Melongok Jejak Kehidupan Masa Lalu di Kota Tua Fenghuang

0
1291

Jeanne Cynthia Lay, salah satu peserta tour berpose di kota tua Fenghuang.

ZHANGJIAJIE, test.test.bisniswisata.co.id: Tidur lelap beberapa jam meskipun tidak mencapai jumlah ideal selama 8 jam terbukti membuat tubuh dan pikiran menjadi segar kembali. Begitu membuka mata saya inget pesan coach Awie Suwandi, guru hypnoterapi saya untuk pasang muka senyum yang lebar penuh rasa syukur saat bangun tidur.

Ya, untuk wanita yang usianya sudah Lolita alias lolos lima puluh tahun lebih seperti saya, bangun tidur dengan wajah senyum dan duduk sejenak di tempat tidur sangat baik untuk mengumpulkan energi positif yang akan mengiringi langkah saya pagi ini. Karina Ayu teman sekamar saya masih tidur lelap saat saya menyelesaikan sholat subuh dan bersyukur pada Allah SWT sudah berada di negri Cina tepatnya di kota Kecamatan Zhangjiajie setelah penerbangan langsung semalam dari bandara Soetta ke Zhangjiajie dengan Sriwijaya Airlines.

Usai beribadah barulah saya memperhatikan seluruh isi ruangan kamar di Vienna Hotel ini. Menempati kamar Deluxe Twin Bed, dengan warna dinding krem kekuningan, ada kesan vintage ( kekunoan) pada desain dan furniturenya. Saat check-in nyaris tengah malam tadi, saya hanya sempat terpesona melihat hiasan lampu di atap lobby depan reception berbentuk lingkaran besar.

Ada Wifi gratis di 190 kamar hotel yang ada maupun di ruang-ruang pertemuan. Ruangannya tergolong luas begitu juga lorong jalan di depan kamar. Alamat Vienna Hotel Zhangjiajie adalah North Railway Station Branch No.1,Zhan Qian Road ,North Railway Station, Yongding, Zhangjiajie, Cina

Bahasa brosurnya sih melayani tamu agar merasa layaknya di rumah sendiri karena ada layanan resepsionis dan layanan kamar selama 24 jam. Sehingga jika membutuhkan sesuatu atau lapar ditengah malam tetap ada yang melayani. Selain itu juga ada kemudahan akses karena lokasinya strategis dekat stasiun dan terminal bis sehingga mudah untuk mencapai obyek-obyek wisata yang ada.

Seperti hotel-hotel di Indonesia, dalam kamar juga ada televisi layar lebar, kopi instans dan teh gratis, handuk serta akses internet seperti WiFi tadi sehingga kita akan bisa terhubung dengan orang-orang tercinta di tanah air baik keluarga maupun teman serta komunitas WA yang dimiliki.

Setelah semalam hanya saling bertukar sapa di bandara, pagi ini saya bergabung lagi dengan Anton Thedy, CEO TX Travel yang menjadi arsitek penerbangan charter flight ke Zhangjiajie ini. Penerbangan 4 Agustus kemarin ternyata penerbangan ke 7 dari serial penerbangan hingga September nanti dan tentu saja semuanya full.

“Saya sudah berangkat ikut group tanggal 30 Juli lalu makanya saya bilang bunda Hilda di tunggu di Zhangjiajie,” kata Anton Thedy dengan riang sambil mengarahkan peserta untuk naik ke bus yang sudah siap di depan hotel.

Kota tua yang indah dan romantis
Fenghuang, kota tua yang indah dan romantis

Fenghuang

Mengunjungi kota Fenghuang adalah awal kegiatan wisata di hari ke dua tour dengan lama perjalanan selama 4 jam. Keluar dari hotel melintas pusat kota membuat saya takjub untuk sebuah kota setingkat kecamatan di tanah air namun banyak hotel berbintang dan apartemen.

