Menhub: Terminal 3 Ultimate Senilai Rp 7 Trillun Banyak Kekurangan

0
559
Sukarno Hatta International Airport Terminal 3 front (Foto: www.ghiboo.com)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menyatakan tidak bisa menerbitkan izin pengoperasian Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta sesuai keinginan manajemen PT Angkasa Pura II (AP). Dari hasil kunjungannya ke terminal senilai Rp7 triliun masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki AP II dari aspek keselamatan.

“Masih ada kekurangan yang ditemukan di terminal tersebut. Ada dua hal yang belum siap dari aspek keselamatan. Pertama yang belum beres adalah sisi ruang udara (airside) yang belum steril. Untuk itu, sebelum dioperasikan, Jonan meminta agar airside terminal 3 diperiksa kembali agar tidak ada benda asing yang membahayakan saat pesawat lepas landas atau mendarat,” papar Menhub.

Kedua, sambung Jonan, masalah tower air traffic controller (ATC). Menurut mantan bos PT Kereta Api Indonesia (Persero), secara teori petugas tower harus bisa melihat semua pergerakan di airside. “Bukan hanya pergerakan pesawat tapi juga orang dan lainnya. Sementara, tower tidak bisa melihat airside karena terhalang bangunan terminal,” keluhnya.

Karena itu, Jonan mengaku sudah meminta kepada manajemen AP II untuk segera menyelesaikan fasilitas pelayanan dasar dan juga keselamatan. “Saat ini, saya masih menunggu perbaikan hasil evaluasi terakhir. Jadi, kita lihat saja nanti, kalau siap dioperasikan ya bisa, tapi kalau tidak lebih baik tunggu setelah lebaran. Saya tidak akan merisikokan keselamatan penerbangan,” tegas Jonan.

Padahal, manajemen AP II berencana mengoperasikan Terminal 3 Ultimate secara penuh mulai 20 Juni 2016 dengan melakukan beberapa penyesuaian jadwal penerbangan. Terminal seluas 422.804 meter persegi nantinya akan menjadi basis operasi PT Garuda Indonesia Tbk dan seluruh maskapai penerbangan internasional.

Dalam risalah rapat 30 Mei 2016 antara AP II dengan seluruh maskapai yang saat ini beroperasi dari terminal 3, diketahui bahwa Garuda Indonesia akan melayani penerbangan domestik dan internasional dari terminal tersebut mulai 15 Juni 2016. Setelah sebelumnya menggunakan terminal 2E dan 2F.

Sebagai konsekuensi dari rencana tersebut, PT Indonesia AirAsia yang tadinya beroperasi dari terminal 3, harus bersedia pindah ke terminal 2E dan 2F yang sebelumnya digunakan Garuda. Bukan hanya itu, AP II juga diketahui berencana memindahkan basis operasional PT Sriwijaya Air dan anak usahanya NAM Air dari terminal 1B ke terminal 2F pada 22 Juni 2016. Berbarengan dengan pemindahan penerbangan PT Lion Air dari Denpasar, Yogyakarta, Semarang, dan Solo yang sebelumnya menuju terminal 3, menjadi ke terminal 1B.

Awal 2017, AP II melanjutkan bongkar pasang basis operasi maskapai PT Citilink Indonesia dan PT Batik Air dari terminal 1C ke terminal 2D dan 2E. “Akan tetapi pengoperasian terminal baru tersebut menunggu commissioning final yang akan dilaksanakan Garuda Indonesia dan izin operasi dari Kementerian Perhubungan,” ujar Head of Corporate Secretary & Legal Angkasa Pura II Agus Haryadi seperti dikutip laman CNNINdonesia.com, Kamis (16/06/2016). (*/CIO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.