Mencuat, Praktik Jual-Beli Jam Terbang Pilot Asing di Indonesia

0
500
Pilot asing - ilustrasi

TANGERANG, Bisniswisata.co.id: Praktik jual beli jam terbang pilot asing di maskapai penerbangan Indonesia, kian mencuat bahkan menjadi topik pembicaraan serius di kalangan pilot penerbangan nasional. Pilot asing berani membayar maskapai, agar mendapatkan lisensi jam terbang. Dalam dunia penerbangan, tindakan semacam ini dikenal dengan istilah pay to air.

Muzaffar, Direktur Kelaik-udaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kemenhub menegaskan praktik pay to air dilarang diterapkan di Indonesia. Karena merugikan sekaligus menjelekkan citra dunia penerbangan nasional.

“Tidak ada cara seperti itu di sini (Indonesia – red). Malah sebaliknya, mereka (pilot asing) yang bertanya apakah kita mampu membayar mereka,” tandas Muzaffar kepada wartawan seusai membuka Workshop Optimalisasi Penyerapan Pilot AB Initio seperti dikutip laman Bisnis.com, Rabu (22/11/2017).

Dilanjutkan, praktik pay to air jelas tidak bisa diterapkan lagi di Indonesia, karena sudah ada aturan yang melarang. Dia menjelaskan, masa kerja pilot asing di Indonesia maksimal 2 tahun. Itupun hanya untuk jabatan PIC (Pilot In Command). Sedangkan untuk pilot asing yang baru lulus studi dan mencari jam terbang di Indonesia tidak diperbolehkan.

Sementara Direktur Operasi Lion Air, Daniel Putut mengatakan fenomena pay to air memang terjadi di sejumlah negara. Hal tersebut bahkan dibantu oleh agen agar pilot bisa mendapatkan jam terbang di luar negaranya.

“Tapi di Indonesia sudah tidak bisa. Pilot ab initio ekspatriat sudah dibatasi. Yang bisa hanya PIC,” terangnya sambil menambahkan, Lion Air sendiri sudah berkomitmen untuk memprioritaskan pilot lulusan sekolah penerbangan dalam negeri. (*/BIO)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.