Hujan gerimis membahasahi kota dan ketika pandangan mata tertumpu pada para pengendara sepeda motor rupanya dilengkapi dengan payung besar sehingga pengendaranya tidak kehujanan. Bus wisata mewah yang kami tumpangi selama satu jam melewati jalan pedesaan dan tiga jam selanjutnya melalui jalan bebas hambatan (tol) diatas perbukitan.

“Pemerintah pusat investasikan uang hingga triliunan yuan untuk membangun infrastruktur ke kota tua Fenghuang sehingga jarak tempuh dapat diperpendek. Dulu daerah ini terpencil dan rakyatnya miskin,” kata Akiong, tour leader lokal kami.

Diperjalanan sempat beristirahat dua kali di rest area sehingga kesempatan juga banyak dimanfaatkan untuk ke toilet. Hampir semua kendaraan yang mampir adalah bus-bus wisata. Selain turis lokal, turis mancanegaranya datang dari Taiwan, Korea, Hongkong, Thailand serta dari Indonesia. Fenghuang memang magnet yang luar biasa karena itu dijuluki kota tua terindah di Cina.

Tak hanya dikenal karena bentuk bangunan nya yang sangat unik tapi juga dikenal sebagai salah satu kota dengan suasana paling romantis di negri Cina. Terlebih jika menjelajahi kota tua ini pada saat dipenuhi kabut, baik setelah turun hujan atau pada pagi hari karena rasanya kita masuk dalam sebuah lukisan alam yang indah.

Nama Fenghuang bagi seluruh warga di Cina tentu sudah sangat familiar, karena berasal dari nama burung khayangan atau hong. Karena spesies burung ini memang hanya muncul di dalam mitologi China, dan merupakan salah satu maskot bangsa ini yang disebut juga burung Phonix..

Siang hari saat tiba, nampaknya kota tua yang sebenarnya desa wisata ini terbagi menjadi dua bagian yang unik dan modern. Bangunan di bantaran sungainya didominasi warna kayu. Sementara bagian lainnya terutana sisi komersial bangunannya baru meski tetap dengan arsitektur kuno.

Terdapat sekitar 200 bangunan dengan arsitektur Dinasti Ming abad ke-14 dan Dinasti Qing abad ke-17. Ada sekitar 20 jalan besar dan kecil serta 10 gang-gang sempit yang membelah pemukiman warga. Kota yang berdiri sekitar 1.300 tahun yang lalu ini masih menyisakan menara dengan gerbang kuno, sumur kuno, jembatan kuno, dan kuil sastra. Semuanya masih asli, seperti bangunan yang diawetkan.

Pedagang kaki lima di Fengshang menjual semacam sate ayam
Pedagang kaki lima di Fenghuang menjual semacam sate ayam

Penduduknya juga masih menggunakan bahasa daerah dan secara keseluruhan Fenghuang dipenuhi dengan kombinasi pemandangan gunung, air serta langit yang indah. Terlebih suasana di kota ini didominasi oleh warna hijau yang masih alami dan dibelah oleh Sungai Tuo Jiang.

Bangunan-bangunan tua dibantaran sungai itu dibangun dengan berbahan utama kayu, disebut dengan nama Diaojiaolou dan bangunan bertingkat-tingkat ini bisa dijumpai di sepanjang bantaran Sungai Tuo Jiang . Tak heran kalau suasana harmonis yang tercipta di Fenghuang ini kerap dituangkan dalam lukisan tradisional Cina.

Sungai Tuo Jiang benar-benar menjadi nyawa kehidupan bagi masyarakat Fenghuang. Air di sungai ini dijadikan sebagai sumber mata pencaharian, di mana para lelaki melakukan pekerjaannya untuk mencari ikan. Selain itu, para perempuan juga memanfaatkan air di sini sebagai sarana untuk mencuci pakaian.

