Majapahit Hotel Pamerkan Replika Masjid Cheng Hoo dari Cokelat

0
659
Food & Beverage Artist Wiwit Suryanto dan karyanta Masjid Cheng Hoo (Foto: http://berita.beritajatim.com)

SURABAYA, test.test.bisniswisata.co.id: Berbagai inovasi, kreatifitas sajian unik menarik menyemarakkan bulan suci Ramadhan yang dipersembahkan kalangan hotel. Di Surabaya, misalnya Majapahit Hotel Surabaya memamerkan replika Masjid Cheng Hoo yang terbuat dari cokelat.

Replika ini hasil kreasi Food & Beverage Artist Wiwit Suryanto yang dipajang di lobi hotel, sehingga bisa dilihat para tamu maupun wisatawan yang berlalu-lalang. Apalagi wangi cokelat menyeruak dan menggelitik hidung. Replika Masjid Cheng Hoo dari cokelat dipajang di lobi hingga Lebaran. Banyak tamu yang berfoto selfie di depannya.

Majapahit Hotel mengambil replika Masjid Cheng Hoo karena unik. Ini merupakan masjid muslim Tinghoa di Surabaya yang berarsitektur gaya Tiongkok. Nuansanya terasa kental dengan gaya ini. “Idenya, kami ingin membuat sesuatu yang beda. Masjid Cheng Hoo kan unik, punya ciri khas tersendiri yang tak dimiliki masjid-masjid lain di Surabaya,” papar Wiwit dalam keterangannya, Ahad (12/06/2016).

Dijelaskan, tinggi replika masjid ini 1,2 meter, panjang 1,65 meter dan lebar 1,22 meter. Rangka replika terbuat dari bahan styrofoam yang ringan namun kuat, sehingga mudah dibentuk menjadi masjid dengan lem khusus untuk menyatukan bagian-bagiannya.

Kemudian dilapisi cokelat 40 kilogram, terdiri dark chocolate 25 kilogram & white chocolate 15 kilogram. Di puncak replika terdapat tulisan Allah dari lempengan coklat.

Replika tersebut dikerjakan oleh dua orang selama 6 hari – 3 hari untuk membikin rangka dan 3 hari melapisi dengan cokelat setebal 4 milimeter. Benda ini harus dijaga dalam suhu sejuk agar tak mudah meleleh.

“Cokelat kan gampang meleleh kalau kena panas. Jadi suhu ruangan harus dijaga tetap sejuk. Yang agak sulit melapisi sudut-sudut dan ornamennya dengan coklat. Harus sabar dan telaten,” ujar Wiwit.

Di Surabaya, memang berdiri Masjid Cheng Hoo, yang terletak di Jalan Gading 2, Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya, Jawa Timur. Dibangun di atas tanah seluas 3.070 meter persegi, masjid ini diilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Dengan pintu terbuka tanpa daun pintu (penutup), masjid ini menandaskan simbol keterbukaan. Siapa pun boleh masuk dan menggunakan masjid ini untuk beribadah.

Berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama 11 x 9 meter, Masjid Cheng Hoo mampu menampung hingga 200 orang jemaah. Arsitekturnya menyerupai kelenteng. Ini juga satu-satunya masjid di dunia yang memakai nama Cheng Hoo.

Masjid ini dibangun atas gagasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur. Ini merupakan komunitas Islam Tionghoa Jatim yang jumlahnya 1.500 atau 500 untuk Kota Surabaya.

Penamaan Cheng Hoo untuk menghormati laksamana China, Cheng Hoo, yang berlayar membawa misi perdamaian pada masa antara tahun 1406-1409 Masehi. Ia dan armadanya juga sempat menginjakkan kaki di tanah Jawa. Bahkan, banyak cerita di masyarakat tentang Cheng Hoo, mulai dari Surabaya hingga Rembang. Dia juga dinyatakan pernah berhubungan dengan salah satu Walisongo, Sunan Bonang.

Sejak berdirinya masjid ini, sering dikunjungi warga non-Muslim dan sudah mengislamkan (mualaf) 300 orang sejak dibangun pada 2001. Permintaan mualaf menjadi salah satu fokus utama kami. Karena, hampir setiap bulan ada 2-25 mualaf di masjid ini.

Masjid ini dibangun atas gagasan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur. Ini merupakan komunitas Islam Tionghoa Jatim yang jumlahnya 1.500 atau 500 untuk Kota Surabaya. (endy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.