Menikmati Perjalanan Spiritual Pesantrenpreneur Yayasan Darul Qur’an Rahmatan Lil Alamin Di Kaki Gunung Salak, Bogor

0
996
Sebagian peserta Pesantren Kilat di kaki Gunung Salak, Bogor.

PAMIJAHAN, BOGOR,  test.test.bisniswisata.co.id: Setengah jam sebelum azan magrib mobil memasuki villa Casablanca dekat kantor Kecamatan Pamijahan, kab Bogor. Lapangan rumput yang luas, kolam renang dan bangunan pondok vila dua lantai dengan aksen batu merah langsung membuat  mulut saya berdecak kagum dan mengucapkan alhamdulilah.

Ajakan Santi Mia Sipan, Presdir PT Jaty Arthamas Rizky untuk mengikuti religion motivation training Dua Hari Hidup Cara Rasullulah SAW, mengisi akhir pekan (week-end) kali ini memang spesial karena selama dua malam 3 hari kami akan mengenal lebih dekat kebiasaan atau gaya hidup Nabi Besar Muhammad SAW yang hidup ribuan tahun lalu untuk diaplikasikan dalam kehidupan di era digital saat ini.

Suara anak-anak yang tengah menikmati sore, bermain air di kolam renang dan segelas susu jahe yang dihidangkan teman-teman panitia menjadi suguhan yang melegakan tenggorokan sekaligus menghangatkan tubuh setelah menempuh perjalanan sepanjang 88 km dari Jakarta atau sekitar 2 jam lebih perjalanan menembus kemacetan lalu lintas Jumat Sore pekan lalu menuju kawasan Dramaga, Bogor.

Saya langsung  berkenalan dengan ustajah Yulia Karmilawati, ustad Nur Rasyid, ustad Rommy Morinda, ustad Yanyan dan Luqman Hakim. Ketika diperjalanan dan sampai di setopan Sentul saya juga sempat berkenalan dengan ustad H.Yanuardi LC, Mpdi, CSHt, Cht , bersama keluarganya.

Ustad yang belajar di sejumlah universitas ternama di Timur Tengah dan menambah ilmu Neuro Linguistic Programming (NLP) , Grafology, Hipnoteraphy ini bukan hanya bisa membaca tulisan tangan seseorang yang mirip seperti DNA atau sidik jari tetapi juga melengkapi pengetahuan untuk memahami  karakter dan keunikan manusia yang tidak sama.

Sore ini selain registrasi dan perkenalan serta persiapan sholat maghrib dan isya jama’ qoshor, tata cara sholat Rosulullah ketika menjadi musafir, ustad Yanuar yang datang bersama istri dan tiga putrinya juga akan membawakan materi pertama, Indahnya Hidup Diatur oleh Allah dan Tidur ala Rosulullah.

TIba-tiba adzan magrib berkumandang. Kami bergegas mempersiapkan diri menuju sebuah Gazebo yang cukup luas bisa menampung 30 orang sholat berjamaah. Usai sholat saat berkumpul di beranda depan villa utama, hujan mengguyur  dengan amat derasnya. Rasulluloh selalu membiasakan diri sebelum azan habis dikumandangkan maka beliau sudah duduk dalam kondisi sudah berwudhu sehinga bisa sholat tepat waktu.

Sambil menunggu peserta lain yang berdatangan,  kami menikmati hidangan malam yaitu soto dan lauk pauk pekengkapnya sambil berkenalan dengan anggota keluarga yang datang kemudian seperti keluarga Anang Sujana, pengusaha boneka dari Bekasi, Deni bin Mu’min, Anto Sarung, Cucu Sugiarti dan peserta lainnya.

Saat hujan, alam semesta juga tengah berzikir oleh karena itu Ustad Nur Rasyid memgajak kami berdoa dan membuka acara dengan  tak lupa membaca  doa masuk kampung orang untuk mendapatkan perlindungan dari Allah dan kebaikan dari tempat yang kami kunjungi ini di kaki Gunung Salak, Bogor.

Alunan ayat-ayat suci Al-quran dari Fauzan, putra dari pasangan  Yulia karmilawati dan Bambang membuat saya takjub. Remaja yang hafis Qur’an itu mampu membuat kami menikmati ayat-ayat kitab suci umat Islam dengan nikmat sehingga .anak-anak balita yang biasanya selalu berceloteh juga terdiam sejenak mendengar lantunan ayat-ayat suci..

Ustad Yanuar lalu mengajak kami untuk mengeksplorasi ke dalam diri karena dari sinilah perjalanan spiritual dimulai. Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna bentuk ciptaanNya untuk menjadi khalifahnya di dunia yang menyebarkan kebaikan dan banyak manfaatnya bagi orang lain.