Di sungai ini juga kita bisa temukan berbagai jembatan penyeberangan yang unik dan yang paling terkenal adalah The Rainbow Bridge dan The Jumping Rocks. Kondisi kota tua yang terjaga dengan baik ini pun membuat Fenghuang jadi destinasi wisata yang menarik di Provinsi Hunan. Terlebih lagi kota ini mempunyai sejarah panjang lebih dari 300 tahun. Sebagai tambahan, kota tua Fenghuang ini juga masuk dalam daftar World Heritage dari UNESCO pada tahun 2008 lalu.

Hujan deras yang mengguyur begitu tiba di Fenghuang membuat kami harus bertahan di dalam bis karena restoran tempat kami makan siang tidak bisa dilalui kendaraan besar disamping memang tersedia lokasi parkir yang luas setelah itu berjalan kaki sekitar 300 meter.

Nah perjalanan menuju restoran itulah banyak sekali godaan untuk mampir karena sepanjang jalan banyak toko suvenir, restoran dan aneka ritel yang unik. Selain itu, ada pula daya tarik lain yang ditawarkan Fenghuang ini yaitu keberadaan suku Miao, sebuah suku minoritas yang mendiami wilayah ini.

“Setelah makan siang kita check in di Hotel FengTing. Sore hari jam 6.00 sudah makan malam karena city tour dilakukan dengan berjalan kaki. Pergantian malam saat sekitar jam 8 malam sehingga setelah makan kita bisa menyaksikan Fenghuang di waktu sore dan malam yang berubah total suasananya, kara Anton Thedy, CEO TX Travel.

Sore hari di Rainbow Bridge ada wanita-wanita Suku Miao menawarkan turis memakai baju tradisional mereka. Harga sewa baju dan foto langsung cetak berbeda-beda tapi tetap murah karena kurang dari Rp 50 ribu.

Gadis-gadis Suku Miao, penduduk asli Fengshang
Gadis-gadis Suku Miao, penduduk asli Fenghuang

Suku Miao, penduduk  asli Fenghuang ini di dikenal sebagai suku yang sangat menghormati kondisi alam. Mereka percaya kalau alam mempunyai kemampuan untuk mengontrol kehidupan sehari-harinya. Suku Miao juga dikenal mempunyai keahlian tinggi dalam membuat kerajinan tangan. Suku minoritas yang satu ini juga dapat dikenali dengan mudah pada motif pakaian yang digunakan, salah satu cirinya adalah penggunaan warna yang mencolok.

Wanita suku Miao juga mempunyai kecantikan alami, bibir dan pipi yang merona merah dari dukungan kondisi alam sehingga tidak perlu memakai kosmetik dalam kesehariannya. Untuk melihat desa asal suku ini dan berinteraksi langsung bisa mengunjungi desa terdekat sekitar 20 KM dari Fenghuan.

Tak ketinggalan, suku Miao juga mempunyai beberapa perayaannya sendiri. Termasuk di antaranya adalah Miao Spring Festival, New Rice Tasting Festival ataupun Dragon Boat Festival. Dan dalam setiap perayaan yang mereka lakukan, suku Miao kerap menampilkan tarian tradisional yang disebut dengan nama Tari Lusheng.

Setelah beristirahat di hotel untuk menghimpun tenaga. Sorenya kami makan malam lebih awal direstoran tepat di sebelah hotel. Dua orang peserta tour dari Bangka yaitu Aping dan Ahong mendapat kejutan dua kue tart ulangtahun  yang dihabiskan bersama. Seperti janji Anton Thedy, setelah makan dia sendiri yang memimpin tour melewati bantaran sungai dengan rumah-rumah kayu yang indah.

Makan malam di Fenghuang
Makan malam di Fenghuang

Kota tua diwaktu malam

Setelah maghrib, Fenghuang ini berubah total dalam sekejab karena bertransformasi dari kota tua yang berusia ribuan tahun menjadi kota yang gemerlap dengan lampu-lampu neon berwarna-warni menghiasi setiap bangunan yang berada di bantaran sungai.

