanfaatkan untuk tujuan wisata. Namun saat ini sudah banyak operator travel lokal yang menggali potensi wisata goa sehingga sebagai orang awam kita bisa turun dengan aman ke kedalaman goa.

Dari Wikipidia disebutkan Goa Jomblang sebenarnya bukan goa, melainkan bagian dari sistem goa yang menutupi seluruh Gunung Kidul.  Gua-gua tersebut terbentuk lebih dari ribuan lalu yang dibentuk oleh air hujan dan sungai bawah tanah yang mengikis batuan karst (agak mirip gua bawah tanah yang terkenal di Yucatan, Meksiko).

hutan
Kebersamaan membuat tantangan mencapai gua menjadi menyenangkan. ( Foto: dok. pribadi)

Gua yang sebenarnya atau bagian yang dilihat wisatawan terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah lubang pembuangan besar yang terbentuk oleh atap gua yang runtuh.  Bagian kedua gua adalah terowongan panjang dan bagian terakhir adalah Goa Grubug.

Siapa pun yang hendak caving di Jomblang wajib menggunakan peralatan khusus yang sesuai dengan standar keamanan caving di goa vertikal ini dan harus didampingi oleh penelusur goa yang sudah berpengalaman.

Persiapan sebelum menuruni goa kita wajib memakai sepatu boot, helm, dan headlamp. Seorang pemandu pun memasangkan tali dan setelah siap di bibir goa umumnya kita turun ke bawah berdua.

Ketika turun sensasi mendebarkan adalah melihat ke dalam gua. Ternyata 60 meter ini sangat dalam dan tinggi juga apalagi turun goa ini sangat perlahan. Namun setelah beberapa meter turun rasa panik itu hilang dan berganti rasa yang menyenangkan tidak sabar sampai ke dasar goa.

Sampai pertengahan dinding goa, sejauh mata memandang kita melihat perbukitan karst dan pohon jati yang meranggas, sedangkan di perut Goa Jomblang terhampar pemandangan hijaunya hutan yang sangat subur. 

Aneka lumut, paku-pakuan, semak, hingga pohon-pohon besar tumbuh dengan rapat. Hutan dengan vegetasi yang jauh berbeda dengan kondisi di atas ini sering dikenal dengan nama hutan purba.

Penelusur gua yang menjadi pemandu menjelaskan dan menunjukkan jalan masuk ke mulut gua. Sepanjang jalan banyak tumbuhan yang menjuntai tinggi, dan ketika akan memasuki mulut goa di sinilah tantangan dimulai karena jalan setapak turun sangat curam, licin dan terjal. Untungnya disediakan tali tambang agar kita bisa berpegangan.

Itulah yang membuat unik karena di dalam goa terdapat luas mulut goa sekitar 100 meter ini sering disebut dengan nama Luweng Jomblang. Kami turun ke lubang sedalam 70 meteran, dengan kerekan tradisionil. Ada sekitar 15 orang yang menarik tambang kami agar kami turun kebawah.

Sampai di mulut goa dilanjutkan perjalanan menuju Luweng Grubung dengan memasuki sebuah mulut goa yang berukuran sangat besar.

Masih turun lagi masuk ke gua yang pengap, gelap dan licin.Jomblang dan Grubug ini dihubungkan dengan sebuah lorong sepanjang 300 meter. Semakin jauh berjalan cahaya semakin sirna alias gelap, tetapi kita bisa melihat berbagai aneka ornamen cantik yang menghiasi lorong ini dengan bantuan senter dan penerangan dari guide penelusur gua.

Di sini bentuk dinding lorong goa seperti batu kristal, stalaktit, serta stalagmit yang indah. Tidak berasa lama berjalan terdengar suara gemuruh aliran sungai bawah tanah yang deras arusnya dan seberkas cahaya terang terlihat di tengah kegelapan.

Jam 12.00 kami menikmati sinar matahari dari lubang diatas yang menerobos masuk dari Luweng Grubug setinggi 90 meter membentuk satu tiang cahaya, menyinari flowstone yang indah serta kedalaman goa yang gelap gulita.

Air yang menetes dari ketinggian turut mempercantik pemandangan. Tidak salah jika banyak orang terkagum-kagum datang ke sini ketika menyaksikan lukisan alam yang dikenal dengan istilah cahaya surga.

Datang berombongan dengan teman ex kantor di usia over sixty memang menjadi pengalaman tak terlupakan dan masuk ke dalam gua yang didalamnya ada hutan, sungai benar-benar pengalaman berharga, mengagumi sang pencipta.

 

Gufron Sumariyono