“Manusia  bisa menjadi apa saja yang diinginkannya kecuali menunda kematian. Untuk itu ada 5 langkah menuju kebahagian hidup yaitu siap menerima hal yang cocok maupun yang tidak cocok dengan keinginan kita. Hidup penuh episode dan banyak orang menderita karena tidak bisa menerima kenyataan hidup, “ kata Ustad Yanuar membuka sesi materinya.

Langkah kedua adalah bersikap ridho terhadap takdir kita. Kalau lahir sebagai orang yang bertubuh pendek misalnya, jangan mengeluh tapi mengoptimalkan kemampuan dan potensi diri sehingga bisa bersyukur terlahir dengan takdir tubuh yang lebih rendah dari rata-rata tinggi manusia Indonesia.

“Ridholah terhadap takdir kita karena apa yang kita anggap buruk justru sebaliknya demi kebaikan diri sendiri. Lalu tahap ke tiga adalah jangan mempersulit diri sendiri, selalu berfikir positif. Lakukan segala sesuatu dengan senang hati karena menjadi awal hidup yang tenang,” ungkap Ustad Yanuar yang akrab dipanggil Uya ini.

Langkah ke empat menuju kebahagian hidup adalah melakukan evaluasi diri dengan cara introspeksi diri dan hal ini wajib hukumnya agar kita dapat memperbaiki kualitas keimanan dan hidup kita. Terakhir atau langkah kelima hanya menjadikan Allah sebagai penolong, tempat manusia menyandarkan semua persoalan hidup dan tidak ada yang disembah kecuali Allah.

berbagai aktivitas serius tapi santai
Uya (berkacamata) dan  Rommy terangkat dari kursi dan  aktivitas serius tapi santai

Belajar Afirmasi

 Malam itu Uya mengajak peserta belajar melakukan afirmasi untuk mencapai target-target dalam hidup. Sederhananya misalnya adalah tanpa alarm  jam, cukup mengafirmasi diri bahwa  Allah akan membangunkan kita dari tidur pulas untuk melaksanakan sholat tahajud  jam 3.00 pagi maka hal itu dapat terjadi. Doa-doa sebelum tidur, memiringkan tubuh ke kanan dan manfaatnya bagi kesehatan tubuh serta wajah senyum yang diperlihatkan Rasulluloh sebelum tidur juga diulas Uya untuk dipraktekkan bersama.

“Rasulluloh SAW itu sebelum memejamkan matanya saja sudah tersenyum dan bangun juga dengan tersenyum serta penuh rasa syukur sehingga suasana hatinya sepanjang hari juga akan penuh rasa syukur dan wajahnya selalu dihiasi senyum,” ungkap Uya.

Tidur pulas berkualitas meski hanya beberapa jam membuat peserta terbangun dari lelapnya tidur dengan penuh semangat. Satu- persatu memilih sholat tahajud menyebar di alam terbuka, dalam bilik kamar dan di beranda villa. Tanpa Rada suara loud speaker yang membangunkan 60 orang peserta secara bergantian melaksanakan sholat tahajudnya di  Sabtu pagi itu yang dilanjutkan  sholat subuh. Kuliah subuh  diisi dengan ilustrasi kebiasaan Rosulullah SAW di pagi hari mulai dari mandi dengan tahapan basuhan air, sarapan hingga olahraganya yang biasa jalan pagi bersama istri. Usai sholat subuh, waktu yang sempit  tetap digunakan peserta untuk beraktivitas dan menjadi waktu yang digemari peserta mulai dari anak, remaja hingga dewasa untuk menikmati fasilitas villa.

Berenang di kolam atau dikali dengan air pegunungan yang bening ternyata paling disukai atau sekedar duduk-duduk di batu-batu besar. Olahraga jalan kaki di seputar villa dan kegiatan lainnya menikmati bunga-bunga dan keindahan alam sekitar membuat suasana pagi yang dilalui menjadi penuh kesegaran.

Waktu makan pagi menjadi saat bersilaturahmi diantara peserta pesantren kilat di akhir pekan ini untuk mengenal satu sama lain yang umumnya para pengusaha. Lagi-lagi saya jadi takjub karena selain banyak yang baru kenal di lokasi pelatihan, rekan-rekan juga sudah membebaskan keuangan  usahanya dari sistem riba.

Di Sabtu pagi, Ustad Yanuar yang kami singkat namanya menjadi Uya membawakan materi mengenai kekuatan pikiran. Doa dan usaha adalah kewajiban dasar sebagai umat manusia, namun ucapan, pikiran dan doa juga berkesinambungan sehingga hanya pikiran, ucapan dan doa positif saja yang kita ungkapkan pada Sang Khalik.

