Mengenal Suku Sasak dari Dekat (Bagian-2)

0
1150

LOMBOK, Bisniswisata.co.id: Setelah sebelumnya ke Desa Sukarara yang memproduksi tenun songket dan ikat, rasanya tak ke Lombok kalau belum mengetahui kehidupan suku asli Lombok, yakni Suku Sasak.

Putri Pariwisata Indonesia 2014, Syarifah Fajri Maulidiyah atau biasa disapa Riri bersama Bisniswisata.co.id mengunjungi Dusun Sasak Sade Rembitan, Lombok. Lokasinya terletak di kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah, berjarak 30 kilometer dari Mataram. Dusun ini berada di tepi jalan raya Praya-Kuta.

Memasuki Dusun Sade pengunjung diminta mengisi buku tamu, seorang tour guide bernama Manaf menawarkan untuk memandu perjalanan kami menelusuri pemukiman Dusun Sade.

Di sini tinggal Suku Sasak, suku asli Lombok yang menganut agama Islam Wektu Telu, yakni Islam yang memiliki unsur-unsur Hindu Budha.
“Di dusun ini terdapat kurang lebih 150 rumah, satu rumah satu kepala keluarga. Penghuninya ada 700 orang. Semua yang tinggal disini masuk dalam keluarga besar karena mereka jika menikah, bisa dikatakan menikah dengan saudara misan sepupu dari ibu,” ujar Manaf (23 tahun) yang mengenakan pakaian khas Suku Sasak.

Masyarakat di dusun ini umumnya bermatapencaharian sebagai petani, dan biasa menuai panen setahun sekali karena mengandalkan sawah tadah hujan. Ketika panen hasilnya disimpan tidak untuk dijual.

“Untuk wanitanya selain membantu pekerjaan di sawah mereka memiliki kerja sampingan, yakni menenun. Mereka wajib bisa menenun sejak usia 10 tahun,” ungkapnya.

Masyarakat Dusun Sade memang menolak modernisasi. Mereka nyaman hidup dengan cara mereka sendiri. Oleh karenanya, tak heran jika kehidupan tradisional masih sangat kental disini.

Pintu Gerbang Dusun Sade. (Foto. evi)
Pintu Gerbang Dusun Sade. (Foto. evi)

Di tempat ini pengunjung akan melihat suasana yang serba tradisional dan natural kehidupan masyarakat umat Islam suku Sasak dengan rumah yang terbuat dari bambu beratapkan rumput alang-alang.

“Alang-alang ini lima atau enam tahun baru diganti, meski hujan tidak akan bocor atau tembus. Umumnya usia pernikahan di dusun ini terbilang muda, laki-laki menikah di usia 19-20 tahun sedangkan wanitanya usia 14-15 tahun,” jelas Manaf yang mengaku menikah setelah lulus SMA.

Interior rumah di dusun ini juga terlihat unik, terdiri dari dua ruang, yakni ruang bagian depan dan bagian belakang yang tingginya lebih tinggi dua anak tangga.

Di dalam rumah tradisional Sade terdapat dua tungku untuk memasak yang terbuat dari tanah dan menyatu dengan lantai. Masyarakat Sade masih memasak dengan menggunakan kayu bakar. Selain itu, di rumah ini terdapat ruang tidur. Kendati tidak menggunakan pendingin udara, namun ruangan di dalam rumah tersebut tidak panas.

Foto bersama Riri saat berada di dalam rumah Suku Sasak. (Foto. evi)
Foto bersama Riri saat berada di dalam rumah Suku Sasak. (Foto. evi)

Selain rumah, masyarakat dusun ini juga membangun lumbung padi yang sangat khas. Bagian bawah lumbung terdapat bale-bale yang dapat digunakan sebagai tempat bercengkerama warga.

Riri pun iku bercengkerama dengan masyarakat Suku Sasak sambil menikmati secangkir kopi hasil olahan masyarakat Dusun Sade.
Selesai berkunjung ke Dusun Sade, perjalanan berakhir di Pantai Tanjung Aan. Lombok memiliki banyak pantai yang mengagumkan, salah satunya yakni Pantai Tanjung Aan. (evi) Bersambung- Menikmati Ayunan di Pantai Tanjung Ann.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.