Mbah Ponco Jadi Aktris Terbaik AIFFA 2017

0
537

MALAYSIA, Bisniswisata.co.id: Mbah Ponco Sutiyem akhirnya dinobatkan sebagai Aktris Pemain Utama Terbaik versi ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017 yang digelar di Hotel Pullman, Kuching, Serawak, Malaysia. Nenek 95 tahun itu menyisihkan rivalnya, aktris senior Cut Mini Theo.

Akting Mbah Sutiyem dalam film Ziarah, menarik perhatian para juri yang terdiri dari U-Wei bin HJ. Saari (Malaysia), Maxine Williamson (Australia), Siti Kamaluddin (Brunei), Eddie Cahyono (Indonesia) dan Raymon Red (Filipina).

Mbah Sutiyem bersaing dengan nominator asal Vietnam, Ngoc Thanh Tam lewat film The Way Station, Subenja Pongkorn dari Laos dalam film Bangkok Nites, Al-Al Delas Allas dari Filipina lewat film Area dan Cut Mini dari Indonesia lewat film Athirah.

Nenek petani dari gunung batu nan tandus ini, memang bukanlah aktris profesional. Dia sama sekali tidak pernah belajar akting. Tapi karakter wajahnya, ditambah kegemaran Mbah Sutiyem difoto, sangat menyakinkan BW Purba Negara untuk menjadikan Mbah Sutiyem sebagai tokoh utama dalam filmnya tersebut.

Sang kreator menemukan Mbah Sutiyem di Dusun Pagerjurang, Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, dua tahun lalu. “Saat itu asisten saya melakukan KKN disana. Tahun 2015 saya bikin film dan tertarik pada sosok Mbah,” ujar BW Purba.

Dia datang ke Pagerjurang dengan membawa naskah cerita yang sudah jadi.
Menurutnya, Mbah Sutiyem memang senang berfoto dan bergaya di depan kamera. Maka itu ia sangat mudah diarahkan pada saat pengambilan gambar.

“Bahkan Mbah cenderung bersemangat saat menjalani proses shooting. Dengan kondisi demikian, proses pembuatan film Ziarah pun berlangsung cukup singkat, hanya sebulan,” ungkapnya.

Mbah Ponco Sutiyem pun mengakuinya. Menurutnya bermain film merupakan kegiatan yang mengasyikan dan tidak begitu sulit. “Main film itu ya hanya mengikuti arahan saja. Saya disuruh mancing, ya mancing. Disuruh nangis, ya nangis, disuruh ketawa ya ketawa,” kata Mbah Sutiyem.

Pemeran dalam film ini adalah orang-orang yang pernah mengalami masa perang, Mbah Sutiyem. Ia berperan sebagai Mbah Sri yang mencari makam suaminya yang hilang pada zaman agresi militer Belanda ke-2. Pencariannya bermuara pada satu tujuan: ingin dimakamkan di samping makam sang suami tercinta.

Sutiyem juga punya pengalaman tak terlupakan pada masa perang. Saat sedang hamil tua, rumahnya dihujani mortir dan peluru. Dia harus lari, berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Beberapa potongan hidup Mbah juga dimasukkan ke dalam cerita Ziarah yang akan tayang di bioskop mulai 18 Mei nanti.

Sebelumnya, film Ziarah juga sudah meraih beberapa penghargaan, di antaranya Film Terbaik di Salamindanaw Film Festival 2016, Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016, Nominasi Penulis Skenario di Festival Film Indonesia 2016, Nominasi Film Terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2016 dan Kompetisi Film di Jogja Netpac Asian Film Festival 2016.

“Film ini ditangani dengan semangat kolaboratif berbarengan kawan-kawan di Indonesia, terutama di Gunung Kidul serta Yogyakarta. Penghargaan ini pastinya saya berikanlah juga untuk semua pemain serta kru dan mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi,” harapnya BW Purba Negara. (*/pko)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.