“Kalau memiliki hajat dan ingin mimpi jadi kenyataan misalnya selain berdoa pada Allah SWT, kita juga bisa minta didoakan oleh orangtua maupun anak sendiri. Bahkan orang buta dan bayi yang berusia di bawah usia 3 tahun juga bisa menjadi perantara doa-doa kita dan membuka pintu langit “ ujar Uya.

Kekuatan pikiran juga bisa membuat power atau energy yang luar biasa. Uya lalu memanggil lima peserta untuk mengangkat tubuh temannyadari sebuah kursi. Caranya peserta dengan tubuh berat 130 kg diminta duduk di atas kursi lalu empat orang lainnya mengatupkan kedua telapak tangan dengan jari telunjuk tetap tegak lurus bertemu satu sama lainnya. Dua orang memasukkan jari telunjuk di ketiak dan dua lainnya di lekukan betis sang target.

“Pak Anto yang akan kita angkat ini tubuhnya enteng ya..setuju ya..kita angkat sama2 dan tubuhnya ringan ya,” kata Uya. Hasilnya, seperti mantra bim Salabim, bukan sulap, bukan sihir, tubuh pak Anto terangkat sekitar 40 cm dari kursi. Itulah kekuatan pikiran dari lima volunteer  yang mampu memindahkan tubuh  pak Anto itu. Setelah itu Rommy dan beberapa peserta pria lainnya ingin menjajal pula di gendong ramai-ramai sehingga suasana menjadi riuh dengan tawa.

Setiap manusia ada mental block kalau kerap membayangkan kegagalan atau hal negatif  maka hal itu akan terjadi dalam dunia nyata karena sesuatu yang selalu dibayangkan akan tersegel di jiwa dan akan menjadi kenyataan. Oleh karena itu baik ucapan, pikiran dan tindakan harus yang positif saja. Kalau sebaliknya maka akan berdampak pada tubuh sehingga banyak penyakit menghampiri.

“Hidup itu pilihan, mau pilih hidup dengan penuh kecemasan atau hidup tenang berkelimpahan. Nah kuncinya adalah di sholat lima waktu yang sudah wajib hukumnya bagi umat Islam.

Menurut Uya, Allah SWT itu sayang sekali dengan umatnya oleh karena itu sehari lima kali dikumandangkan azan dan ajakan untuk sholat agar umat Muhammad  SAW langsung melaksanakan ibadah yang diperintahkanNYa. Jangan ditunda-tunda untuk sebuah perjumpaan yang telah diatur oleh Allah karena cinta kasihnya pada umat muslim.

Ucapannya kontan menusuk tajam relung hati karena kebiasaan menunda-nunda waktu sholat kerap dilakukan. Bahkan waktu sholat dzuhur di dekatkan beberapa menit sebelum kumandang azan sholat Ashar dengan pertimbangan praktis tidak mondar-mandir untuk wudhu dan sholat.

Tidak terasa air mata mengalir deras karena selama ini panggilan dan bentuk kasih sayang Allah untuk mengajak sholat berjamaah itu kerap saya abaikan karena pekerjaan yang belum selesai, sedang rapat dan beragam alasan pribadi lainnya.

Sholat lima waktu dan tepat waktu adalah kunci ketenangan hidup dan makin dicintai Allah SWT. Hal ini sangat disukai Allah karena manusia ciptaannya memprioritaskan untuk berjumla dengan Allah. Manfaat lainnya adalah disiplin, pandai mengatur waktu dan menggugurkan dosa. Masih banyak manfaat lainnya seperti berhati lembut, badan selalu sehat dan dijaga banyak malaikat.

Jaga kebersihan hati

Di sesi lain, ustad Nur Rasyid juga mengingatkan bahwa semua tuntunan hidup manusia sudah  tertulis dalam Alquran, sayangnya umat muslim belum tentu rutin membaca kitap sucinya setiap hari apalagi mengajarkannya pada orang lain. Semua aktivitas kita sehari-hari  seharusnya menjadikan Allah SWT sebagai pusat sandaran dan menghadirkan hati yang bersih.

“Kalau setiap hari menghadirkan hati yang bersih dalam diri maka inshaa allah memiliki qolbun salim, hati yang bersih dan berakhlak mulia.  Ada juga qolbun maridh atau hati yang sakit dan masih dikuasai syahwat serta hawa nafsu dan terakhir qolbun mayyit,  hati  yang kosong dari semua jenis kebaikan karena setan telah ‘merampas’ hatinya sebagai tempat tinggalnya. Inilah hati orang yang kafir dari Allah,” kata Nur Rasyid.

