Lima Delegasi Tampil pada Pembukaan SIPA 2015

0
887
Tari Seribu Tangan yang memukau pada malam pembukaan SIPA 2015. (Foto. evi)

JAKARTA, Bisniswisata.co.id: Dengan mengangkat tema “Hidup di dalam Dunia Kontemporer (Live in The Contemporary World”, Solo International Performing Arts (SIPA) 2015 yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata bersama Pemerintah Kota Surakarta, SIPA Community, dan Yayasan Semarak Candra Kirana dibuka.

Event yang ketujuh kalinya ini berlangsung selama tiga malam berturut-turut pada 10 hingga 12 September 2015.

Pada malam pertama pembukaan tampil delegasi pertama, yakni dari Singapura yang dibawakan oleh Dance Horizon Troupe.
Kelompok tari ini menampilkan sajian “Latitudinal Conversations/Percakapan Lintang”.

Latitude dalam pertunjukan ini menarasikan ruang, rongga, kebebasan dari kurungan atau pengendalian.

Karya ini mencerminkan perwujudan, tempat, pemahaman dan metafora intrisik atau dibangun melalui tubuh praktik kreatif yang berbasis di dunia kontemporer moderen.

Dilanjutkan pertunjukan kedua, yakni dari Semarang yang menampilkan grup tari Phoenix Dance dari Semarang yang menyajikan “Tari Seribu Tangan/ Jien So”.

Tarian Seribu Tangan melambangkan Dewi Kwan Im yang memiliki seribu atau banyak tangan, yang diartikan bagi kita untuk selalu siap membantu sesama dalam keadaan apapun seperti yang dilakukan Dewi Kwan Im.

Sebagai tari ketiga disajikan tarian “Perempuan Jerami” yang dibawakan delegasi dari Bandung UPI, yakni Ayo Sunaryo. Pertunjukan ini menceritakan tentang perempuan perkasa yang ada di pedesaan.

Delegasi Banten yang dibawakan Kelompok Seni dari Pandeglang, Banten, yakni Bale Seni Ciwasiat menampilkan sajian “Dag-dig-dug”.

Pertunjukan yang menggunakan peralatan musik khas Banten, seperti bedug gebrak, tilingtit, dologdong, anting sela, rebana, dan Terebang Gede ini menggambarkan tradisi “ngadu bedug” pada setiap bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha di Banten.

Sebagai pertunjukan akhir dari malam pembukaan SIPA 2015, yakni delegasi dari Banyumas (Rianto Dewandaru). Kelompok tari ini menyajikan “Tari Amaterasu”. Amaterasu merupakan jalan yang menuntun ke arah pintu budaya Jepang.

Cahaya dari Amaterasu selalu menyinari dan menjaga masyarakat Jepang dan menerangi jalan dalam progres. Di Jawa terdapat Nyi Roro Kidul yang memegang ketentetuam dunia esoterik dari laut Hindia, yang keberadaannya dirasakan oleh seluruh masyarakat Jawa. (evi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here