Mengapa turis Australia lebih pilih berwisata ke Vietnam dan Thailand ?

0
1576
O pera House, Sydney, setiap harinya dikunjungi wisatawan mancanegara termasuk Indonesia ( foto: hilda Sabri Sulistyo)

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Wisatawan Australia memilih Thailand dan Vietnam untuk berlibur ketimbang berwisata ke Indonesia. Penyebabnya antara lain daya saing pariwisata RI lemah akibat minimnya akses disamping kurang promosi beyond Bali.

“Sekarang ini tour ke Vietnam dan Thailand benar-benar lagi boom bagi orang Australia, yang jadi pertanyaan mengapa mereka pergi jauh-jauh sementara Indonesia adalah tetangga terdekat,” kata Samuel Surya, Operation Manager Wel-Travel Australia yang memiliki kantor cabang di Gold Coast, Melbourne, Perth, India, Singapura dan Indonesia.

 Memang untuk aksesibilitas ke Bali, turis Australia bisa memilih penerbangan jenis Low Cost Carrier ( LCC), namun dari Indonesia ke Australia penerbangan langsung terbatas hanya dari Garuda Indonesia dan Air Asia. Itulah sebabnya turis Australia lebih banyak tumpah ruah ke Bali sebagai destinasi utamanya.

Selama ini, ujarnya, pemerintah Indonesia teryata kurang mempromosikan destinasi selain Bali sehingga orang Australia merasa kalau sudah sampai Bali artinya sudah berkunjung ke Indonesia. Padahal Indonesia banyak memiliki keindahan obyek wisata dari Sabang hingga Merauke.

“Mereka ingin juga pergi ke Raja Ampat yang sudah sering terdengar dan masuk ke peta wisata internasional, tetapi informasinya masih terbatas. Dari  sisi harga jatuhnya mahal dan akses kesana juga tidak mudah dan tidak ada penerbangan langsung,” jelasnya di sela-sela TTC Travel Mart ( 7/9) lalu di Hotel Redtop, Jakarta.

Keingintahuan mereka yang besar dengan membaca  tulisan laporan perjalanan atau features lainnya mengenai Raja Ampat di media Australia juga jarang terlihat sehingga tidak heran pilihan jatuh pada Vietnam dan Thailand yang gencar berpromosi di berbagai saluran komunikasi, ungkap Samuel yang sudah 8 tahun bekerja di industri wisata Melbourne.

Menurut Samuel Surya, kelemahan lainnya dari Kementrian Pariwisata adalah tidak konsisten dalam mendukung event-event yang sudah eksis di Australia seperti Festival Indonesia di beberapa kota di negri kangguru itu.

“Untuk tahun 2015 event ini nampaknya melemah, biasanya memang rangkaian dengan hari Kemerdekaan RI jadi Kedubes dan konsulat serta masyrakat Indonesia di Australia membuat berbagai atraksi seni, budaya, kuliner sekaligus mempromosikan keindahan pariwisata Indonesia,” ujarnya di damping Lisianti Tanuwidjaja, Manager Indonesia Wel-Travel Australia.

Jadi siapapun penyelenggaranya apakah  hasil sinergi Deplu, Kemenpar dan instansi lainnya, fokuslah pada Festival Indonesia yang sudah lama berjalan di beberapa kota di Australia karena kepastian tanggal penyelenggaraan dan kontinuitas penyelenggaraan sangatlah penting hingga menjadi event yang memang patut ditunggu-tunggu oleh masyarakat Australia.

Samuel Surya dan Lisianti Tanuwidjaja dari Wel Travel tengah melayani tamu di bursa wisata TTC Travel Mart
Samuel Surya dan Lisianti Tanuwidjaja dari Wel Travel tengah melayani tamu di bursa wisata TTC Travel Mart

“Salah satu tantangan untuk Kementerian Pariwisata Indonesia. Selama ini wisatawan Australia hanya tahu destinasi Bali dan juga sebagian tahu Lombok. Untuk destinasi wisata lainnya masih belum dipromosikan dengan baik sehingga kalau mau menjaring wisatawan dari negara tetangga seperti Australia, Singapura, Malaysia harus benar-benar fokus dan disediakan mulai dari aksesibilitas, produk dan lainnya sesuai segmentasi yang ingin dijaring,”

Menurut Samuel, brand image mengenai Indonesia boleh diklaim meningkat, tapi paket-paket wisata dan informasi untuk bisa datang ke tempat yang dipromosikan yang lebih penting. Banyak  orang Australia  yang tahu mengenai Raja Ampat, Papua, dari cerita teman-temannya yang sudah datang kesana.

“Jadi popularitas Raja Ampat sementara ini menurut saya hasil cerita dari mulut ke mulut.Apakah pemerintah kita tidak bisa melakukan promosi yang holistic dan melalui media televisi, cetak, online yang lebih gencar dan ketika mereka datang ke travel agent paket-paketnya tersedia seperti yang dilakukan Vietnam dan Thailand saat ini,”

Dia berharap jika Menteri Pariwisata dan jajarannya memang mengandalkan para blogger untuk menulis tentang destinasi Indonesia, maka manfaatkanlah para blogger di Australia dengan menulis sebanyak mungkin features bahwa  Indonesia surga yang sesungguhnya sehingga tempat wisata di luar Bali atau Bali beyond akan terekspos dengan baik karena mendorong minat turis datang.

Samuel mengungkapkan klien yang datang ke travel agent tempatnya bekerja, Wel-Travel diantaranya adalah para pensiunan dan petani-petani yang hidup makmur dan suka berwisata. Namun pilihan wisatanya adalah Thailand dan Malaysia bukan lagi ke Indonesia karena mereka rata-rata sudah ke Bali.

“Kalau Kementrian Pariwisata kita punya data dari biro pariwisata Australia ( ATC) mengenai profil petani Australia ini maka turis senior ini pasar yang besar bagi Indonesia karena lama tinggal juga panjang. Saya berharap ada LCC yang masuk langsung ke kota-kota besar di Australia sehingga aksesibilitas mudah dan akhirnya daya saing pariwisata RI akan meningkat,” tandasnya. ( hildasabri@yahoo.com)