Sepanjang sore dan malam hari Uya memberikan tips-tips pula mengenai self healing, mengobati diri sendiri dengan air putih yang dibacakan ayat suci Al-Quran seperti yang dilakukan Rasulluloh,  keajaiban sedekah serta bagaimana doa-doa yang diungkapkan dalam kondisi gelombang otak di tingkat alpha dan tetha.

Menjadi muslim yang kaffah, mampu menjalankan perintah Alquran dan Sunnah menjadi impian banyak orangtua. Begitu pula yang ingin diwujudkan oleh Presdir  PT Jaty Arthamas, Santi Mia Sipan sebagai penggagas pesantren kilat ini.

“Bulan Maret lalu saya lemparkan ide pada pak Anang Sujana, pengusaha boneka di Bekasi yang memiliki visi dan misi sama untuk mencetak SDM yang hafal (hafiz) Al Qur’an dan siap jadi pengusaha dengan membangun Pesantren Entrepreneur Ramia,” kata Santi.

salah satu terapi menggunakan balon untuk membuang sampah pikiran masa lalu dan rencana aksi untuk membuat Pesantren Entrepreneur di Jonggol, Jabar oleh Santi Mia Sipan.
salah satu terapi menggunakan balon untuk membuang sampah pikiran masa lalu dan rencana aksi untuk membuat Pesantren Entrepreneur di Jonggol, Jabar oleh Santi Mia Sipan. ( kanan)

Berdiri  di atas tanah seluas 7 HA dimana satu hektarnya menjadi tanah wakaf dari dirinya pribadi, Santi dan teman-teman langsung action mendirikan Yayasan Darul Qur’an Rahmatan Lil Alamin untuk mewujudkan fasilitas pesantren itu lengkap dengan arena berkuda, memanah, berenang, track lari dan olahraga lainnya yang disarankan rasulluloh untuk kesehatan tubuh.

“Kami juga akan membangun kluster yang bisa menjadi tempat tinggal/villa para orangtua. Inshaa Allah teman-teman yang sekarang menjadi pengusaha sukses juga akan menjadi guru-guru tamu sehingga anak didik mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan riil di lapangan,” tambahnya.

Dua hari istiqomah, menghadirkan hati dan fokus pada pesantren kilat ini membuat peserta banyak belajar dari nara sumber maupun sesama peserta. Yan Yan yang sehari-hari bekerja di PT. Wirajaya Erkon Mandiri ,  Air Conditioning Specialist, mengatakan bahwa energi dari peserta dan keceriaan yang dirasakannya membuat dirinya lebih optimistis.

“ Dua hari berkumpul bersama di kaki Gn Salak menyadarkanku bahwa hidup itu indah, mudah dan hidup hanya sebentar saja jadi nikmati dunia sepantasnya. Kejarlah akhirat maka dunia ada dibelakangmu mengikutimu,” kata Santi Mia Sipan sambil menambahkan bahwa dia tidak menampik ada rasa rindu yang kuat sepulang dari villa dan berharap mengulang lagi ibadah dan silaturakhmi bersama yang sangat membahagiakan.

Asep Mulyana dari Bumireka Land juga mempunyai kesan mendalam usai pelatihan. “ Mimpi ingin berjuang dalam bidang pendidikan islami adalah mimpi kami karena itu setelah pesantren kilat ini saya akan membantu terwujudnya kompleks Pesantren Entrepreuner  di Jonggol, Jawa Barat, “

Begitu mendengar ada pelatihan tiga hari dua malam yang pesertanya komunitas entrepreneur  membuat Asep dan istri langsung antusias. “Senang bisa terlibat di dalamnya dan rencana membuat pesantren entrepreneur dimana siswanya hafal Al-Quran minimal 10 juz membuat dia bersemangat  apalagi di pelatihan itu bukan sekedar teori tapi sudah ada rencana aksi. Itu yang membuat pelatihan ini sungguh berbeda,” tandasnya..
Sementara Endang, ibu rumah tangga yang berbinis catering dan suaminya, Solah, dari Radio Elshinta mengatakan kegembiraannya lepas dari rutinitas ibukota. “Berkumpul  dengan teman baru tapi seperti bersaudara itu adalah kuasa sayangNya IllahiRobbi  yang melekatkan hati kami laksana keluarga kandung bukan hanya sahabat apalagi teman. Kami merasa, akrab, dekat dan rasa damai bertabur cinta kasih,” ungkapnya.

Duhai keluarga muslim nan kaffah saling memanggillah jika kelak sebagian diantara kita sudah di  syurga dan sebagian lagi terpisah. Bersaksilah bahwa kita sekandung dalam rahim yg mulia yaitu Pesantrenpreneur rahmatan lil alamiin. ( hildasabri@yahoo.com).

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here