Kejutan barangkali kata yang lebih tepat menggambarkan perubahan suasana dan wajah kota ini. Kalau semula saya berfikir akan melewati malam membosankan dengan suasana yang gelap, sepi dan kemungkinan hanya berdiam di dalam kamar hotel tapi nyatanya justru menjadi lebih hidup di malam hari.

Banyak bangunan yang letaknya berada di bantaran sungai, pada malam hari disulap menjadi café dan club. Suara house music yang kebarat-baratan ini distel dengan suara sangat keras di hampir semua gerai tempat minum.

Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan predikat yang disandangnya yaitu Kota Tua ribuan tahun peninggalan Dinasti Qing karena wajahnya dimalam hari terimbas modernisasi dan kental kesan komersial.

Meski demikian, jejak-jejak kehidupan pada masa lalu masih bisa ditemukan di tepi sungai Tuo jiang ini. Terlihat banyak kaum hawa sedang melepas lampion berbentuk bunga teratai di atas aliran air sungai sambil berdoa sejenak di dalam hati. Ini adalah keyakinan mereka bahwa dengan mengirimkan doa lewat bunga lampion ini, harapan mereka akan terkabul.

Fengshang diwaktu malam, pusat keramaian berpusat di sekitar Pagoda.
Fenghuang diwaktu malam, pusat keramaian berpusat di sekitar Pagoda.

Pusat keramaian selain di Rainbow Bridge juga disekitar Pagoda dan benteng yang di dalamnya tidak kalah ramai jika dibandingkan dengan suasana di tepi sungai. Banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mereka di pinggir jalan, mirip pasar malam.

Tentu bagi anda pencinta fotografi, suasana malam di Fenghuang adalah surga dan sebuah obyek yang sangat kaya inspirasi. Karena selain obyek bangunan tua, human interest, permukaan air sungai Tuo jiang sangat tenang dan selalu menampilkan sebuah pantulan yang sangat indah.

Meskipun demikian, jejak-jejak kehidupan pada masa lalu masih bisa ditemukan di tepi sungai Tuo jiang ini. Terlihat banyak kaum hawa sedang melepas lampion berbentuk bunga teratai di atas Sungai Tuojiang sambil berdoa sejenak di dalam hati. Ini adalah keyakinan mereka bahwa dengan mengirimkan doa lewat bunga lampion ini, harapan mereka akan terkabul.

Keadaan di dalam benteng tidak kalah ramai jika dibandingkan dengan suasana di tepi sungai. Banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangan mereka di pinggir jalan, mirip pasar malam. Juga banyak restoran dan café yang buka hingga larut malam.

Tentu bagi anda pencinta fotografi, suasana malam di Fenghuang adalah surga dan sebuah obyek yang sangat kaya inspirasi. Karena selain obyek bangunan tua, human interest, permukaan air sungai Tuojiang sangat tenang dan selalu menampilkan sebuah pantulan yang sangat indah.

“Bulan Agustus ini TX Travel bawa rombongan fotografer yang minta tinggal selama seminggu di Fenghuang saja tidak ke tempat lain karena begitu banyaknya obyek foto yang ada,” kata Anton.

Keindahan desa wisata yang jika malam bertranformasi menjadi kota wisata yang gemerlap dengan hiburan malam dan kuliner membuat rombongan tur asyik hingga larut malam berada di bantaran sungai. Saya sendiri sibuk menyambangi pedagang suvenir untuk mengisi kopor kosong. Industri kreatifnya jalan dengan kualitas bagus tapi harga yerjangkau.

Tengok kanan-kiri rombongan saya rupanya sudah tidak lagi mengikuti tour leader Makmum dan kawan-kawan. Kalaupun berpapasan di bantaran sungai, masing-masing sudah membawa belanjaan. (Hilda Ansariah Sabri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.