Lombok Tengah Krisis Hotel

0
3228

MATARAM, BISNISWISATA.CO.ID: Pariwisata di Lombok Tengah masih dihadapkan dengan sejumlah persoalan terutama minimnya keberadaan hotel dan kamar yang tersedia. Dilematis memang, di satu sisi ingin meningkatkam kunjungan dan lama menginap, tetapi di sisi lain daerah ini masih krisi kamar hotel.

“Saat ini jumlah hotel baru belasan hotel, sedangkan jumlah kamar yang tersedia tak mencapai 700 kamar. Padahal, tingkat kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancananegera ke Kabupaten Lombok Tengah setiap tahun terus meningkat,” papar
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah HL Putria.

Tingkat hunian hotel di Lombok Tengah pada 2014 mencapai 30 persen. Sedangkan wisatawan yang datang sebanyak 350 ribu orang, mengalami kenaikan 300 persen dari sebelumnya. “Kita menargetkan cuma 70 ribu orang, tetapi yang datang melebihi itu. Ini jelas berbanding terbalik, karena di saat kita ingin meningkatkan kunjungan dan lama menginap, di sisi lain masih kekurangan kamar hotel,” katanya.

Karena itu, pihaknya berharap dengan adanya rencana pembangunan hotel oleh “Indonesia Tourism Development Corporation” (ITDC) di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika Resort akan menambah tingkat hunian wisatawan tinggal di Lombok Tengah. “Kami berharap banyak agar ITDC segera merealisasikan pembangunan di KEK Mandalika Resort,” ujarnya.

Apalagi, katanya, saat ini geliat dan perkembangan pariwisata di daerah ini luar biasa setelah keberadaan Bandara Internasional Lombok (BIL) beroperasi sejak 2011. Ia menambahkan, untuk menopang potensi pariwisata yang dimiliki Lombok Tengah, pemerintah daerah telah membagi wilayah berdasarkan tiga zona kawasan, yakni utara, tengah dan selatan.

Di utara sebagai kawasan wisata berbasis agrowisata dan ekowisata. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis yang didukung kesuburan tanah serta wilayah yang berbukit. Di antara obyek wisata bagian utara adalah air terjun Benang Stokel, air terjun Benang Kelambu, desa budaya Mas-mas, Aik Bukak, Kebun HKM yang luasnya mencapai 2.500 hektaer, termasuk jalur pendakian Gunung Rinjani melalui pintu masuk Benang Stokel.

Selanjutnya, zona tengah sebagai sentra industri pariwisata dan pusat seni dan budaya, seperti desa tradisional Sukarara, Bleke, Kecamatan Janapria sebagai pusat kerajinan Ketak, Kecamatan Kopang sebagai pusat kuliner dan anyaman bambu. Sedangkan Desa Ungga sebagai tempat kerajinan perak, Desa Batu Jai sebagai lokasi hotel terapung dan pusat kuliner.

Ia menambahkan, untuk zona selatan memiliki daya tarik utama panjang garis pantai yang mencapai 99 kilometer, terbagi dalam tiga lokasi, yakni timur, tengah dan barat. Untuk wilayah timur meliputi Teluk Awang, Pantai Akar-akar, Bumbang, Tunak, Sereneng. Wilayah tengah meliputi Pantai Gerupuk, Buak, Serinting, Tanjung Aan, Seger, Kuta, Benjong.

“Untuk wilayah tengah ini sudah ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK). Sedangkan di wilayah barat meliputi Pantai Prabu, Are Guling, Tebuak, Mawun, Tampah, lancing, Mundicemati, Mari, dan Selong Belanak,” ucapnya seperti diunduh laman Antara, Kamis (12/2/2015).

Kawasan ini terkenal dengan ombaknya yang bagus sehingga disukai turis untuk berselancar, menyelam, dan “snorkeling”. Ia berharap perkembangan pariwisata di daerah ini terus menunjukkan tren positif, karena diyakini dalam waktu tidak lama lagi pariwisata Lombok Tengah akan menjadi daerah penyumbang terbesar bagi pariwisata Nusa Tenggara Barat. ***

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.