Mark Sungkar Promosikan Pariwisata Indonesia Melalui Olahraga Triathlon

0
947
Mark Sungkar saat mengikuti kongres International Triathlon Union (ITU) di Spanyol.

JAKARTA, test.test.bisniswisata.co.id: Ketika ditelepon wartawan Bisnis Wisata pekan lalu, Mark Sungkar sang aktor kawakan itu masih berada di Pariaman, Sumatera Barat. Dari telepon selulernya terdengar suara dia sedang bersenda gurau dengan banyak orang yang ada di sekitarnya. Belum sempat menanyakan kegiatannya, lelaki yang banyak membintangi layar televisi ini dengan cepat menjelaskan ia baru saja usai menggelar Pariaman ASTC Triathlon Asian Cup 2015 di bumi Malin Kundang itu.

Aktor yang pernah bergabung dalam ‘Teater Kecil’ ini lewat telepon genggamnya mengaku dirinya senang bahwa Pariaman ASTC Triathlon Asian Cup 2015 yang diikuti 200 atlet dari 24 negara itu berjalan sukses. “Saya bahagia, apa yang saya lakukan lewat olahraga triathlon ini dapat mempromosikan pariwisata Indonesia. Khususnya event triathlon Pariaman yang banyak dihadiri turis asing ini juga dapat mengangkat obyek wisata kota Pariaman,” ujarnya.

Dengan gaya bicaranya yang santai, Mark Sungkar menjelaskan sejak seminggu menjelang event digelar, tingkat hunian kamar hotel di kota Pariaman semuanya penuh. “Bapak Wali Kota Pariaman, Mukhlis Rahman merasa senang. Justru ia berharap Pariaman ASTC Triathlon Asian Cup 2016 yang akan digelar pada Agustus 2016 bisa lebih sukses dari sekarang,” tuturnya.

“Selain di kota Pariaman, agenda 2016 nanti ada Kejurnas Triathlon I di Belitung, pada Juni 2016, dan Belitung ASTC Triathlon Asian Cup pada November 2016. Sedangkan untuk agenda 2017 akan digelar Sriwijaya ASTC Triathlon Asian Championships di kota Palembang,” lanjut dia.

Selama sekitar 20 menit, Mark Sungkar berbicara seperti tenggelam dalam suasana kebahagiaan. Dia membagi berbagai cerita tentang kecintaannya pada olahraga triathlon. “Olahraga triathlon ini menyenangkan. Atlet yang berlaga, lari dan balap sepeda melintasi jalan dengan pemadangan alam yang indah, lalu berenang di laut yang melintasi pantai,” tuturnya. “Jadi saya suka triathlon ini karena ada unsur olahraga dan unsur wisatanya. Karena itu event triathlon selalu menarik perhatian para wisatawan untuk datang ingin sambil berwisata,” cetus dia.

Apalagi kota Pariaman, kata dia, memiliki banyak obyek wisata bahari yang menarik. Namun selama ini kurang dipublikasikan. “Bapak Wali Kota Pariaman menyampaikan kepada saya, event ini diharapkan menjadi daya tarik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota Pariaman,” tutur ayah aktris Shireen Sungkar ini.

Kecintaan Mark Sungkar sendiri pada wisata pantai Pariaman yang indah tak bisa dipungkiri. Ini terbukti saat ia melakukan survei, kota Pariaman yang terdapat banyak obyek wisata alamnya itu dinilai layak. “Lautnya bagus, pantainya mempesona, dan alamnya juga indah. Sehingga saya menjatuhkan pilihan lokasi penyelenggaraan Pariaman ASTC Triathlon Asian Cup ini digelar di pantai Gandoriah, kota Pariaman,” jelasnya.

Triathlon yang mempertandingkan atlet dengan sekaligus mengikuti tiga cabang olahraga lari, renang dan balap sepeda itu, menurut dia, memang kurang populer di Indonesia. Apalagi pada awal 1990-an, belum ada organisasi yang menaungi olahraga triathlon ini, sehingga hati Mark Sungkar tergugah ingin berjuang untuk mendirikannya.

Saat ditanya kenapa senang dengan olahraga triathlon? Aktor kelahiran Surakarta, 22 Oktober 1948 ini menceritakan awal kisahnya jatuh cinta dengan olahraga triathlon. Pada 1995 lalu, ia menghadiri jamuan makan malam yang diadakan Pangeran Reinier di Monaco.

“Waktu itu saya mengikuti seminar tentang Sponsorship dalam Olahraga Pra Olympiade Atlanta di Monaco. Saya yang didampingi istri, Fenny Bauty (kini berpisah), duduk satu meja dengan President ITU (International Triathlon Union) Les McDonald. Dalam perbincangan itu, beliau mengharapkan agar di Indonesia didirikan federasi triathlon. Kalau saya bisa mendirikan federasi ini, beliau akan membawa 230 kontingen. Saya tertarik karena ini bisa mendatangkan devisa negara,” kata Mark beralasan.

Pada 1997 Mark Sungkar melakukan survei di daerah Solok, Sumatera Barat. Waktu itu Gamawan Fauzi yang turut mendampingi Mark Sungkar masih menjabat sebagai Bupati Solok. Sayangnya, krisis moneter melanda Indonesia, sehingga rencana digelarnya event triathlon di daerah Solok terpaksa dibatalkan. Kemudian April 2005, Mark Sungkar berinisiatif akan mengadakan Lomba Triathlon tingkat Nasional di Belitung. Event yang mendapat dukungan empat meteri itu pun kandas.

Manager Athlete & Coach Development Program Internaional Triathlon Union Sport Development, menyarakan agar Mark Sungkar segera berafiliasi dengan ITU untuk memperoleh endorsement dari NOC (National Olimpic Committee).

President ITU, Les McDonald mengirimkan memorandum (27 September 2005) yang ditujukan langsung kepada Mark Sungkar agar segera membentuk Federasi Triathlon yang berafiliasi dengan ITU. “Dari memorandum yang dikirim Les McDonald itu akhirnya saya mendapat dukungan Koni dan Menpora untuk mendirikan FTI (Federasi Triathlon Indonesia),” jelas Mark Sungkar.

Dengan berbagai persiapan yang matang, gagasan pendirian FTI ini akhirnya baru bisa terwujud pada 2006. “Waktu itu Gubernur Sumatera Selatan, Syahrial Oesman menelepon saya, untuk mendukung berdirinya FTI. Tanggal 1 Juni 2006, pukul 20.00 dihadapan Notaris Nurmiati, SH di Jakarta, Pak Syahrial Oesman dan saya menandatangani Akta,” lanjut dia.

Pada periode pertama kepemimpinan FTI, Mark Sungkar merelakan untuk dipimpin Syahrial Oesman. Namun kepemimpinan Gubernur Sumatera Selatan itu tak berlangsung lama, karena tersandung kasus korupsi yang ditangani KPK.

Akhirnya kepemimpinan FTI dipercayakan kepada Mark Sungkar sebagai salah satu pendiri oraganisasi tersebut. Sejak ia menjadi President FTI, dia ingin untuk mempopulerkan olahraga triathlon ini di Indonesia. “Olahraga triathlon masih sedikit penggemarnya, makanya saya ingin mempopulerkan triathlon ini dengan mengadakan banyak event supaya masyarakat makin mengenalnya,” kata dia.

Dari perbincangan lewat telepon genggam itu, Mark Sungkar juga bercerita di waktu luangnya ia manfaatkan untuk menulis buku. Salah satu karyanya buku berjudul “Akuaponik ala Mark Sungkar”. (Arief Rahman Media)

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.