Mata Uang Melemah, Rakyat China Kurangi Berwisata

0
595
wisatawan China saat di Bali

TIONGKOK, test.test.bisniswisata.co.id: Langkah pemerintah China untuk membiarkan mata uangnya melemah berdampak langsung pada rakyatnya. Mayoritas masyarakat mengurangi dana untuk belanja dan jalan-jalan atau berwisata. Kebijakan China untuk mendevaluasi yuan menghantam daya beli masyarakat.

Rakyat China mengurangi porsi uang untuk membeli barang atau produk merek mewah. Kondisi ini tentu berdampak pada negara lain sebagai produsen. Pasalnya, China selama ini menjadi pasar empuk untuk mendongkrak penjualan.

Tidak hanya itu, banyak juga negara di dunia yang menantikan kedatangan turis China untuk berwisata ke negaranya karena menambah devisa negara.

“Saya berencana pergi ke Seoul bulan ini bersama teman-teman saya dan kemudian ke Thailand pada Oktober mendatang. Tapi saya takut yuan akan mendevaluasi lagi,” ucap ibu rumah tangga, Xuecheng Huang di Guangzhou seperti dilansir dari CNBC di Jakarta, Rabu (12/8).

Kemudian, pemilik toko dari Guangxi, Huang Ruifen mengaku sering membeli barang mewah di Hong Kong. Namun kini, porsi belanjanya akan dikurangi. “Saya akan berhenti membeli barang mewah sampai yuan menguat lagi,’ katanya.

Kebijakan pemerintah dan perubahan daya beli masyarakat China menghantam perusahaan induk Louis Vuitton, Gucci dan L’Oreal. Investor merespon negatif dan harga saham mereka anjlok antara 1,5 persen hingga 4 persen. Namun, perusahaan enggan berkomentar masalah ini.

Analis memprediksi, belanja barang mewah penduduk China mencapai 45 persen pasar global. “Secara keseluruhan itu cenderung negatif dalam pandangan saya,” ucap analis barang mewah, Christopher Walker. (redaksibisniswisata@gmail.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here