Home DAERAH Maluku Tawarkan Wisata Peninggalan Kolonial

Maluku Tawarkan Wisata Peninggalan Kolonial

0
1273
Kota Ambon

AMBON, bisniswisata.co.id: Maluku bukan hanya memiliki wisata alam dan pantai yang indah. Berbagai wisata sejarah juga menjadi daya tarik. Mengingat, Maluku pernah dijajah oleh bangsa Portugis dan Belanda. Sehingga tidak heran jika Maluku memiliki berbagai peninggalan bersejarah itu.

“Tercatat ada sekitar 36 benteng peninggalan Portugis dan Belanda di Maluku. Beberapa Situs Kebudayaan peninggalan zaman kolonial juga menjadi daya tarik tersendiri apalagi masih terpelihara hingga saat ini,” lontar Gubernur Maluku, Said Assagaff di Maluku, Jumat (09/12/2016).

Apalagi, sambung Gubernur yakin industri pariwisata sebagai salah satu aspek penting yang harus dikembangkan dan memiliki pengaruh besar. Pengembangan pariwisata dapat menjadi pintu masuk untuk pengembangan sektor-sektor lainnya di Maluku.

“Turis asing dan domestik yang datang ke Maluku, apalagi jika memiliki latar belakang pengusaha, sangat mungkin untuk investasi di Maluku setelah menyaksikan sendiri potensi wisata Maluku. Jadi kami serius mengembangkan pariwisata dan karena itu harus kerja sama dengan berbagai pihak agar pariwisata Maluku lebih maju,” harapnya.

Dilanjukan, jika pariwisata Maluku maju selangkah, dampaknya sangat luar biasa bagi kemajuan ekonomi daerah, peningkatan kesejahteraan masyarakat dan Maluku lebih dikenal di penjuru nusantara dan dunia.

Berikut tujuh wisata peninggalan era kolonial penuh sejarah di Maluku yang kerap dikunjungi wisatawan nusnatara maupun mancanegara dari Belanda, Jepang dan negara Eropa:

01. Rumah Pengasingan Bung Hatta

Ini merupakan rumah pengasingan tokoh proklamasi Indonesia, Mohammad Hatta. Di rumah yang cukup besar ini, Bung Hatta menghabiskan hari-harinya selama menjalani pengasingan di pulau Banda. Hingga saat ini, masih terdapat tempat tidur dan kursi yang pernah digunakan Bung Hatta. Semua itu masih asli.

02. Benteng Amsterdam

Benteng Amsterdam berada di kawasan pantai utara, di dekat desa Hila dan desa Kaitetu. Bangunan utama benteng ini dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1512. Namun, dalam perjalanannya, masyarakat Maluku melakukan perlawanan kepada Portugis. Setelah Portugis pergi, Belanda menguasai tempat tersebut dan menjadikan bangunan ini sebagai benteng. Kini, benteng ini menyimpan perlengkapan perang dan barang pecah belah berusia ratusan tahun.

03. Benteng Belgica
Benteng Belgica terletak di puncak dataran tinggi Pulau Banda Neira dan dibangun oleh Belanda pada tahun 1611. Benteng ini terlihat kokoh dan mengagumkan, namun pada tahun 1795, benteng ini dipugar untuk menghadapi serangan Inggris. Setahun setelahnya, pasukan Inggris berhasil merebut benteng ini. Hingga kini, benteng ini masih berdiri dan menjadi obyek wisata.

04. Benteng Duurstede

Benteng ini terletak di Saparua, Maluku Tengah. Benteng Duurstede dibangun pertama kali Portugis tahun 1676. Benteng ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan VOC selama menguasai wilayah ini. Namun pada tahun 1817, benteng ini diserbu rakyat Saparua yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura. Meski demikian, Belanda berhasil menduduki benteng ini kembali setelah menyerang dengan armada yang banyak.

05. Benteng Perangi

Untuk masuk benteng yang juga disebut Benteng New Victoria atau Benteng Kota Laha ini tidak dikenakan biaya. Benteng yang dibangun Portugis ini merupakan bekas pusat pemerintahan dan tempat penyimpanan rempah-rempah. Di area sekitar benteng terdapat meriam-meriam berukuran raksasa sementara di bagian dalamnya dipamerkan peta perkembangan kota Ambon dari masa ke masa, serta peninggalan Belanda dan Portugis.

06. Taman Makam Persemakmuran
Ambon War Cemetery atau Taman Makam Persemakmuran memakamkan lebih dari 2.000 tentara sekutu yang gugur melawan Jepang selama Perang Dunia II. Kebanyakan yang dimakamkan di sini adalah tentara Australia, selain sebagian kecil tentara Inggris, Belanda, India, Kanada, Selandia Baru, Afrika Selatan. Di depan pemakaman terdapat Tugu Ambon untuk mengenang 289 tentara dan 171 penerbang dari kesatuan Australia yang diprediksi gugur di Maluku, Sulawesi, dan kepulauan sekitarnya, namun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Hingga kini pemakaman ini masih sering dikunjungi oleh keluarga para tentara, terutama setiap 10 September untuk memperingati penahanan Gull Force oleh Jepang pada 1941 hingga 1945 di Ambon, selain setiap 25 April pada ANZAC Day untuk memperingati warga Australia dan Selandia Baru yang gugur pada Perang Dunia I.

07. Taman Pattimura

Di taman ini terdapat patung pahlawan nasional Thomas Matulessy yang bergelar Kapitan (panglima perang), menggantikan patung lama yang telah dipindahkan ke kawasan Museum Siwalima. Patung baru ini dibuat dari perunggu setinggi tujuh meter dan berat empat ton. Dibuat oleh pematung Risdian Rachmadi dan dikerjakan di Bandung, detail monumen ini sengaja dibuat membentuk tanggal 15 Mei 1817 yang merupakan tanggal awal perlawanan Pattimura melawan Belanda. Di sini juga jenazah Pattimura diletakkan setelah dihukum gantung pada 1817. Tidak sulit untuk menemukan taman ini karena letaknya diapit Kantor Walikota Ambon, Gereja Kristen Protestan Maranatha, dan Gong Perdamaian Dunia di persimpangan Slamet Riyadi, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Pattimura. (*/WEO)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here